Suasana musala kantor siang ini tiba-tiba heboh. Perkaranya sederhana sih, soal keterlambatan mereka yang biasa jadi imam salat duhur. Waktu iqamah sudah tiba, penanda elektronik sudah berbunyi, lampunya telah berkedip, muazin ragu melantunkan iqamah. Siapa yang akan jadi imam? Gumamnya lirih. Karena waktunya berakhir, muazin memilih melantunkan iqamah dan membiarkan soal siapa yang akan jadi imam dipikirkan bersama oleh jemaah.

Selesai iqamah, jemaah tegang bersama, tak ada yang beranjak dari posisi. Lengang, menanti siapa gerangan yang akan siap jadi imam. Tiba-tiba, dari arah sudut kiri belakang musala, seorang jamah senior, pak Ikhlas angkat suara, “Pilih pak Sabar saja, cepat.” Segera jamaah mengangkat kor menyilakan pak Sabar untuk maju jadi imam.

Jadilah pak Sabar memimpin salat. Seperti kata pak Ikhlas, salat berlangsung lebih cepat dibanding bila orang lain yang jadi imam. Begitu salam dipungkaskan, pak Ikhlas kembali nyeletuk, “Tuh, kan lebih cepat. Ini lebih baik agar kita tak terlambat untuk mengisi check lock, dan tambahan penghasilan tidak dipotong.” Ujaran pak Ikhlas kembali disambut kor oleh jamaah. Semua terbahak berjamaah lalu bergegas menuju mesin check lock.

(Visited 61 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

2 thoughts on “Pilih Yang Cepat”
    1. Mulai Senin kemarin, Kak. Ada edarannya Pak Sekda per 17 Desember 2021, berlaku mulai 1 Januari 2022, finger print diberlakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.