Oleh: Tammasse Balla

Ada manusia yang berjalan dengan mata penuh curiga. Setiap senyum orang lain ia tafsir sebagai ancaman, setiap keberhasilan ia dengar seperti denting lonceng kematian bagi harapannya sendiri. Ia lupa bahwa hidup bukan lomba lari dengan garis akhir yang sempit, melainkan hamparan luas tempat setiap jiwa diberi jalannya masing-masing.

Ia belajar menjegal sejak dini, bukan dengan kaki, melainkan dengan kata, bisik, dan prasangka. Tangannya tampak bersih, namun pikirannya licin oleh niat yang tak ingin dilihat cahaya. Ia menyebut itu kehati-hatian, padahal sejatinya ketakutan yang disamarkan.

Ia mengira potensi orang lain adalah perampok di malam hari. Ia lupa bahwa matahari tak pernah mencuri terang dari bulan, dan bulan tak pernah iri pada bintang. Semesta bekerja dengan kebijaksanaan yang tak perlu izin dari rasa cemburu.

Ketika seseorang tumbuh, ia mengecilkan. Ketika seseorang melangkah, ia mengikat. Ia percaya bahwa dengan menahan orang lain, hidup akan menambah simpanannya. Padahal, rezeki bukan barang yang bisa dipindahkan dari tangan ke tangan dengan licik.

Rezeki adalah titipan yang tahu alamatnya sendiri. Ia tak salah rumah, tak keliru nama. Ia datang pada waktunya, dengan cara yang sering tak kita mengerti, namun selalu tepat sasaran bagi yang disiapkan untuk menerimanya.

Orang yang takut rezekinya dirampas sebenarnya belum berdamai dengan dirinya. Ia hidup di bawah bayang-bayang kekurangan yang diciptakannya sendiri. Padahal, kekurangan paling keras bukanlah ketiadaan, melainkan ketidakpercayaan.

Lihatlah pohon yang berbuah lebat. Ia tak menendang pohon lain agar akarnya patah. Ia hanya menancapkan akarnya lebih dalam, menyerap air dengan sabar, dan menyerahkan hasilnya pada musim yang setia.

Begitu pula manusia. Yang perlu ia lakukan hanyalah menjadi utuh pada tugasnya. Keberhasilan yang dicuri akan runtuh seperti rumah dari pasir, sementara keberhasilan yang dirawat akan berdiri meski angin mencemooh.

Menjegal sesama adalah doa yang keliru arah. Ia dikirim dengan kata-kata tajam, namun kembali sebagai ketakutan yang berlipat. Semesta memiliki ingatan panjang atas niat yang disembunyikan.

Jangan takut pada kesuksesan orang lain. Ia bukan pisau yang mengiris jatahmu, melainkan cermin yang menantangmu bertumbuh. Jika kau ingin lebih, jadilah lebih, tanpa harus mengurangi siapa pun.

Rezeki tak pernah tertukar. Ia setia pada usaha yang jujur, pada hati yang lapang, pada tangan yang bekerja tanpa menyikut. Ia menunggu, kadang lama, namun tak pernah ingkar pada alamatnya.

Berjalanlah dengan damai. Lepaskan niat menjegal, sebab ia hanya membuat langkahmu sendiri tersandung. Percayalah, hal yang ditetapkan untukmu akan menemukanmu tanpa perlu kau merampas apa pun dari siapa pun. [HTB]

Makassar, 6 Februari 2026
Pk. 12.18 WITA

(Visited 4 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.