Setiap organisasi memiliki sejarahnya sendiri, dan di dalamnya ada tokoh yang dianggap penting. Begitu pula organisasi keislaman, seperti Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Contoh LPTQ Kabupaten Paser Kalimantan Timur, yang dalam waktu sekitar setengah abad berjuang dalam syiar Islam melalui lomba Seni Baca Al-Quran di Kabupaten Paser.

Perjalanan LPTQ di Paser ini tak terlepas dari tokoh-tokoh penting yang membersamainya. Tumbuh dan berkembang bersama. Ada yang datang dan pergi, namun ada juga yang bertahan lama mencetak sejarah. Salah satu tokoh yang memberi banyak warna pada LPTQ Paser adalah Drs H Syarifuddin Muhsin. Seorang pensiunan pegawai Kementerian Agama Kabupaten Paser yang pada 2026 berusia 79 tahun.

Di lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang dilaksanakan oleh LPTQ, Syarifuddin Muhsin menghabiskan waktunya cukup lama. Bisa dipastikan, dalam kurun waktu 30-40 tahun terakhir, siapapun yang pernah mampir di MTQ Paser pasti kenal dengannya. 

Tokoh yang juga pernah jadi anggota DPRD Paser pada 1970an ini adalah anggota Dewan Hakim di cabang Syarhil Qur’an. Ini adalah cabang lomba yang menampilkan tiga orang menyajikan kandungan Al-Qur’an melalui tiga komponen yakni pembacaan ayat, puitisasi terjemahan dan pidato dalam kaitan ayat dengan kehidupan sehari-hari. 

Sempat juga jadi hakim di cabang lomba lain. Salah satunya, pada cabang Menulis Makalah Al-Qur’an di awal kemunculannya, yaitu 2013. Karena ini cabang lomba yang baru, maka LPTQ Paser hanya bisa menetepkan 2 hakim tetap. Perlu 1 lagi agar memenuhi syarat. Terpilihlah Syarifuddin Muhsin.

Dia tetap sebagai hakim di cabang Syarhil sekaligus merangkap jadi hakim di cabang Menulis Makalah selama dua tahun pertama. Dianggapnya cabang baru ini menguras energi, sejak 2015 dia memilih fokus di cabang Syarhil dan menyerahkan cabang Menulis Makalah kepada orang lain, yang juga merangkap.

Nah rupanya MTQ ke-50 tingkat Kabupaten Paser yang berlangsung di Kecamatan Long Kali pada 22-27 Juni 2026 lalu adalah yang terakhir baginya. Setelah menyerahkan nilai final Syarhil kepada panitera, dia langsung pulang ke rumahnya dan tidak menunggu penutupan keesokan harinya. Alasannya, kesehatan.

Sejak itu kesehatannya terus menurun, sempat dirawat di ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah (ICU RSUD) Panglima Sebaya Tanah Grogot, lalu menghembuskan napas terakhir pada Senin, 13 Juli 2026 pada pukul 10.10 Wita.

Pada hari terakhirnya di pemondokan Dewan Hakim, di hari final lomba, penulis yang juga anggota Dewan Hakim cabang Menulis Makalah Al-Quran mendekatinya saat sarapan pagi. Iseng-iseng dengan nada bercanda menanyakan kesediaannya untuk menjadi hakim kehormatan pada final makalah yang disajikan dalam bentuk presentasi.

Dengan gaya yang humoris dan santai, tertawa lalu mengucapkan terima kasih atas tawaran yang dianggapnya penghormatan. Namun dalam tutur kata selanjutnya keluar kalimat menolak secara halus, dan menyerahkan kepada Dewan Hakim yang sudah ada. Itu adalah sarapan terakhir penulis bersama, dan juga percakapan terakhir.

Saat dirinya terbaring lemah di ruang ICU, penulis sempat datang dengan maksud menjenguk. Namun dilarang masuk ke dalam ruangan itu karena waktunya tidak tepat. Petugas sempat menyarankan waktu untuk datang, namun tidak sempat terpenuhi.

Informasi dan foto tentang perkembangan kesehatannya banyak tersebar di banyak media sosial selama beberapa hari, menunjukkan tubuh hakim senior MTQ Paser ini terbaring lemah, dengan selang infus dan jarum suntik serta beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.

Doa untuk kesembuhan mengalir terus menerus di media sosial, hingga muncul berita kepulangannya untuk selamanya. Seketika berita ini memenuhi berbagai kanal informasi  di Kabupaten Paser. Grup komunitas sosial, jemaah masjid, pemerintahan, organisasi dan pensiunan, dibanjiri dengan beritanya. Rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman Tana Paser seketika dipenuhi banyak orang, karena jenazah segera dibawa ke Masjid Syuhada Tana Paser untuk disalatkan setelah salat asar.

Rupanya Allah Swt memilih menghilangkan rasa sakit itu dengan cara-Nya sendiri. Selamat jalan pak Syarifuddin Muksin. Semoga Allah Swt mengampuni segala kesalahan dan kekhilafan Bapak. Allahummag firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Tana Paser, 13 Juli 2026

(Visited 27 times, 27 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.