Setiap manusia yang berakal sehat pasti tahu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang disampaikan dalam Al-Quran, sebagai berikut :
يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَار ٣٩
“…..sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS : Gafir [40] : 39),
Di ayat lain Allah menegaskan lagi di dalam al-Quran bahwa kehidupan ini akan binasa, seperti ayat berikut :
كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦
“Semua yang ada di bumi akan binasa (akan berakhir).” (QS : Ar-Rahman : 26)
Di ayat yang berbeda juga mengabarkan bahwa dalam Al-Quran telah menggambarkan dunia sebagai kesenangan yang palsu, sebagai yang disampaikan berikut :
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamuserta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akherat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”(QS : Al-Hadid {57} : 20)
Di ketiga ayat tersebut di atas sudah cukup menggambarkan bahwa dunia hanyalah kehidupan sementara yang semuanya akan binasa, kehidupan dunia merupakan permainan dan senda gurauan yang dapat menipu karena penuh kepalsuan sekiranya kita lengah, yang diibaratkan sebagai fatamorgana. Masih banyak ayat yang menggambarkan kehidupan dunia sebagai kehdupan sementara. Oleh sebab itu, selagi masih diberi kekuatan dan kesempatan, berbuat baiklah utnuk mengumpulkan bekal menuju pada kehidupan selanjutnya pada kehidupan yang abadi. Disamping itu, Allah juga mengingatkan pada hambanya sebgaimana yang disampaikan dalam Al-Quran agar dalam menjalani kehidupannya di dunia janganlah menjadi orang yang merugi dengan bersumpah, sebagaimana yang dinyatakan berikut:
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dakam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh/kebaikan, dan saling menasehatidalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS : Al-Asr {103} : 1-3)
Betapa banyak diantara kita berada dalam kerugian karena teramat l alai dan terpesona dengan kepalsuan dunia, padahal tujuan Allah mnciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana yang disampaikan dalam All-Quran bahwa :
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk berbadah kepada-Ku.”QS : Az Zariyat {51} : 56)
Namun dalam melaaksanakan ibadah tentu Allah sudah memberikan rambu-rambu apa yang seharusnya manusia lakukan dan bagaimana melkukannya agar tidak terjebak pada kepalsuan dan agar selalu berada di jalan yang lurus. Maka Allahpun memberikan piihan dengan memberikan potensi akal yang mdnjadi kelebihan manusia diantara makhluk Allah yang lainnya dan jiwa yang diberikan-Nya sebagai kesempurnaan manusia, sebagaimana Al-Quran sampaikan seperti berikut :
وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
“Demi jiwa dan kesempuranaannya. Allah mengilhamkan jiwa yang buruk dan jiwa yang baik. Maka berntunglah bagi orang yang mensucika jiwanya. Dan merugilah bagi orang yang mengotori jiwanya.” (QS : ASy-Syams {91} : 7-10)
Allahpun mengingatkan bahwa tidak ada paksaan di dalam menjalankan perintah –Nya, itu tergantung pada pribadi masing-masing.
لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ
“Tidak ada paksaan dalam agama…” (QS : Al-Baqarah {2) : 256 )
Setiap manusia telah diberikan potensi dengan segala kesempurnaan yang luar biasa, terpulang pada diri setiap manusi itu sendiri. Sejalan dengan kebebasan itu tersebut, Nabi Muhammad mengingatkan agar ketika manusia menjalani kehidupannya, kiranya menyeimbangkan antara dunianya dan akhiratnya, sebagaimana yang sabda beliau :
“Kejarlah duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan kejarlah akheratmu sekan-akan engkau akan mati besok.” (HR : Muslim)
Dengan potensi yang luar biasa yang Allah berikan pada manusia dengan kebebasan melakukan ibadah tanpa paksaan, bahkan telah diberikan rambu-rambu dianjurkan untuk menyeimbangkan kehidupannya di dunia dengan mempersiapkan dirinya menuju kehidupan selanjutanya di akherat yang abadi dengan hanya tujuannya semata-mata beribadah kepada Allah SWT bukan karena yang lain. Agar semua yang Allah SWT perintahkan dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati tanpa keluhan dan penyesalan, maka hanya denagan sabar dan syukurlah menjadi penawar, maka manusia dapat melewatinya, karena dunia ini hanyalah tempat Allah menguji hambanya siapa yang terbaik amalnya.

Bismillah. MashaAllah Tabarakallah artikelnya. Semoga Allah azza wa Jalla menuntun kita di jalan yang lurus dan memudahkan kita menghadapi fitnah dunia. Barakallahu fiikum