Oleh: Sumardi

Untuk kesekian kalinya kita memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya. Seantero jagad Indonesia bangsa Indonesia memperingati hari lahir tersebut. Bahkan kalau kalian sedikit menengok ramainya di dunia maya melalui twibbon banyak yang menyatakan dirinya, “Saya Pancasila; Saya Indonesia”. Sebuah narasi pernyataan kegembiraan, dan kecintaannya terhadap Pancasila. Namun tidak sedikit yang latah yang sebetulnya hanya sarana untuk tampil sekedar memperbaharui status di Facebook, Instagram, profil picture di Whatsapp  dan media sosial lainnya. Hampir semuanya tidak mau ketinggalan.        

Tidak menjadi sebuah persoalan serius jika kita menarasikan kegembiraan dalam menyambut hari lahir Pancasila. Sah-sah saja dan tidak ada larangan. Namun dibalik itu semua tergoda sebuah pertanyaan nakal apakah sikap, perilaku kita semua Bangsa Indonesia telah sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang digali oleh para leluhur dan para founding fathers bangsa ini. Ataukah sikap dan perilaku kita semua bangsa Indonesia justru semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai way of life atau pandangan hidup bangsa Indonesia adalah harga mati bangsa Indonesia. Sesuatu yang tidak dapat diubah dan tergantikan. Namun pertanyaannya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila itu benar tertanam dalam jiwa sanubari kita atau malahan sekedar  jargon semata.      

Kalau melihat kehidupan sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali kita merasa miris. Betapa para Pejabat Negara dan Pengelola pemerintahan yang diberikan amanah untuk mewujudkan kemajuan bangsa justru melakukan tindakan tidak terpuji. Menteri, Anggota DPR, Anggota DPRD, Gubernur, Bupati dan Walikota sudah terwakili semua di Lembaga Pemasyarakatan sebagai akibat melakukan tindak pidana korupsi. Perilaku korupsi tentu saja tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila mengajarkan “tepo sliro” kepada sesama, menghormati hak orang lain dan mengharapkan terwujudnya keadilan sosial bagi semua bangsa ini. Perilaku korupsi sebaliknya merupakan tindakan egois yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok atau golongannya. Perilaku korupsi menciderai terwujudnya keadilan bagi masyarakat dan tidak menghormati sesama dalam memperoleh hak-haknya. Saya berani katakan bahwa pejabat negara dan pengelola pemerintahan yang korup adalah pribadi-pribadi yang jauh dari Pancasila bahkan telah dengan sengaja meninggalkan nilai-nilai Pancasila. Lambang Garuda Pancasila  hanya sekedar dipajang belum menjadi cara pandang dalam setiap tindakan.   

Demokrasi saat ini juga menjadi pertanyaan sejumlah kalangan. Apakah penyelenggaraan demokrasi langsung saat ini lebih baik . Pada sisi yang lain ada pilihan demokrasi berupa permusyawaratan perwakilan yang diakomodasi oleh sila yang terdapat  pada Pancasila. Berapa harga yang harus dibayar dalam demokrasi langsung saat ini beserta dampaknya mulai dari cost politik yang tinggi dan  money politic dalam pemungutan suara. Belum lagi dampak turunan lainnya yang tidak terhitung seperti jual beli jabatan, jual beli perizinan dan kasus-kasus lainnya yang merugikan keuangan negara. Akhirnya menjadi sebuah pertanyaan apakah Pancasila menghendaki kondisi demokrasi seperti saat ini.

Hebohnya TWK saat ini di Lembaga Anti Rasuah yang menjadikan kinerja, prestasi dan darma bakti beberapa anak bangsa menjadi tidak bermakna apa-apa bagi Lembaga ini. Padahal di sisi lain betapa mereka dengan sungguh-sungguh mencintai Pancasila  melalui caranya yaitu memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya di bumi Indonesia. Apakah mereka tidak Pancasilais? Kurang buktikah deretan prestasinya dalam membela Ibu Pertiwi? Apakah dalam dada Pancasila sudah tidak ada tempat lagi bagi bagi rekan-rekan untuk mendarmabaktikan kemampuannya. Kalau tidak ada, lalu Pancasila ada dimana?

Jangan-jangan kita ini lebih suka gegap gempita, ritual upacara, dan sekedar memasang banner, twibbone bahwa,  “Saya Pancasila, Saya Indonesia”. Saya khawatir kalau cara dan pendekatan ini yang dilakukan maka Pancasila hanyalah sebuah nama karena tidak pernah merasuk ke dalam jiwa kita. Tidak pernah menjadi value yang diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah Saya Pancasilais ? Tentu saja belum kawan…….        

Multi Karya, 31 Mei 2021

Penulis : Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen SDM di Universitas Negeri Jakarta

(Visited 33 times, 1 visits today)

By Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: