Aku belajar membaca, menulis, dan berhitung bukan dari bangku sekolah yang rapi, melainkan dari terminal, pasar, dan jalanan. Dari tempat-tempat itulah aku memahami bahwa hidup tidak hanya tentang huruf dan angka, tetapi juga tentang keringat yang dikristalisasi menjadi cara membaca situasi. Di sanalah aku belajar menuliskan rasa sedih, marah, dan tawa ketika cinta harus tergadaikan oleh harta, tahta, dan wanita.

Aku juga belajar menghitung rumitnya tumpang-tindih keinginan untuk merdeka dari campur tangan para lintah darat. Hidup di terminal, pasar, dan jalanan memang keras dan semrawut, tapi di tengah itu semua, aku menemukan tangan-tangan jujur yang tak pernah tersentuh langsung oleh kotoran tangan para koruptor.

Sudah lebih dari dua puluh tahun aku tidak menginjakkan kaki di terminal. Meski waktu telah pergi begitu jauh, kenangan tentang tempat itu tetap melekat. Terminal adalah ruang hidup bagi ekonomi menengah ke bawah, para pedagang kelontong, calo, copet, preman, sopir, sampai pekerja serabutan bergumul di satu tempat yang sama. Ada gesekan, ada siasat, ada risiko, tetapi ada pula sesuatu yang tak pernah hilang, yakni persaudaraan yang lahir dari kerasnya kehidupan.

Dulu, ketika otakku masih tumpul dan pendidikanku belum terlalu tinggi, aku justru menemukan pelajaran etika dan solidaritas di sana. Jika satu orang tersakiti, tanpa perlu aba-aba, yang lain akan mengulurkan tangan. Mereka tidak punya banyak, tapi apa yang sedikit itu selalu ingin dibagi. Terminal mengajariku bahwa sekacau apa pun hidup, manusia tetap bisa saling menjaga.

Pasar tidak jauh berbeda. Licik, licin, dan pelik adalah wajah lain dari tempat orang-orang mencari cuan. Tetapi inti dari semuanya tetap sama, persaudaraan menjadi prioritas. Mereka saling mengenal, saling menyapa, saling mengingat, dan saling menolong dalam bentuk yang kadang sederhana, membantu menata dagangan, meminjamkan timbangan, menanggung kerugian teman, atau sekadar memberikan kopi hangat untuk menunda letih.

Kehidupan terminal, pasar, dan jalanan memang unik. Kadang terasa kacau, tetapi selalu menarik untuk dilirik. Terminal adalah tempat pertemuan yang tak pernah direncanakan, ruang tunggu bagi cerita-cerita yang sedang berpindah tempat. Ada orang yang pulang, ada yang pergi, ada pula yang hanya menumpang duduk karena bangku gratis adalah kemewahan kecil yang tak selalu tersedia di kota besar.

Suara menjadi latar yang tak pernah berhenti. Teriakan calo dan kondektur menawarkan tujuan, dengung mesin bus yang berasap hitam pekat baru dipanaskan, bunyi sendok yang beradu dengan gelas di warung kopi, dan radio yang setia memutar lagu-lagu lama. Aroma solar, gorengan panas, dan kopi hitam bercampur menjadi parfum khas yang hanya dibuat oleh kehidupan itu sendiri.

Di salah satu sudut, ada pedagang asongan yang hafal jam kedatangan bus lebih baik dari jadwal resmi. Di sudut lain, seseorang tidur nyenyak di bangku panjang, seolah keramaian adalah selimut yang justru membuatnya merasa aman. Dari tempat-tempat seperti itulah aku belajar bahwa langkah kaki manusia punya tujuan, tetapi rasa dan pikiran sering tersesat di tengah keramaian terminal.

Beralih ke pasar, aku menemukan denyut pagi kota yang sesungguhnya. Pasar bangun lebih cepat daripada matahari, bahkan sebelum logika manusia mulai bekerja. Di sana, harga bukan sekadar angka mati, ada seni tawar-menawar yang diwariskan turun-temurun. Di lorong-lorong sempit, sayur masih basah oleh embun kebun, ikan berkilau seolah baru keluar dari laut, dan para pedagang memanggil pembeli dengan suara lantang, seakan jika mereka tidak keras, rezeki akan malu lewat.
Pasar punya aroma yang jujur, rempah yang tajam, tanah yang lembap, daun pisang, dan sesekali bau amis. Tidak glamor, tidak steril, tetapi justru di sanalah kehangatan hidup paling terasa.

Pasar adalah panggung kecil di mana manusia bertukar kebutuhan sambil bertukar cerita, tanpa niat untuk saling menjegal. Aku sering melihat orang-orang bercanda sambil menakar bumbu, atau saling melempar keluhan sambil menata dagangan. Tidak ada kepura-puraan. Yang ada hanya kerja keras yang sudah menjadi napas sehari-hari.

Lalu jalanan—ruang bebas yang tak pernah sepenuhnya bebas. Jalanan adalah tempat semua orang lewat, tetapi tidak semua orang benar-benar hadir. Di sana ada klakson motor yang tak sabaran, mobil yang ingin selalu menjadi nomor satu, dan lampu merah yang menjadi titik jeda bagi setiap orang untuk memikirkan sedikit tentang hidupnya.

Trotoar yang seharusnya milik pejalan kaki dipenuhi pedagang kaki lima yang berjuang, pengendara ojek online yang menunggu order sambil mengobrol, dan anak sekolah yang pulang sambil tertawa lepas. Ada seseorang yang selalu berjalan cepat, seolah mengejar waktu yang tidak pernah mau berjalan lebih lambat. Jalanan adalah arus kehidupan, terkadang aku hanyut, kadang aku ingin melawan, dan kadang aku hanya ingin menepi, jauh dari perebutan kekuasaan yang membuat orang lupa siapa dirinya.

Jika terminal adalah persimpangan cerita dan pasar adalah jantung kehidupan, maka jalanan adalah nadi yang mengalirkan semuanya. Energi kota menyatu di sana, kerja keras, kemarahan, cinta, ambisi, dan harapan. Dari ketiganya, aku belajar bahwa hidup bukanlah sesuatu yang rapi dan linear. Hidup adalah kabut yang harus diterobos, suara bising yang harus ditafsirkan, dan arus deras yang harus dipilih apakah ingin dilawan atau diikuti.

Kini, setelah waktu berjalan sejauh ini, aku menyadari bahwa terminal, pasar, dan jalanan adalah sekolah kehidupan yang tak pernah tutup. Mereka mengajariku hal-hal yang tidak pernah kutemui dari buku pelajaran bagaimana melihat manusia apa adanya, bagaimana bertahan di tengah kekacauan, dan bagaimana menjaga diri tanpa kehilangan empati. Di tempat-tempat itulah aku belajar mendengar isyarat kehidupan, membaca tanda-tanda kecil, memahami perjuangan orang lain, dan menghitung setiap langkah agar tetap waras.

Pada akhirnya, hidup yang keras itu justru membentuk kelembutan dalam diri. Terminal, pasar, dan jalanan mungkin terlihat semrawut, namun dari mereka aku belajar bahwa yang kacau pun bisa mengajarkan ketertiban hati. Yang bising pun bisa menenangkan. Dan yang paling keras justru sering memberikan pelajaran paling lembut.

(Visited 27 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.