Oleh: Rosmawati

Hari ini, senja kembali mengajarkan tentang rasa syukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk menghirup semesta. Semilir angin yang berhembus lembut membawa ketenangan, sementara riak-riak di tambak menjadi tanda ikan menari dengan riang, seolah turut berbagi kebahagiaan.

Senja mengingatkan kita betapa banyak nikmat yang sering tak ternilai, bahkan nyaris tak terungkap dalam narasi. Cahaya keemasan mulai menghiasi cakrawala, meski sesekali sinar matahari yang redup menyelinap di antara rerumputan yang tumbuh di pematang kolam, menciptakan lukisan alam yang penuh keajaiban.

Hari ini, senja mengajarkan untuk lebih banyak berbenah diri. Karena saat waktunya tiba, senja akan pergi, berganti malam yang menyelimuti dunia dalam keheningan. Ketika hari meredup dan mata mulai mengatup, kabut datang menyelimuti dengan lembut, seolah mengajak kita merenung.

Jika boleh aku meminta, aku ingin menyaksikan senja esok hari. Aku ingin kembali menggoreskan hikmah di balik keindahannya, hingga halaman terakhir hidupku penuh dengan pesan-pesan tentang arti kehidupan yang sesungguhnya sebuah warisan makna setelah senja berlalu.

Senja hari ini juga mengajarkan pentingnya silaturahmi. Di pematang tambak Legawe, aku berbagi momen indah bersama mereka yang hadir, menikmati senja dalam kebersamaan. Senja mengajarkan kita bahwa apa pun yang terjadi hari ini, pada akhirnya akan berakhir dengan indah seperti senja yang perlahan tenggelam, meninggalkan kesan hangat yang mendalam.

(Visited 79 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.