Buku : Mati Ketawa Ala JK (Lebih Cepat Lebih Baik)
Penulis : Alif We Onggang
Penerbit : Penerbit Ajuara
Tempat : Jakarta
Tahun 2009
Jumlah Halaman : 157
ISBN : 978-979-15329-4-5
Pada tahun 1980-an terbit buku Mati Ketawa Ala Rusia, yang laris manis di seluruh dunia termasuk di Indonesia yang telah diterjemahkan. Buku ini berisi satire kehidupan masyarakat Uni Sovyet waktu itu yang tertekan dibawah pemerintahan rezim komunis. Masyarakat mengeluarkan unek uneknya dalam bentuk sindiran, kritik, keluhan, atau protes namun dengan cara yang lebih jenaka dan menghibur. Buku inilah yang mengilhami penyusunan buku Mati Ketawa Ala JK ini, tentu dengan penyesuaian dengan suasana pembaca di Indonesia.
Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla dikenal sebagai tokoh yang ketika mengeluarkan pernyataan pernyataan biasanya spontan, tanpa basa basi, santai, jenaka, kadang tidak terlalu teratur namun kadang juga telak. Beliau lebih sering berpidato tanpa teks, meskipun teks pidatonya telah disiapkan oleh Protokol Wakil Presiden. Jusuf Kalla merasa lebih komunikatif ketika berpidato tanpa teks. Bahkan kata beliau, pidato tanpa teks lebih mampu mengenai sasaran dibanding yang menggunakan teks.
Kutipan kutipan dari ucapan, pernyataan, pidato, atau tanggapan dari Jusuf Kalla saat menghadapi awak media dan pada beberapa kesempatan inilah yang dikumpulkan dan disusun dalam bentuk buku kecil.
Membaca buku ini, membuat kita tersenyum sendiri, kagum dan bisa juga merenung. 2 peristiwa yang ada dikisahkan dalam buku ini sebagai berikut :
Mobil Anti Batu
Mobil Wapres dengan plat No. 2 RI dilempari batu oleh seseorang di jalan raya sepulang dari sebuah acara. JK kaget dan sesaat dan dengan santainya mengatakan, “Peluru pun tidak tembus apalagi kalau cuma batu.” Lelaki pelempar batu itu kemudian dibekuk oleh pengawal wakil presiden. (Kompas 5-09)
GAM Tak Berani Kasar
JK mengaku memiliki strategi khusus dalam perundingannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kenapa JK meminta Menteri Hukum dan Ham (waktu itu) Hamid Awaluddin untuk menjadi ketua Juru Runding RI, alasan JK, sebab Hamid adalah orang Bugis. Orang Aceh, tutur JK, tidak berani bicara kasar kepada orang Bugis.
Belakangan, sinyalemen JK terbukti. Perkaranya, Perdana Menteri GAM Malik Mahmud bilang kepada Hamid, “saya tak berani bicara kasar, kalau saya kasar, nanti dibalas oleh orang Bugis” (Tempo 2006)
Ada lebih seratus penggalan kisah dalam kehidupan JK selama menjadi pejabat Negara, baik ketika menjadi menteri di era Abdurrahman Wahid, maupun di era Megawati Sukarno Putri, maupun saat menjadi Wakil Presiden pada masa pemerintahan Susilo Bambang yudhoyono.
Sangat menarik dibaca.

