Musim penghujan tiba, banjirpun menghadang. Ini yang terjadi disalah satu perumahan di kota Makassar, khususnya disekitar Sudiang.
Dalam doa saya memohon mudah-mudahan banjirnya belum masuk dalam rumah, soale belum ada dana buat renovasi menyeluruh.
Tapi, yang saya khawatirkan akhirnya terjadi, rupanya banjir itu menerobos hingga masuk dalam rumah, dengan gerak cepat akhirnya penghuni rumah harus bersih-bersih menguras air dalam rumah dari genangan banjir.
Cerita banjir ini tak akan ada hentinya, apatah lagi memasuki bulan September hingga Desember. Pasalnya di bulan-bulan tadi, ketika musim penghujan tiba, banjirpun menghadang tanpa pilih kasih, asal rumaah itu posisinya rendah dan kondisi rumah masih asli belum di renovasi pasti kedatangan tamu tak diundang tadi, siapa lagi kalau bukan banjir.

Diakui banjir yang menyelimuti sebagian besar wilayah Kota Makassar ini akibat curah hujan tinggi dan buruknya drainase. Betapa tidak, proyek betonisasi serta penumpukan sampah di saluran pembuangan air turut memperparah situasi. Sampah, khususnya jenis plastik, kaleng, steoroform yang nantinya mengalir ke laut akan menimbulkan masalah baru.
Area persawahan dan boleh dikatakan hutan kota juga (penyangga), semuanya sudah disulap menjadi perumahan. Sehingga area resapan air otomatis berkurang dan hasilnya yah wajar jika banjir menjadi langganan.
Selain tata ruang masih kacau, kalah telak dari proyek betonisasi dan property, memang diakui banjir itu diduga karena adanya fenomena air laut pasang. Sehingga air pembuangan dari permukiman warga tak bisa mulus keluar hingga ke laut. Malah sebaliknya.
Terlepas dari itu, perbaikan dranaise hingga ke hilir menuju laut itu perlu maksimal. Serta area resapan dan penghijauan perlu digalakkan kembali, agar air genangan itu tahu jalan pulan
Memang masih banyak penyebab banjir musiman itu, tapi hal itu urusan pengambil kebijakan, kami sebagai anggota bawahan tidak punya kekuasaan menolak perintah Jendral, itu kata Bharada E.
Paling sering kita jumpai salah satu penyebab banjir di tanah air yakni proyek bongkar pasang jalanan, dimana proyek ini sering mendatangkan bencana di ibukota, sebut saja PU memperbaiki jalanan berlobang, saat sudah mulus datang PDAM menggali pipa air dengan alasan peremajaan pipa. Lalu keluar lagi anggaran perbaikan jalan.
Mulus jalan, terus datang lagi PDAM dengan alasan yang sama, yakni perbaikan pipa, lalu anggaran perbaikan jalan turun lagi, terus aspal atau beto jalan mulus, datang lagi PDAM, alasan yang sama peremajaan pipa, jadi sampai kapan berakhirnya banjir. Toh demikian aliran air PDAM ke rumah warga masih mengalami kemacetan.
Yang jelas, drainase jangan dibetonisasi atau ditimbuni sampah, biar air genangan sisa hujan itu tahu jalan pulang ke laut aja.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum Ayat 41 yang artinya, Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
