Oleh: Gugun Gunardi*

Pengantar:

Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya dan disusun secara sistematik berdasarkan metode ilmiah sedangkan pengetahuan adalah informasi akan suatu kejadian yang belum teruji kebenarannya (Australian academic of science).

Mengenai aspek kebudayaan, Profesor Doktor koentjaraningrat memberikan keterangannya sebagai berikut; bahwa aspek kebudayaan dibagi atas 7 aspek, antara lain: ( 1) bahasa,(2) kesenian, (3) peralatan hidup, (4) mata pencaharian, (5) pengetahuan, (6) organisasi sosial, dan (7) kepercayaan atau religi.

Bersangkut dengan susunan aspek kebudayaan di atas, Profesor Koentjaraningrat menyusun aspek tersebut bukan tanpa alasan. Bahwa bahasa ditempatkan pada posisi pertama di dalam aspek, kebudayaan karena bahasa merupakan aspek kebudayaan yang mudah berubah dan cepat menerima pengaruh dari bahasa lainnya. Sedangkan religi atau kepercayaan, ditempatkan pada posisi terakhir atau ketujuh, dengan alasan bahwa religi merupakan aspek kebudayaan yang tidak mudah berubah dan terpengaruh oleh religi atau agama lain yang datang berikutnya.

Hal tersebut dapat dibuktikan, bahwa sampai saat ini masih ditemukan beberapa kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tradisi di Indonesia, dengan tata cara upacara keagamaan yang masih dipertahankan. Hal ini membuktikan, bahwa religi atau kepercayaan produk budaya setempat masih ada yang bertahan hingga saat ini, meskipun beberapa agama besar sudah masuk ke dalam lingkungan masyarakat Indonesia.

Begitu pula dengan pengetahuan tradisi yang berkembang di Indonesia. Sampai saat ini masih ada yang bertahan, terutama yang bersangkut dengan: pengobatan, pelestarian alam, pertanian, peralatan pertanian dan sebagainya. Sampai saat ini pengetahuan-pengetahuan tradisional tersebut masih bertahan, dan masih digunakan oleh masyarakat adat yang memeliharanya serta mengembangkannya. Pengetahuan tradisional tersebut pun banyak yang digunakan di dalam lingkungan modern saat ini, terutama pengetahuan tradisional yang bersangkut dengan pengobatan.

Pembahasan:

Pada tahun 1969, ketika penulis masih duduk di kelas 6 SD, penulis sempat belajar seni budaya Pencak Sunda kepada seorang guru pencak, bernama Kang Ade Suhana. Selama satu tahun, dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1970, banyak jurus yang penulis dapatkan dari beliau, termasuk ibing penca tepak dua, paleres, tepak tilu, padungdung. Yang teristimewa, penulis dipercaya untuk menguasai ilmu demo rangkain jurus (dalam karate sama dengan Kata), berpasangan dengan Cucu Sutisna, yang masih murid kepercayaan beliau.

Dalam kesempatan senggan, Guruku mengajarkan olah pernapasan untuk pengobatan, yaitu dengan cara menarik napas panjang melalui hidung, dan mengeluarkannya pelan-pelan melalui mulut, hingga sampai 30 repetisi.

Saat itu, penulis tidak terlalu konsen pada pelajaran olah napas tersebut. Penulis lebih tertarik pada pelajaran ibing silat, maklum saat itu pencak silat sedang trend di Jawa Barat. Hampir di setiap peringatan hari-hari nasional, terutama pada peringatan Hari Kebangkitan Bangsa dan Peringatan Hari Proklamasi, selalu dipintonkeun ibing dan demo pencak silat. Pencak tunggal maupun pencak massal. Jadi, pelajaran oleh pernapasan kurang penulis perhatikan.

Pada tahun 2006, di Kota Bandung, banyak orang yang belajar Meditasi Reiki, yang dikembangkan oleh seorang Master Reiki, bernama Dr. Ricky Suharlin. Demi menjawab rasa penasaran penulis,  maka penulis pun mengikuti pelatihan Meditasi Reiki, bersama dengan istri. Penulis mengikuti pelatihan tersebut hanya sampai level tiga (3), tidak sampai di tingkat Linchi yang harus diikuti di Surabaya.

Sama seperti menerima pembelajaran olah pernapasan dari guru pencak, di dalam meditasi Reiki pun, yang utama dilaksanakan adalah olah pernapasan juga, yaitu menghirup napas melalui hidung dengan pelan-pelan, dan mengeluarkannya melalui mulut dengan pelan-pelan pula. Ada yang beda pada olah pernapasan Reiki, yaitu menghembuskan napas bisa dilakukan lewat hidung lagi. Hanya, jika menghembuskan napas lewat hidung, ujung lidah harus ditempel di langit-langit atas.

Tidak jauh berbeda dengan pembelajaran olah pernapasan dari guru pencak,  pembelajaran olah pernapasan Reiki pun lewat begitu saja setelah proses pelatihan berakhir. Walaupun sesekali dilakukan, sekadar untuk tidak lupa urutan praktek olah pernapasan tersebut.

Sampailah di tahun 2011, saat penulis harus mendampingi para mahasiswa melaksanakan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di Surade – Jampang Kulon. Saat di mana penulis mengalami sakit di kantung hingga susah berjalan.

Rekan-rekan dosen sudah berusaha memberikan pertolongan, hingga mendapatkan pengobatan di PUSKESMAS setempat, dan mendapatkan obat yang tersedia. Hingga memasuki waktu salat isya, sakitnya semakin menjadi-jadi.

Dalam kondisi yang tidak nyaman karena rasa sakit yang luar biasa di kantung kemih, penulis ingat akan pembelajaran olah pernapasan yang diajarkan oleh dua orang guru terdahulu, yaitu guru pencak dan guru meditasi Reiki.

Lewat waktu salat isya, penulis coba-coba mempraktikkan pengobatan dengan olah pernapasan tersebut. Penulis duduk bersila di lantai tanpa alas, lalu kedua tangan diletakkan di paha kanan dan kiri, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Ujung lidah ditempel di langit-langit atas, lalu pelan-pelan menarik napas melalui hidung, dan dikeluarkan lagi lewat hidung.

Pada hitungan ke 30, belum terasa apa-apa. Penulis terus melakukan olah napas tersebut hingga memasuki hitungan ke 70, rasa sakit mulai berkurang dengan perlahan. Penulis masih terus mempraktikkan olah pernapasan, hingga memasuki hitungan ke 101, rasa sakit di kantung kemih, aneh bin ajaib betul-betul hilang. Penulis betul-betul sangat surprise dengan kondisi saat itu. Hingga malam itu penulis bisa tertidur dengan pulas.

Keesokan harinya, saat sedang melaksanakan salat subuh, penulis merasa ingin buang air kecil yang sangat mendesak. Selesai salat subuh, bergegas ke toilet. Saat keluar urine…, tak tak tak tiga benda keluar dari lubang kencing. Ketika dilihat mendekat, ada tiga batu kerikil sebesar  biji pepaya.

Subhanallah, olah pernapasan yang penulis praktikkan telah mengeluarkan kencing tanpa melalui proses operasi.

Penutup:

Pengetahuan tradisional olah pernapasan, Alhamdulillah bisa menolong sakit kencing batu penulis. Saat penulis mengalami rasa sakit, dan sedang jauh berada di pedesaan, yang sulit mencari pengobatan di rumah sakit. Namun, penyembuhan alternatif olah pernapasan oleh diri sendiri, dapat mencoba menyembuhkan sendiri.

Indonesia banyak memiliki pengetahuan pengobatan alternatif, tinggal bagaimana mengemas dan mengawasinya agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

*Dr. Gugun Gunardi, Lektor Kepala, Dosen Tetap pada Universitas Al Ghifari.

(Visited 176 times, 1 visits today)
One thought on “Berkawan dengan Pengetahuan Tradisional Olah Pernapasan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.