Oleh: H. Tammasse Balla
Dunia ini, kata para filsuf, hanyalah rumah persinggahan sementara bagi jiwa yang sedang merantau. Kita mampir seperti embun di ujung daun berkilau sebentar, lalu jatuh ke tanah. Ada yang datang dengan mahkota, ada yang tiba dengan kaki telanjang, tetapi semuanya minum dari cangkir waktu yang sama.
Di rumah persinggahan itulah pesta digelar. Musik keberhasilan diputar lantang, dan manusia berdansa dengan baju yang dijahit dari pujian, pangkat, dan angka-angka di rekening. Pejabat dan jelata sama-sama mengangkat gelas, namun lupa bahwa gelas itu akan pecah ketika perjalanan usai.
Orang kaya menimbun cahaya dalam peti-peti besi, orang miskin menyimpan harap dalam dada yang rapuh. Keduanya sama-sama memikul kegelisahan. Kekayaan takut habis, kemiskinan takut abadi. Di hadapan ketakutan, semua manusia bertelanjang badan
Janganlah sombong ketika angin sedang mengangkat layar perahumu. Angin tak punya kesetiaan. Hari ini ia membawamu ke pelabuhan gemilang, besok ia bisa menenggelamkanmu ke laut yang tak bernama. Pesta sering membuat kita lupa bahwa lantai tempat kita menari terbuat dari sejarah orang-orang yang telah jatuh. Di bawah gemerlap cahaya ada keringat, air mata, dan doa yang terlipat. Kita berdiri di atas pengorbanan yang tak kita kenal. Seperti kata para bijak, kemewahan tanpa kesadaran hanyalah kemiskinan yang disamarkan. Kau boleh mengenakan sutra, namun jika jiwamu telanjang, engkau tetap kedinginan. Pesta yang bising tak selalu berarti hati yang hangat.
Wahai manusia, bertanyalah pada dirimu sendiri: untuk apa kau tertawa, jika tawa itu menutupi luka yang tak kau sembuhkan? Untuk apa kau menang, jika kemenangan itu membuatmu lupa pada yang tertinggal? Hidup bukanlah lomba untuk tiba paling cepat, melainkan perjalanan untuk memahami paling dalam. Ada yang sampai lebih dulu ke puncak, tetapi lupa menoleh pada lembah tempat sesamanya masih berjuang.
Kembang api prestasi memang indah, tetapi ia tak menerangi jalan pulang. Ia hanya memekakkan langit sesaat, lalu menghilang. Yang menerangi hidup adalah lentera kebaikan yang kita nyalakan bagi orang lain.
Berilah roti pada orang yang lapar, bukan hanya sisa-sisa pesta. Berilah telinga bagi orang yang sepi, bukan hanya pidato tentang keberhasilan. Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya yang sejati.
Jiwa tak mengukur hidup dari berapa banyak yang ia miliki, melainkan dari berapa banyak yang ia bagikan. Semakin kau menggenggam, semakin sempit dadamu; semakin kau melepas, semakin luas langit di dalam dirimu.
Pesta Pasti Berakhir
Dunia ini, kata para filsuf, hanyalah rumah persinggahan sementata bagi jiwa yang sedang merantau. Kita mampir seperti embun di ujung daun berkilau sebentar, lalu jatuh ke tanah. Ada yang datang dengan mahkota, ada yang tiba dengan kaki telanjang, tetapi semuanya minum dari cangkir waktu yang sama.
Di rumah persinggahan itulah pesta digelar. Musik keberhasilan diputar lantang, dan manusia berdansa dengan baju yang dijahit dari pujian, pangkat, dan angka-angka di rekening. Pejabat dan jelata sama-sama mengangkat gelas, namun lupa bahwa gelas itu akan pecah ketika perjalanan usai.
Orang kaya menimbun cahaya dalam peti-peti besi, orang miskin menyimpan harap dalam dada yang rapuh. Keduanya sama-sama memikul kegelisahan. Kekayaan takut habis, kemiskinan takut abadi. Di hadapan ketakutan, semua manusia bertelanjang badan
Janganlah sombong ketika angin sedang mengangkat layar perahumu. Angin tak punya kesetiaan. Hari ini ia membawamu ke pelabuhan gemilang, besok ia bisa menenggelamkanmu ke laut yang tak bernama.
Pesta sering membuat kita lupa bahwa lantai tempat kita menari terbuat dari sejarah orang-orang yang telah jatuh. Di bawah gemerlap cahaya ada keringat, air mata, dan doa yang terlipat. Kita berdiri di atas pengorbanan yang tak kita kenal.
Seperti kata para bijak, kemewahan tanpa kesadaran hanyalah kemiskinan yang disamarkan. Kau boleh mengenakan sutra, namun jika jiwamu telanjang, engkau tetap kedinginan. Pesta yang bising tak selalu berarti hati yang hangat.
Wahai manusia, bertanyalah pada dirimu sendiri: untuk apa kau tertawa, jika tawa itu menutupi luka yang tak kau sembuhkan? Untuk apa kau menang, jika kemenangan itu membuatmu lupa pada yang tertinggal? Hidup bukanlah lomba untuk tiba paling cepat, melainkan perjalanan untuk memahami paling dalam. Ada yang sampai lebih dulu ke puncak, tetapi lupa menoleh pada lembah tempat sesamanya masih berjuang.
Kembang api prestasi memang indah, tetapi ia tak menerangi jalan pulang. Ia hanya memekakkan langit sesaat, lalu menghilang. Yang menerangi hidup adalah lentera kebaikan yang kita nyalakan bagi orang lain.
Berilah roti pada orang yang lapar, bukan hanya sisa-sisa pesta. Berilah telinga bagi orang yang sepi, bukan hanya pidato tentang keberhasilan. Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya yang sejati.
Jiwa tak mengukur hidup dari berapa banyak yang ia miliki, melainkan dari berapa banyak yang ia bagikan. Semakin kau menggenggam, semakin sempit dadamu; semakin kau melepas, semakin luas langit di dalam dirimu.Pesta Pasti Berakhir
Dunia ini, kata para filsuf, hanyalah rumah persinggahan sementata bagi jiwa yang sedang merantau. Kita mampir seperti embun di ujung daun berkilau sebentar, lalu jatuh ke tanah. Ada yang datang dengan mahkota, ada yang tiba dengan kaki telanjang, tetapi semuanya minum dari cangkir waktu yang sama.
Di rumah persinggahan itulah pesta digelar. Musik keberhasilan diputar lantang, dan manusia berdansa dengan baju yang dijahit dari pujian, pangkat, dan angka-angka di rekening. Pejabat dan jelata sama-sama mengangkat gelas, namun lupa bahwa gelas itu akan pecah ketika perjalanan usai.
Orang kaya menimbun cahaya dalam peti-peti besi, orang miskin menyimpan harap dalam dada yang rapuh. Keduanya sama-sama memikul kegelisahan. Kekayaan takut habis, kemiskinan takut abadi. Di hadapan ketakutan, semua manusia bertelanjang badan
Janganlah sombong ketika angin sedang mengangkat layar perahumu. Angin tak punya kesetiaan. Hari ini ia membawamu ke pelabuhan gemilang, besok ia bisa menenggelamkanmu ke laut yang tak bernama.
Pesta sering membuat kita lupa bahwa lantai tempat kita menari terbuat dari sejarah orang-orang yang telah jatuh. Di bawah gemerlap cahaya ada keringat, air mata, dan doa yang terlipat. Kita berdiri di atas pengorbanan yang tak kita kenal.
Seperti kata para bijak, kemewahan tanpa kesadaran hanyalah kemiskinan yang disamarkan. Kau boleh mengenakan sutra, namun jika jiwamu telanjang, engkau tetap kedinginan. Pesta yang bising tak selalu berarti hati yang hangat.
Wahai manusia, bertanyalah pada dirimu sendiri: untuk apa kau tertawa, jika tawa itu menutupi luka yang tak kau sembuhkan? Untuk apa kau menang, jika kemenangan itu membuatmu lupa pada yang tertinggal? Hidup bukanlah lomba untuk tiba paling cepat, melainkan perjalanan untuk memahami paling dalam. Ada yang sampai lebih dulu ke puncak, tetapi lupa menoleh pada lembah tempat sesamanya masih berjuang.
Kembang api prestasi memang indah, tetapi ia tak menerangi jalan pulang. Ia hanya memekakkan langit sesaat, lalu menghilang. Yang menerangi hidup adalah lentera kebaikan yang kita nyalakan bagi orang lain.
Berilah roti pada orang yang lapar, bukan hanya sisa-sisa pesta. Berilah telinga bagi orang yang sepi, bukan hanya pidato tentang keberhasilan. Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya yang sejati.
Jiwa tak mengukur hidup dari berapa banyak yang ia miliki, melainkan dari berapa banyak yang ia bagikan. Semakin kau menggenggam, semakin sempit dadamu; semakin kau melepas, semakin luas langit di dalam dirimu.
Ketika musik berhenti, dan lampu dunia dipadamkan satu per satu, kita akan berjalan pulang dengan tangan kosong kecuali yang telah kita sedekahkan dengan penuh keikhlasan. Berpestalah dengan rasa syukur, berjalanlah dengan rendah hati, karena pesta pasti berakhir, tapi cinta dan makna akan menemani jiwa sampai ke keabadian. [HTB]
Hanoi, Vietnam, 15 Januari 2026
Pk. 06.46 Waktu Vietnam
