Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Selama ini saya selalu berada di zona nyaman. Tidak ada pikiran untuk menggali dan mengembangkan potensi diri yang selama ini terpendam saja. Waktuku sudah cukup tersita dengan pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan aku menjalaninya dengan sepenuh hati.
Situasi itu berlangsung terus menerus dan terasa monoton sekali. Sampai akhirnya aku mendengar perbincangan teman tentang sebuah wadah literasi untuk menyalurkan kemampuan menulis kita. Aku sangat tertarik untuk bergabung dan menjadi bagian dari perkumpulan itu. Selama ini aku punya cita-cita untuk menulis sebuah buku tentang budaya kearifan lokal di daerahku. Namun aku belum memahami dan mengerti tentang seluk beluk kepenulisan.
Banyak ide yang tertimbun di benak dan pikiranku yang siap untuk aku tuangkan dalam bentuk tulisan, dan sekali lagi aku terbentur dalam menuangkan ide itu. Aku belum mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang cara menulis yang baik.
Dan Alhamdulillah, aku mendapatkan kado yang luar biasa dari seorang teman sebuah buku yang benar-benar membuatku merasakan semangat,gairah dan gelora untuk mulai menggoyangkan penaku menuangkan semua rasa yang selalu mengaduk-aduk relung hatiku.
Buku “ Sumpah Pena “ membuatku tersadar bahwa terlalu banyak hal yang berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak ataupun kenangan. Tidak ada catatan atau tulisan yang membuat orang membuka ingatannya kembali ataupun sekedar mengenangnya.
Banyak ungkapan dan kata-kata bijak yang dituangkan oleh Sang penulis buku Sumpah Pena Bapak Ruslan Ismail Mage yang membangkitkan semangatku untuk mulai menulis.
Menulis itu jangan dipikirkan, tapi tulislah apa yang ada dipikiranmu. Menulis untuk peradaban baru menuju dunia keabadian. Teruslah menulis. Paling tidak orang-orang tahu bahwa anda masih hidup.
Ungkapan dan kata-kata bijak dari inspirator dan motivator handal yang dikenal dengan nama keren Bang RIM itu membuatku juga bersumpah bahwa aku akan terus belajar sampai menjadi penulis yang bisa menghasilkan sebuah karya. Demi Pena, suara goresan penaku akan lebih merdu dan syahdu dari suara biduanita dan kerinduan.
Kini, aku pun berjanji untuk lebih banyak membaca literatur-literatur yang bisa menambah wawasan keilmuanku. Untuk menulis hal-hal yang sederhana, aku mulai menuliskan pengalaman sederhanaku. Namun untuk menulis sebuah karya yang selama ini aku impikan, aku harus perbanyak membaca buku-buku para tokoh seperti buku Sumpah Pena ini yang merupakan karya dari seorang tokoh besar,inspiratif, dan penuh dedikasi.
Hidup ini pilihan, mau menjadi pemenang atau hanya menjadi tukang tepuk tangan atas kemenangan orang lain. Jika hanya mau menjadi tukang tepuk tangan, abaikan membaca buku. Namun, jika ingin menjadi pemenang, berkenalanlah dan ikuti pemikiran-pemikiran besar dunia lewat buku-buku para tokoh, karena disitu tersaji energi dahsyat yang akan mengubah indah menjadi kenyataan. (RIM)
Demi pena, dengarkan sumpahku ini. Aku akan selalu menulis,menulis, dan menulis.
Tidak akan membiarkan lembaran menjadi kering.
Semoga aku dapat melahirkan sebuah karya yang membuat orang mengenang dan merindukanku.
Sumber Inspirasi : Sumpah Pena, Ruslan Ismail Mage
Watansoppeng, 3 Agustus 2021
