Mahathir Mohammad

Beberapa tahun lalu Institusi kami di Makassar mendapat undangan menghadiri Book Expo 1Malaysia dan International Book Conference di Kuala Lumpur Malaysia. Undangan dari Yayasan Pembangunan Buku Negara (YPBN) di Malaysia. Tempat pelaksanaan acara di Putra World Trade Centre (PWTC) di Kuala Lumpur. Selain itu, juga diundang dari Yayasan I LA GALIGO yang khusus membawa serta beberapa naskah kuno I LA GALIGO dan beberapa dosen dari Universitas Hasanuddin. Diantara sekian banyak kantor Perpustakaan dan Arsip yang ada di Indonesia kamilah satu satunya yang mendapat undangan khusus untuk berpartisipasi dalam acara ini. Dari lembaga kami, saya bersama dua orang teman lainnya diutus untuk menghadiri acara tersebut. Pelaksanaan Expo dan Konferensi berlangsung dari tanggal 1 sampai 6 Februari 2012. Pembawa makalah pada konferensi berasal dari beberapa negara diantaranya Inggris, Mesir, Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Pelaksanaan konferensi buku internasional dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Di lantai dasar PWTC berlangsung Pameran Buku (Book Expo). Pada tanggal 4 Februari setelah acara konferensi berlangsung, dilanjutkan dengan acara Penyerahan Anugerah Buku Negara bagi penerbit, pengarang, pengedar (distributor) dan pemerhati masalah perbukuan di Malaysia. Kami bertiga mendapat undangan dinner (makan malam) yang akan dihadiri oleh Yang Amat Berbahagia (YABhg) Datin Paduka Seri Rosma Mansor, istri Perdana Menteri Malaysia waktu itu dan juga Dr. Mahathir Mohammad, juga mantan Perdana Menteri Malaysia. Dari hotel Anum tempat kami menginap kami berjalan kaki sekitar tigaratus meter ke PWTC. Acara sudah hampir dimulai dan diisi dengan hiburan musik dan nyanyian Melayu oleh para artis artis Malaysia. Tempat acara Dinner adalah di Dewan Merdeka PWTC, semacam Aula besar dilantai dua gedung PWTC. Didalam ruangan berjajar rapi meja meja bundar yang sudah terisi nomor diatasnya untuk menentukan tempat duduk para undangan. Setiap meja terdapat 10 kursi dan tidak semua kursi terisi penuh. Kami duduk semeja dengan dua orang dari Malaysia, dua orang dari Pakistan dan kami bertiga dari Makassar.

Hidangan makanan selama acara berlangsung dikeluarkan satu persatu, ada 9 macam hidangan yang disajikan. Masing masing meja dilayani oleh seorang pramusaji. Meskipun berasal dari negeri serumpun, tapi ada beberapa hidangan yang terasa aneh dilidah. Hidangan pertamanya adalah “Putrade Cold and Warm Appetizer Combination”, disusul dengan “Seafood soup Crabmeat” (sup kepiting), kemudian “Roasted Chicken with Shallot Sauce” (ayam panggang), “Steamed Seabass with Assam Sauce”, “Black Pepper Prawns with Capsicum”, Broccoli and Cauliflower in Scallop Sauce”, “Fragrant ‘Yong Chow’ Fried Rice” (Nasi goreng), “Sweetened Gingko Nuts with Snow Fungus” sebagai hidangan penutup dan terakhir “Chinese Tea” yaitu the china yang selalu ada kalau kita makan direstoran china. Tidak semua hidangan itu saya nikmati. Ada yang hanya sekedar mencicipinya saja. Rekan kerja saya Yuniarsi , malah lebih banyak lagi yang tidak dicobanya.

Pada saat Istri PM Malaysia dan mantan PM Malaysia Dr. Mahathir Mohammad memberikan kata sambutan, tidak ada kegiatan makan makan, semua menyimak isi pidato, dan sekali-sekali bertepuk tangan.

Selesai acara, kami sempat berjabat tangan dan berbincang sebentar dengan YABhg Datin Paduka Seri Rosma Mansor. Sewaktu kami menyebut kota asal Makassar, beliau lansung berkata, “kampungnya Datuk ya?” yang dimaksud adalah Tun Najib, Perdana Menteri Malaysia waktu itu (2012). Ayah dari Tun Najib juga adalah Tun Abdul Razak, juga pernah menjabat Perdana Menteri Malaysia. Nama Tun Abdurazak ini diabadikan sebagai nama Jalan di perbatasan Makassar – Gowa. Rekan kerja kami, Drs. H. A.A. Saransi sempat berfoto bersama istri PM Malaysia.

Suharman Musa, Yuniarsi dan H. A. A. Saransi

Dipintu keluar, beberapa naskah kuno Bugis dipamerkan dan beliau juga sempat melihat lihat dan bertanya tanya soal bagaimana asal usul naskah Lontara dan bagaimana pelestariannya. Datin Paduka Seri Rosma Mansor orangnya sangat bersahaja namun anggun dan smart, serta sangat fasih berbahasa Inggris. Meskipun beliau seorang istri Perdana Menteri waktu itu, namun pengamanan protokolernya sama sekali tidak ketat sebagaimana istri istri pejabat di Indonesia yang saya lihat. Di Kuala Lumpur, kami bisa bertemu dan dinner bersama Dr. Mahathir Mohammad, berjabatangan dan berbincang-bincang dengan Ibu negara YABhg Datin Paduka Seri Rosmah Mansor. Suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Sumber foto: koleksi pribadi dan foto dari Pak Abu Hanifiah

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *