Oleh : Imam Abdullah El- Rashied
Pada suatu malam, di bawah cahaya bulan yang temaram, kita bertemu dalam secangkir rasa yang begitu tentram. Disaksikan oleh jus stroberi yang merah padam.
Hatiku berbunga-bunga, grogih sekaligus sesak memenuhi dada, lantas kucoba cairkan suasana, “Apakah kau sudah betah di sini?”
“Ya, sangat malah.” Jawabmu kala itu.
“Oh ya? Aku saja belum betah.” Ucapku menimpali.
Dan, semenjak kau datang, aku tak pernah ingin pulang. Untuk apa?
Waktu telah beranjak, dan membiarkan rindu menjejak. Jarak membuatnya kian semarak. Serta dada yang kian sesak. Lantas, kita hanya membual pada sajak-sajak.
Kita hanya merindu, berdo’a, mengemis, dan menuntut untuk sebuah temu. Merayu puisi-puisi syahdu, dan mengusir dekapan pilu.
Kita meratap, berharap mata saling tatap, dan janji-janji suci segera terucap.
Dan, entah untuk waktu yang berapa lama, do’a adalah tempat kita berjumpa, menumpahkan segenap keluh-kesah di dada, pun rindu-rindu yang tak lagi terbendung kata.
Peternak Rindu.
Mukalla, 4 Oktober 2021.
