Oleh : Tammasse Balla
Di negeri yang serba mewah ini, ada saja hal-hal kecil yang tiba-tiba menjelma jadi cerita besar. Hotel Shangri-La, megah, berkilau, dijaga dengan keramahan resepsionis yang kata-katanya semanis sirup dingin di siang bolong Jakarta. Namun justru di tempat yang segemerlap itu, kadang kita tersandung oleh hal remeh-temeh: sepotong roti dan secangkir kopi yang hanya dialamatkan untuk satu perut saja. Seolah-olah cinta kasih sebuah hotel bintang lima masih bisa dipatok harga: satu kursi saja di meja sarapan.
Bayangkan, seorang istri yang datang sebagai pembicara tamu, dihormati, disiapkan kamar di lantai tujuh. Lalu di telinganya diselipkan bisikan: “Maaf Dok, breakfast hanya untuk satu orang. Suami harus bayar sendiri.” Saya, sang suami, cuma menatap senyum istri. Telinga saya menangkap bisikan itu, dan hati saya tergelitik. Ah, beginikah wajah keramahan dunia perhotelan kita? Bintang lima, tapi logikanya kadang setara warung kopi di pojok terminal.
Saya sudah keliling dunia. Dari hotel kelas teri yang AC-nya lebih banyak berfungsi sebagai kipas angin, sampai hotel kelas kakap yang kursinya empuk seperti pelukan malaikat. Baru kali ini saya menemukan fenomena sarapan yang begitu diskriminatif. Boleh tidur berdua, tapi makan pagi harus sendiri-sendiri. Seakan-akan cinta sejati pun diuji lewat piring omelet dan croissant.
Ketika panitia pamit, saya spontan melontarkan kalimat sederhana, penuh humor sekaligus sarkasme: “Terima kasih panitia atas fasilitasnya, sampaikan salam hormat saya… saya akan mempersiapkan diri berpuasa besok.” Kalimat itu keluar begitu saja, seperti angin nakal yang menyibak tirai. Panitia muda itu tersenyum kecut, mungkin dalam hati ia berkata: “Aduh, salah sasaran.” Bukankah memang sering kali kita harus menyalakan lilin humor untuk membongkar gelapnya kejanggalan?
Ternyata, humor punya daya magis. Tengah malam, tepat pukul 00.00, pesan WhatsApp masuk ke ponsel istri saya: “Maaf Dok, ada revisi. Breakfast berlaku untuk dua orang. Mohon maaf atas kelalaian panitia.” Saya membaca pesan itu, ternyata doa humor pun bisa mengetuk pintu hati panitia. Cukup dengan senyum sinis, aturan bisa tiba-tiba dilunakkan.
Saya pun tertawa dalam hati. “Batal Berpuasa,” begitu balasan singkat saya. Ada rasa lega, tapi juga geli: betapa sepotong kalimat bisa jadi cambuk yang lebih tajam dari pedang. Betapa sebaris humor bisa mengoreksi protokol yang lupa mengukur kemanusiaan. Bukan perkara lapar atau kenyang, tapi perkara logika: masa iya, dalam kemewahan selangit, ada orang yang masih berhemat di meja sarapan?
Lihatlah betapa sering kita tersandung bukan oleh batu besar, melainkan oleh kerikil kecil yang terabaikan. Hotel Shangri-La boleh saja menjulang setinggi langit, tapi yang membuat tamunya tersenyum bukanlah marmer mengkilap di lobby, melainkan secangkir teh hangat yang dibagi dengan adil. Kadangkala kemewahan justru runtuh hanya karena seiris roti yang enggan dibagi.
Malam ini saya kembali merenung: hidup memang lucu. Kadang kita perlu menertawakan hal-hal yang mestinya memalukan. Kadang kita harus menyulap rasa kecewa jadi bahan guyon, karena hanya dengan begitu, kebenaran bisa masuk tanpa membuat luka. Saya belajar bahwa puasa bisa batal bukan hanya karena sesuap nasi, tapi juga karena sebuah pesan WA tengah malam yang isinya: “Maaf, ada revisi.”
Di balik kisah ini, saya ingin mengucapkan terima kasih: kepada panitia yang akhirnya sadar, kepada hotel yang akhirnya memperbaiki, dan kepada humor yang selalu setia menyelamatkan suasana. Karena di dunia yang serba formal ini, sering kali justru kelakar kecillah yang menyembuhkan luka. [HTB]
Hotel Shangri La, 19 September 2025
Pk. 05.42 WIB
