Oleh : Tammasse Balla

Masa SMA itu lucu dan menggemaskan. Izinkan saya menceritakan pengalaman batin dengan “flashback” 40 tahun silam. Saya datang ke sekolah dengan motor tua, Suzuki A100 merah berplat DD 8500 BY (kalau hujan, lebih cepat basah daripada sampai di tujuan). Tas besar saya ikat di belakang sadel, penuh buku, mirip kardus pindahan. Teman-teman sekelas menertawakan saya. Mereka sepakat memberi gelar: Pak Dosen. Gelar kebesaran yang waktu itu rasanya lebih berat daripada isi tas saya sendiri.

Saya hanya nyengir. Dalam hati bertanya: “Dosen apanya? Rapor saja belum kupegang, dosen dari mana?” Begitulah hidup, seringkali ejekan lebih kuat daripada doa. Kata-kata mereka menempel di telinga, lalu masuk ke hati, kemudian tinggal di kepala. Persis lagu dangdut murahan yang diputar terus-menerus, lama-lama kita hafal juga meski awalnya tak suka.

Teori afirmasi menyatakan: ucapan yang diulang-ulang bisa jadi kenyataan. Nah, kalau dipikir-pikir, teman-teman SMA saya itu sebenarnya motivator gratis. Bayangkan, tiap hari mereka meneriakkan Pak Dosen, Pak Dosen! di lapangan, di kantin, di depan kelas. Kalau dihitung-hitung, mungkin saya sudah dapat lebih banyak afirmasi daripada peserta seminar motivasi berbayar jutaan rupiah.

Waktu berjalan tanpa henti. Motor renta itu pensiun, tas besar entah raib ke mana, tapi panggilan Pak Dosen tetap menempel. Diam-diam, ledekan itu berubah jadi kompas. Saat kuliah, saya seperti merasa berutang budi pada kata-kata itu. Saya belajar lebih giat, membaca lebih banyak, seakan-akan sedang mengejar bayangan yang dulu dianggap lelucon.

Tiba-tiba, saya benar-benar jadi dosen. Ketika mahasiswa memanggil saya “Pak Dosen,” saya hampir ingin tertawa keras. Betapa hidup ini penuh ironi. Apa yang dulu jadi bahan lelucon, sekarang jadi profesi serius. Bahkan seringkali saya ingin mengatakan kepada mahasiswa: “Kalian tahu nggak, panggilan ini dulu bahan ejekan. Sekarang kalian bayar SPP (UKT) mahal-mahal hanya untuk memanggil saya dengan sapaan begitu.”

Dari sini saya belajar: kata-kata itu seperti anak panah. Begitu dilepaskan, ia akan mencari sasaran, entah dengan niat baik atau sekadar bercanda. Berhati-hatilah, jangan main-main dengan ucapan. Bisa jadi, kata-kata Anda sedang menulis masa depan orang lain. Bisa juga, sedang menjerat diri Anda sendiri sama dengan nasib beberapa anggota Dewan baru-baru ini.

Untuk teman-temanku di SMA, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Tanpa sadar, kalian telah jadi dukun afirmasi. Candaan kalian menjelma doa, doa menjelma jalan, jalan menjelma kenyataan. Kalau kalian masih ingat motor Suzuki merah itu, percayalah: yang paling kuat bukan mesinnya, tapi kata-kata kalian.

Hari ini, setiap kali saya mendengar sapaan Pak Dosen, saya tersenyum sambil berbisik: *Masya Allah, ternyata Tuhan punya selera humor juga. Dia bisa membalik candaan jadi anugerah, candaan jadi profesi, tawa jadi doa. Saya hanyalah saksi bahwa lelucon SMA bisa berubah menjadi profesi akademik. [HTB]


Menara Tamrin Jakarta, 17 September 2025
Pk. 11.28 WIB
( ……. sambil menunggu giliran interviu visa ke luar negeri ……. )

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.