Oleh: Tammasse Balla

Bepergian jauh selalu punya cerita yang sama, tubuh remuk, mata panas, pikiran setengah melayang. Terbang ke Amerika atau Kanada butuh waktu dua puluh empat jam, ke Eropa lima belas sampai delapan belas jam. Itu pun belum dihitung jam-jam panjang transit yang kadang mencapai lima belas jam. Menunggu di bandara seperti menunggu jodoh yang tak kunjung muncul. Capeknya bukan main. Tubuh seperti diremas-remas, dan setiap sendi memprotes keras.

Duduk di kursi pesawat yang pas-pasan adalah ujian kesabaran kelas internasional. Ruang kaki sempit, punggung kaku, dan tidur hanya menjadi barang mewah. Namun yang paling menguji kesabaran adalah ketika kita bersebelahan duduk seseorang yang tubuhnya tambun. Tidurnya mendengkur, mengganggu kenyamanan tidur semalam suntuk. Setiap menit terasa seperti bergulat dengan ruang yang semakin menyusut, sepertinya dinding pesawat ikut mendekat memeluk kita tanpa persetujuan.

Di tengah perjalanan panjang itu, sering muncul sesal. Dalam hati berkata: “Sudah, cukup. Ini terakhir. Tidak mau lagi pergi jauh-jauh.” Sebuah tobat yang meluncur dari dalam dada, lahir dari rasa pegal yang tak kunjung pergi dan kepala yang ingin direbahkan entah di mana. Tobat itu terasa tulus, seolah diri benar-benar ingin berhenti menjadi musafir udara.

Namun lucunya, manusia ini makhluk paling mudah lupa. Sesampainya di rumah, setelah mandi air hangat dan tidur nyenyak semalaman, tobat itu perlahan-lahan menguap seperti uap kopi pagi hari. Tubuh yang kemarin rewel kini diam. Tulang yang kemarin protes kini patuh. Pikiran yang kemarin menyesal kini mulai berulah: “Ke mana lagi kita pergi?”

Anehnya, rasa capek yang dulu terasa seperti hukuman kini malah jadi cerita lucu. Yang dulu dianggap azab, kini jadi nostalgia. Kita mulai membuka peta, menimbang tanggal, menghitung cuti, seakan perjalanan kemarin hanya latihan. Begitulah manusia, disiksa sedikit saja meronta, tetapi diberi waktu istirahat sebentar, langsung lupa bahwa ia pernah ingin berhenti.

Itulah yang disebut orang tua-tua sebagai “tobat masakan lombok”, dalam istilah bahasa Bugis “toba’ nasu ladang”. Masakan lombok, pedasnya bisa membakar lidah, membuat keringat menetes, membuat air mata muncul tiba-tiba. Ketika mulut kepanasan, kita bersumpah dalam hati: “Cukup! Tidak mau makan lagi!” Namun, begitu rasa pedas mereda, kita kembali meraih sendok, kembali mencocol sambal, kembali menyerah pada kelezatan yang tak bisa ditolak.
Bepergian jauh pun begitu. Pedihnya seperti cabai rawit, perihnya seperti sambal yang digiling halus. Namun, ada nikmat yang tersembunyi di balik rasa pedas itu, yaitu pengalaman baru, udara lain, wajah-wajah asing yang memperkaya jiwa, dan cerita yang kelak mengisi ruang batin. Pedas itu menyakitkan, tetapi nikmatnya membuat kita ingin mengulanginya.

Barangkali ini cara hidup mengajari kita bahwa manusia hidup untuk berjalan. Semakin jauh melangkah, semakin banyak yang dipelajari. Semakin sering tersesat, semakin kaya pengalaman. Capek memang harga yang harus dibayar, tetapi hadiah yang kita dapatkan selalu lebih mahal, yaitu berupq pandangan baru, hati yang lebih lapang, dan kesadaran bahwa dunia terlalu luas untuk ditinggali hanya pada satu titik.

Akhirnya, perjalanan jauh dan masakan lombok mengajarkan pelajaran yang sama, yaitu rasa sakit tidak membuat kita berhenti, justru membuat kita kembali. Karena hidup, pada dasarnya adalah rangkaian perjalanan yang melintasi jarak, menembus batas, merasakan pedas, lalu berkata: “Besok kita coba lagi.” [HTB-JT]
—‐————————————————
Manila, 23 November 2025
Pk. 18.15 WM

(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.