Oleh: Tammasse Balla
Perjuangan tiga dasawarsa adalah angka yang jika ditulis di kertas tampak sederhana, namun jika dirasakan dalam dada, ia menjelma menjadi samudra. Di sana ada pasang surut, ada kapal yang berjuang melawan ombak, ada layar yang koyak, tetapi ada pula pelangi yang selalu setia singgah setelah hujan. Bersama istri tercinta, kami meniti jalan panjang itu bukan sebagai sepasang manusia sempurna, melainkan dua insan yang saling menopang, saling belajar, dan saling percaya bahwa Allah menulis takdir dengan tinta kasih.
Kami memulai segalanya dari nol, dari lantai sederhana di rumah RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali), dari meja belajar yang sering dipenuhi buku kuliah dan catatan dosen. Saat itu aku dosen muda yang masih meraba panggung akademik, sementara istriku duduk di bangku Fakultas Kedokteran Unhas dengan mimpi setinggi langit. Kekurangan materi bukanlah penghalang, ia justru menjadi guru sabar yang membuat kami mengerti arti berbagi dengan senyum tulus.
Hari-hari penuh keterbatasan itu tidak pernah mematahkan langkah, justru mengajarkan irama hidup yang lebih indah daripada musik. Anak pertama lahir saat kami masih berlari mengejar kebutuhan sehari-hari. Istriku dalam balutan putih Co-Ass, sementara aku belajar menjadi kurir ASI—menjaga agar air kehidupan itu tidak pernah putus untuk si kecil. Aku selalu bercanda, “Jangan susu sapi, nanti bodoh seperti sapi,” namun dalam hatiku ada doa yang terus bergemuruh: semoga anak ini tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak.
Doa itu terkabul. Si Sulung kini menapaki jalan panjang sebagai calon Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan. Aku melihatnya dengan mata yang basah, betapa bayi mungil yang dulu kuantar dengan botol kecil kini berdiri di ruang operasi, bersiap menyelamatkan dua nyawa sekaligus: ibu dan anak. Inilah hadiah terbesar dari perjuangan: menyaksikan benih doa tumbuh menjadi pohon nyata.
Tahun 2001 lahirlah si bungsu, pembawa cahaya kedua dalam keluarga. Takdir menuntunnya jauh, hingga ke kota London, menempuh jalan ilmu di negeri orang. Empat tahun menimba pengetahuan di sana membuatnya matang, tetapi tetap pulang dengan hati yang lembut. Kini ia sedang menjalani Co-Ass Fakultas Kedokteran Unhas. Ia sama kakaknya melanjutkan langkah ibunya sebagai dokter. Aku selalu percaya, setiap langkah mereka adalah lanjutan dari doa panjang yang tak pernah kami putuskan di sepertiga malam.
Dua anak ini adalah saksi hidup bahwa perjuangan tak pernah mengkhianati hasil. Mereka bukan sekadar anak, melainkan penerus api yang kami nyalakan dengan sabar. Dari ASI yang kuantar, dari air mata yang jatuh diam-diam, dari doa yang kadangkala terasa menggantung di langit, semuanya kini bermuara pada cita-cita yang lebih besar: membangun klinik untuk umat, tempat di mana kasih sayang berwujud pengabdian nyata.
Klinik itu kami beri nama INGGIT—diambil dari nama Iin dan Gita, dua malaikat kecil yang kini telah menjelma dokter. Tagline-nya sederhana: Peduli Sesama, Sehat Bersama. Namun di balik kata sederhana itu ada makna yang luas, bahwa kesehatan bukan milik orang kaya, bukan pula sekadar bisnis, melainkan ladang amal yang harus dirawat dengan ikhlas.
Kini INGGIT tumbuh pesat. Dua klinik di bilangan BTP Makassar menjadi rumah harapan bagi ribuan pasien, termasuk mereka yang menggantungkan hidup pada kartu BPJS. Jumlah kapitasi yang mencapai 25 ribu anggota hanyalah angka di kertas, tetapi bagi kami, ia adalah wajah-wajah penuh harap yang datang mengetuk pintu setiap hari. Kami hanya perantara; sesungguhnya Allah-lah yang memberi kesembuhan.
Arti sebuah perjuangan bukanlah sekadar sukses materi atau nama besar. Ia adalah perjalanan panjang dari titik nol menuju cahaya, dari peluh menuju doa, dari kesabaran menuju syukur. Ia adalah kesetiaan untuk terus berjalan meski kaki berdarah-darah, karena kami percaya setiap tetes keringat yang jatuh akan disulam Allah menjadi bunga-bunga kehidupan. Kini, ketika menoleh ke belakang, aku hanya bisa berkata: segala lelah ini telah berubah menjadi indah.
Shangri La Jakarta, 20 September 2025
Pk. 05.53 WITA
