Bencana datang tak pandang bulu. Dampaknya pun bisa mengubah jalan hidup seseorang, atau suatu komunitas. Contoh peradaban kehidupan sosial budaya yang dibangun masyarakat ada Kampung Sade, Nusa Tenggara Barat, (NTB) secara turun-temurun, berabad-abad lamanya, musnah dalam sekejap. Rumah-rumah yang menjadi saksi perjalanan sejarah panjang, kini tinggal puing setelah dilalap si jago merah, Sabtu (22/8/2026).

Katanya, kampung wisata ini sudah ada pada abad ke-14. Ada juga yang menyebutnya sudah ada sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Artinya, jutaan cerita telah terukir dan terpatri di tempat ini. Ribuan penelitian di segala tingkatan juga mewarnai perjalanannya. Dalam dan luar negeri.

Ada beberapa catatan yang bisa mengemuka di sini, dalam beberapa kunjungan ke tempat bersejarah itu. Kunjungan pertama, sekitar tahun 2015. Seorang lelaki paruh baya membawa berkeliling, hingga tiba pada satu tempat yang belakangan ketahuan bahwa itu tempat ibunya, seorang perempuan berusia sekitar 65 tahun.

Ibu itu adalah pengrajin tenun yang seumur hidupnya berada di situ mengerjakan pekerjaan yang sama, menenun. Dia membuat tenun sendiri lalu menjualnya. Katanya, keterampilan itu berasal dari ibunya. Ibunya juga mendapatkan warisan itu dari ibunya, dan beberapa tingkat ke atas. Kata perempuan itu, dia tidak bisa mengingat lagi sudah berapa generasi. Yang dia tahu, waktu kecil dia habiskan di tempat itu, dan nenek buyutnya melakukan pekerjaan persis apa yang dia lakukan saat ini.

Kunjungan kedua pada tahun 2020, di awal-awal berita Covid-19 mulai muncul di luar negeri. Seorang teman asli Sasak yang penempatannya di Pemerintah Kabupaten Paser, mengajak ke rumah orang tuanya. Menempuh pendidikan tinggi selama bertahun-tahun di daerah lain, lalu mendapat mendapat temlpat tugas di daerah berbeda lagi, ternyata tidak membuat dirinya lupa dengan asal-usulnya. 

Bahkan di rumahnya, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kampung wisata, dia punya alat tenun tua tapi terawat dengan cukup baik. Dia juga sempat memperlihatkan kepiawaiannya menenun, membantu orang tuanya yang berprofesi sama.

Dia bercerita banyak tentang tradisi keluarganya. Dengan bangga menyebut masih mematuhi semua kebiasaan yang turun-temurun di lingkungannya. Kecuali satu, katanya sambil tertawa. Dia tidak akan mengikuti tradisi kawin culik. Beberapa tahun setelahnya, teman ini minta pindah tugas ke salah satu kabupaten di NTB. Saat ini, teman tersebut sudah berkeluarga dengan orang luar NTB dan memiliki satu orang anak.

Lalu pada kunjungan ketiga, awal 2024, penulis kembali berkeliling kampung wisata. Di suatu tempat, saat bertemu dengan beberapa tokoh msayarakat, sambil menikmati hangatnya kopi beras, mengalirlah cerita dari rumah-rumah tua itu. Hampir semua rumah dibuat dari tanah liat dan lantainya dilumuri kotoran kerbau. Itu adalah bangunan-bangunan yang tahan gempa.

  Ternyata api yang kemudian meluluhlantakkan ratusan bangunan itu. Kondisi rumah yang atapnya dari rangka bambu dan alang-alang (Imperata cylindrica), serta lokasi yang berdekatan satu sama lain, membuat api lebih mudah menghanguskan 129 rumah beserta isinya. Kini bangunan itu tinggal puing, menyisakan rasa trauma mendalam penghuninya. Kehilangan tradisi dan budaya yang telah berurat dan berakar jauh lebih menyakitkan dari pada kehilangan harta benda.

Bisa saja kita berpikir bahwa ini mungkin cara untuk merevitalisasi kampung wisata itu. Untuk mengubah hal-hal yang selama ini tidak bisa berubah karena berada di dalam ranah mempertahankan tradisi. Kita bisa optimistis bahwa Sade akan muncul lagi dalam wajah baru. Rumah adat berwajah milenial. Yang mengikuti majunya zaman.

Tentu saja sehebat apapun negara membangun kembali, cerita tak akan sama lagi. Meski demikian, upaya untuk pemilihan dan pembangunan kembali harus mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh. Sade adalah salah satu ikon Indonesia yang namanya sudah melegenda di mancanegara. Produk-produknya sudah ke mana-mana, dan wisatawan yang datang ke Lombok tidak hanya terpesona dengan keindahan Senggigi dan sekitarnya, namun juga membawa oleh-oleh dari Sade.

Kebakaran yang melanda bukan cuma tanggung jawab masyarakat terdampak, atau Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Provinsi NTB. Karena itu mereka tidak bisa dibiarkan untuk menanggungnya sendiri. Negara harus hadir untuk memastikan penduduknya pulih secara moril dan materil.

Sade harus bisa bangkit lagi. Bencana memang sering datang tiba-tiba. Dan bencana kebakaran ini harusnya bisa membuktikan masyarakat adat Sade bangkit dengan cepat.

Paser, Kalimantan Timur, 25 Juli 2026

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.