Hujan seperti masih enggan mempersilakan matahari untuk memantikkan cahayanya dibumi belingkar, sedari kelam petir diboncengi hujan masih bergemuruh menampakkan diri. Batang-batang kayu sudah menggigil kedinginan, rumput-rumput tergeletak lelap diguyur hujan, anak lidah sungai pun mulai melahap tepian tebing pertanda parade air bah akan mendera.

Jingga terjaga dari lelapnya, dentingan suara ibunda sayup-sayup terdengar membaca ayat-ayat tuhan. Diluar jendela, derap telapak kaki ayahanda bersahutan dengan rintik hujan dari tuturan.

Jingga beringsut menuju tempayan, berkumur membasuh muka hingga bersujud ke yang kuasa berharap rahmat dan hidayahNya. Jingga tampak lebih khusyuk menjalanan ritual subuhnya, sosok ayahnda dan ibunda dihadirkan ke dalam doa, berharap Tuhan Yang Esa selalu menjaga mereka.

Hari ini adalah hari terakhir Jingga di negeri belingkar, esok dia harus pergi menuju hunian baru yang tak bersanak saudara. Selepas sembahyang Jingga bergegas ke kandang lembu menyajikan rerumputan sembari berbisik,

“mbu, esok kita tak akan bersua lagi, aku harus meninggalkan kandang ini, meninggalkan sabit untuk makan kalian! Maaf jika tak ada usapan tangan lagi dikepala kalian, jika kalian merindu, doakan saja agar keselamatan dan kesuksesan menyertai ku” Sembari mengusap-usap kepala mereka dan mata kawanan lembu tampak sendu merindu.

***
Rinai masih saja menggelitik tanah belingkar, berpayung daun keladi Jingga setengah berlari menuju rumah gadis semampai. Bajunya tampak melembab akibat sapaan rintikkan rinai.

“Pagi yang lembab kau sudah sampai disini, ada apa gerangan?” Sapa gadis semampai sembari meninggalkan Jingga berniat meracik kopi panas.

“Aku jadi pergi! esok sebelum petang aku sudah di terminal” Matanya beradu pandang.

“Ngga, tak ada kewenangan ku menjegal langkah mu. Dan terlalu bodoh juga jika aku melarang seseorang menimba ilmu dibangku harapan. Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibu mu? Apakah kau yakin mereka menghabiskan hari-harinya tanpa mu?”. Alibi gadis semampai agar Jingga tidak pergi.

” Aku tidak meninggalkan mereka, aku hanya menjemput asa untuk ku bawa pulang” Balas Jingga sembari menyerahkan kotak kenang-kenangan kepada gadis semampai.

“Tunggu” Gadis semampai menarik diri ke dalam rumahnya, “ini adalah liontin yang ada foto ku, sebenarnya aku ingin memberikannya saat kelulusan kemaren” Sembari menyodorkan kotak berwarna maroon.

Disebelah kanan belum terisi foto, mungkin suatu saat aku menemukan foto mu disana” Tatapan nya tak dilepas seperti mengekang mata Jingga. “Aku mengagumi mu, bahkan sering menghadirkan mu sebelum lelap, Ngga! Aku mencintai mu”.

Dengan lembut Jingga mengusap rambut gadis semampai “Cinta, adalah ikatan bathin sepasang nyawa. Dia akan selalu ada walau tak bersua, hari ini aku pergi menggapai cita, bersabar sajalah”. Jingga berinjit ke bangku kayu selasar rumah.

“Saat aku pulang, aku ingin melihat stetoskop menggantung dileher mu, seperti yang kau citakan dulu kau ingin menyehatkan orang-orang dikampung ini. Dan juga, sekali-kali kau lihat jugalah ayahnda dan ibunda ku”. Jingga menggengam jemari gadis semampai.

Air matanya sudah membanjiri pipi gadis semampai “ngga, terima kasih telah mengenal mu, terima kasih atas motivasi yang selalu kau semburkan”. Urai gadis semampai dengan sesegukan.

” Baik aku pergi, kecengengan adalah onak yang dapat menghentikan langkah. Bukankah sejarah hanya akan ditulis oleh orang-orang yang menang? Semoga kita bagian dari itu, setidaknya bagi negeri belingkar”. Jingga terlihat membungkukkan badan sebagai salam perpisahan.

***
“Hei dari mane lu?” Cemooh tompel menirukan logat penghuni asli ibukota.

“Mpel, esok aku ingin kau mengantarkan aku terminal!” Seru Jingga kepada karib terdekatnya.

Tompel hanya diam membisu, mematung ditonggak kayu rumah panggungnya. Otaknya bersilang sengketa, tanpa Jingga bagaimana dia melewati hari-harinya di negeri belingkar. Karib yang mengajarkan banyak hal, mengingatkan saat dia lena, sahabat yang selalu bertemu di sabana gembalaan sembari memainkan seruling, dan mengulang gerakan silat yang mereka pelajari setelah maghrib di surau tua.

“Njing, aku pernah menangis saat ditinggalkan Ibu, hari ini air mata ku kembali hadir untuk mu” Tompel menghenyakkan diri disudut rumahnya.

“Aku tau, aku bukan karib terhebat mu tapi aku yakin aku lah kerabat terbaik mu, aku hanya ingin menyampai pesan seperti yang disampaikan para tua silat kita disasaran” ujar tompel seolah bijaksana :
“…
Baik-baik menyeberang,
Jangan sampai pendayung patah,
Baik-baik dirantau orang,
Jangan sampai berbuat salah…”

Tompel melanjutkan petitihnya seolah seperti penghulu yang sedang membekali pituah ke kemenakannya :
“…
Berjalan pelihara kaki, Berkata pelihara lidah.
Jika muka buruk terlihat, usahlah cermin yang dibelah.
Jangan pernah menjadi aur yang tak bermiang, menjadi bunga yang tak berduri”.

” Itu ibukota njing, silap sedikit hanya nama mu yang pulang” canda tompel menyemangati Jingga.

Jingga yang mendengar pituah tompel menjadi tertawa tepingkal-pingkal. “Sumpah mpel, aku tak sadar jika bakat kau ternyata disana. Kau hapal betul apa yang disampaikan tetua sasaran” Tawa Jingga tak habis-habisnya.

“Nanti malam selepas maghrib aku tunggu kau di rumah, bawa juga kerabat yang lain” Ujar Jingga dan gelak tawanya belum juga berakhir.
.
.
.
(Bersambung)

(Visited 62 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.