Oleh : Tammasse Balla
Menunggu bagi banyak orang adalah ruang hampa, semacam lorong gelap tanpa ujung yang hanya dipenuhi rasa bosan. Orang sibuk menghitung detik, resah menatap jarum jam, seolah-olah waktu menjadi musuh yang terus mengejek. Mereka ingin segera tiba, segera sampai, segera selesai. Padahal, dalam kacamata lain, menunggu justru sebuah anugerah yang tak semua orang sanggup memeluknya dengan lapang.
Saya menemukan rahasia itu sejak lama: menunggu adalah taman pikiran. Pada saat orang lain resah, saya justru menemukan jalan-jalan baru di dalam kepala. Setiap menit yang berlalu adalah pintu yang membuka imajinasi. Saya menuliskan gagasan, merangkai kata, bahkan menyalakan obor pemikiran yang sebelumnya redup. Di situ, menunggu berubah menjadi ruang kerja paling indah, tanpa gaji, tanpa perintah, tanpa target selain keikhlasan diri.
Tulisan saya kerap mengalir seperti air bah justru saat menunggu. Di terminal, di rumah sakit, di ruang rapat yang molor, atau di bandara yang delay, saya menemukan sungai kata-kata. Orang lain mungkin kesal, tapi saya tersenyum sebab saya sedang menambang ide. Penantian memberi saya wadah untuk mendengarkan batin sendiri, mendengar bisikan sunyi yang kerap tertutup oleh riuh rutinitas.
Menunggu tidak lagi membosankan bila kita belajar melihatnya sebagai ladang. Setiap ladang menunggu hujan, dan saat hujan itu turun, benih-benih pikiran tumbuh jadi gagasan. Saya menunggu bukan sebagai orang kalah, tapi sebagai orang yang sedang menyemai. Bahkan, semakin lama menunggu, semakin banyak gagasan yang bisa dipanen. Itulah kekayaan yang tidak pernah bisa dirampas oleh siapa pun.
Di kursi tunggu, pikiran saya bisa terbang lintas benua. Tubuh memang diam, tapi imajinasi melesat jauh ke kota-kota asing, ke sejarah yang belum sempat dibaca, ke masa depan yang menanti untuk dituliskan. Menunggu membuat saya berkelana tanpa tiket, tanpa paspor, tanpa bea masuk. Hanya modal kesabaran, pena, dan kertas atau sekadar layar ponsel.
Ada paradoks di dalam menunggu: ketika orang menganggapnya buang-buang waktu, justru di situlah saya menemukan waktu terbaik. Menunggu adalah ruang meditasi. Di dalamnya saya berdialog dengan diri, dengan Tuhan, dengan semesta. Kata-kata yang terbit saat menunggu bukan sekadar rangkaian huruf, tapi doa, refleksi, sekaligus pengakuan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan hanya dengan mengeluh.
Seringkali saya merasakan bahwa menunggu adalah sekolah kesabaran yang Allah dirikan tanpa papan nama. Bangku-bangkunya adalah detik yang lewat, gurunya adalah sunyi, dan bukunya adalah hati kita sendiri. Di situ kita belajar membaca isyarat, mendengar ayat-ayat semesta, dan merangkai makna. Menunggu, pada akhirnya, adalah zikir yang tersamar: sebuah perjalanan jiwa yang diam-diam dituntun oleh-Nya.
Menunggu bagi saya adalah saat terbaik untuk menulis. Ia bukan beban, bukan hukuman, melainkan hadiah. Hadiah dari kehidupan agar saya punya waktu mengulik makna, menyusun hikmah, dan menumpahkan kata. Seperti kata orang bijak, waktu adalah emas. Namun bagi saya, waktu menunggu adalah berlian: langka, berharga, bercahaya—dan setiap kilauannya adalah sapaan halus Allah kepada jiwa yang mau bersabar. [HTB]
Menara Tamrin Jakarta, 17 September 2025
Pk. 11.52 WIB
( …….. menunggu panggilan interviu visa …… )
