Banyak komunitas menulis yang terdapat di media sosial. Kulihat anggotanya pun mencapai ratusan, bahkan ada juga yang mencapai ribuan. Aku pun tertarik dan bergabung di salah satu komunitas menulis tersebut. Pernah sekali aku memposting tulisanku. Hanya sebatas posting, kemudian di komentari oleh para pembaca.

Ada yang bilang kalau tulisanku biasa saja. Ada yang bilang kalau tulisan yang aku tulis kisahnya mirip kisah salah satu pembaca. Ada juga yang bilang kalau tulisanku terlalu monoton, tidak ada gregetnya.

Aku sadar dan maklum, aku bukanlah penulis andal. Aku tidak bisa merangkai kata-kata yang indah, hanya kosakata yang terbatas yang bisa aku goreskan. Aku yang masih dalam tahap belajar pun tidak terlalu memikirkan kritikan para pembaca, malah aku merasa senang. Aku anggap itu adalah cambuk agar ke depannya lebih baik lagi.

Di media sosial, banyak kutemukan para guru, para senior yang tentu saja adalah seorang penulis yang sudah memiliki berbagai macam karya dan pastinya berkompeten di bidangnya. Aku coba berkomunikasi dengan beberapa dari mereka, menanyakan persyaratan apa yang harus dipenuhi agar aku bisa belajar menulis darinya. Dari sekian banyak yang aku datangi, ternyata tidak satu pun yang aku setujui.

Beberapa kali pertemuan harus bayar sekian K,belum lagi kalau berniat untuk membukukan sebuah karya menjadi sebuah buku, bisa mendekati jutaan. Aku yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tentu merasa keberatan melihat nominal yang harus dikeluarkan demi belajar menulis.

Aku berpikir, belajar menulis membutuhkan waktu yang lama. Menjadi penulis tidak bisa dilakukan secara instan. Banyak hal yang harus diperhatikan. Apalagi aku yang masih belajar “merangkak”, tentu sangat membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berapa banyak biaya yang akan aku keluarkan untuk membayar jasa belajar menulis tersebut.

Dulu, sewaktu masih berprofesi sebagai “kungyan”di Hong Kong, aku pernah mencicipi manisnya menulis. Tetapi itu pun tidak berlangsung lama karena aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Setelah balik ke kampung, aku sudah disibukkan oleh berbagai macam urusan pekerjaan rumah tangga beserta segala tetek bengeknya. Sehari-hari selain mengurus rumah tangga, kegiatan yang dapat aku lakukan adalah berkerja di sawah dan ladang, membantu mencari rumput untuk pakan ternak juga.

Aku jarang sekali bepergian ke mana-mana. Kesibukan di rumah sudah banyak menyita waktu. Hanya keperluan penting dan mendesak saja yang memaksaku untuk bepergian.

Karena lebih banyak di rumah, kegiatan yang aku lakukan pun hanya sebatas itu itu saja. Rasa jenuh dan bosan sering kali datang merayap. Bingung mau ngapain, apa yang bisa aku lakukan agar aku tidak merasa kesepian. Setidaknya ada kegiatan atau apa saja yang bisa membuat pikiran lebih segar.

Kembali menulis sering terbesit di pikiran, tetapi kendalanya ya itu, biaya yang tidak sedikit adalah salah satu alasan utama aku mengurungkan niatku.

Suatu waktu aku bilang ke saudaraku yang masih bekerja di Hong Kong, minta bantuan siapa tahu dia punya kenalan yang bersedia mengajakku untuk ikut bergabung dalam grup menulis. Dan tidak menunggu lama, aku pun dikasih nomor WA Teh Ghinda Aprilia. Di situlah terjadi percakapan penting antara aku dan dia, hihi…

Kemudian tibalah saatnya, 9 Februari 2022 menjadi saksi dimana aku bergabung dalam sebuah komunitas menulis dengan nama Bengkel Narasi. Awalnya aku merasa malu dan minder. Aku tidak menyangka ternyata di dalamnya adalah para senior dan guru-guru hebat yang luar biasa.

Aku bingung mau menulis tentang apa. Aku malu kalau tulisanku yang belumlah seberapa baik dibaca oleh mereka. Aku pun beranikan diri, pura-pura pede dan siap untuk menerima segala kritikan.

Aku tulis pengalamanku selama bekerja di Hong Kong. “Selamat Tinggal, Beny!” adalah tulisan perdanaku di Bengkel Narasi.Ternyata tidak ada kritikan sama sekali setelah tulisan perdanaku diposting. Sungguh luar biasa memang di BN, tidak pernah ada kritikan yang membuat down para pemula seperti aku.

Ternyata di bengkel narasi, selain aku bisa belajar menulis, aku juga mendapatkan wejangan dan kata-kata mutiara nan indah dari para guru dan para anggota Bengkel Narasi lainnya. Saling men-support satu sama lain, inilah yang membuatku terharu.

Aku sangat bersyukur dan beruntung bisa bergabung dan menjadi keluarga besar di Bengkel Narasi ini. Aku memang tidak mengenal mereka sebelumnya, bertemu dan bertatap muka pun belum pernah juga. Akan tetapi, kekuatan sebuah ketulusan dan keikhlasan menyatukan kami tanpa ada sekat yang membedakan mana yang senior dan mana yang junior. Di sini kami saling belajar bersama.

Tidak ada kata yang pas selain ucapan terima kasih yang teramat dalam teruntuk para senior, guru, dan para anggota bengkel narasi lainnya. Terima kasih sudah bersedia memberikan kesempatan,ruang dan waktu.

Di usiamu yang hari ini 23 April 2022 genap satu tahun ,aku selalu berdoa semoga Bengkel Narasi tetap jaya, terus berkembang merangkul seluruh penjuru Nusantara, bahkan dunia. Teruslah bersinar memberikan cahaya yang benderang, cahaya yang tidak akan lelah menerangi jiwa-jiwa yang haus akan ilmu dan pencerahan.

Akhir kata, happy anniversary Bengkel Narasi. Doaku selalu menyertaimu.

Semangat semangat semangat.

(Visited 58 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sarmini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.