Oleh: Amsori Bahrudin Syah
Ketika ukuran sehat “Manusia” di ukur dari selembar surat vaksin, maka di situ saya berhenti menjadi “manusia”. Orang (ke)sehat(an) menggaungkan produk berbayar untuk menguji manusia melakukan aktifitasnya tanpa ada stempel dari orang (ke)sehat(an) maka manusia yang melakukan aktifitas di anggap orang “jahat” membawa sebuah “ancaman” pada khalayak ramai.
Sehat itu sebuah anugerah yang tidak bisa di monopoli oleh siapapun. Sehat adalah sebuah hak warga negara yang di berikan langsung sang Illahi. Jika hak sehat saja sudah diambil paksa oleh sebuah orang (ke)sehat(an) yang di jaga oleh kekuasaan, maka sesungguhnya manusia itu tidak menjadi manusia lagi.
Orang modern menganggap bahwa obat dan vaksin produk dari (ke)sehat(an) adalah juru selamat bagi dirinya. Karena itu hidupnya di habiskan mengkonsumsi obat-obatan agar kehidupannya berlangsung terus menerus tanpa sakit.Padahal hampir semua jenis obat bercampur dengan zat kimia. Itu berarti mengobati dengan mengundang penyakit lain bersarang dalam tubuh.
Sementara mereka menganggap saya kampungan yang tak mengetahui ilmu tentang kesehatan. Biarkan saya di anggap kampungan tapi tak mau merusak anugerah dari Tuhan dengan zat kimia.
Lihat saja kehidupan suku Badui, mereka menjaga alam dan tubuhnya tanpa di jejali dengan produk kimia?Apakah tuan dan nyonya modern pernah mendengar orang Badui kena covid? Jika belum, saya balik bertanya sesungguhnya siapa yg paling tahu ilmu kesehatan?
*Penulis adalah kandidat doktor ilmu politik
