Oleh : Tammasse Balla

Waktu adalah pengembara yang tak pernah berhenti. Ia memberi cahaya di masa muda, lalu berjalan tanpa menoleh. Siapa yang lalai, akan ditinggalkan dalam gelap penyesalan. Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).

Muda adalah taman berbunga. Jika engkau menanam ilmu dan amal, ia akan berbuah manis. Namun, bila kau hanya menghirup aromanya tanpa menanam benih, musim gugur akan tiba dengan tangan kosong.

Aku pernah melihat seorang tua duduk termenung. Rambutnya putih, matanya keruh, bibirnya berbisik, “Andai dulu aku menuntut ilmu, andai aku menebar kebaikan, tentu hari ini aku tidak duduk dalam kehampaan.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, senggangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Hakim).

Penyesalan pada usia senja hanyalah lilin redup yang nyaris padam. Cahaya kecilnya mencoba melawan gelap, namun angin usia terlalu kencang. Yang tersisa hanyalah asap kenangan.

Anak muda, engkau adalah kapal di samudra. Tanpa arah dan bekal, badai penyesalan akan menenggelamkanmu. Dengan ilmu dan amal, engkau akan tiba di pelabuhan kebahagiaan.

Jangan berkata “nanti” untuk kebaikan. Kata itu adalah jerat waktu. Allah telah mengingatkan: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematianku) sedikit waktu saja, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh’.” (QS. Al-Munafiqun: 10).

Tabunglah masa mudamu dengan amal, ilmu, dan doa. Bukan emas yang akan menyelamatkanmu, melainkan lumbung kebaikan yang akan meneduhkan jiwa di hari senja.

Lihatlah, mereka yang bijak muda kini menuai hormat masa tuanya. Namun yang lalai, hanya berjalan di padang gersang, mencari air dari sumur yang kering.

Ingatlah kalimat Ali Hasjmi: “Menyesal tua tiada berguna, hanya menambah luka sukma.” Jadikan ia peringatan, bukan takdirmu.

Hidupilah masa muda dengan cahaya ilmu dan amal. Agar ketika tua, engkau tidak menangis dalam penyesalan, melainkan tersenyum dalam syukur, sebab hidupmu telah menjadi doa yang tak padam.


Makassar, 16 September 2025
Pk. 09.42 WITA

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.