Oleh : Tammasse Balla

Ada untungnya jika kita dipandang “sebelah mata”. Biasanya, perlakuan itu akan menjadi “dinamit” dan motivasi tersendiri untuk maju. Hal itu pernah kualami. Setelah tamat SMA tahun 1985, saya memilih Unhas.Teman-temanku memilih Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran. Saya lulus di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia. Pilihanku menekuni Sastra Indonesia dianggap seperti orang menanam benih di tanah tandus—sia-sia, tak berbuah. Ada yang menertawakan, ada yang meremehkan. “Ah, jurusan murahan,” kata mereka. Aku hanya menunduk, tersenyum getir, menahan luka yang menggerus dada.

Namun aku tahu, setiap luka itu menyimpan energi. Seperti bom waktu, ia berdetak dalam diam. Hinaan demi hinaan justru menjadi jarum jam yang bergerak menuju saatnya sendiri. Aku tidak melawan dengan teriakan, tidak membalas dengan hujatan. Aku hanya menunggu, karena waktu adalah hakim paling adil.

Diamku bukan kalah, sabarku bukan menyerah. Diamku adalah penyimpanan tenaga, sabarku adalah tabungan ledakan. Hari ini mereka boleh menertawakan, tapi aku tahu, pada saatnya nanti mereka akan kehabisan suara. Hari ini mereka boleh meremehkan, tapi kelak mereka sendiri yang akan “melempar handuk.”

Allah Maha Pengatur. Ia tidak membiarkanku berjalan sendirian. Ia hadirkan jodoh terbaik: seorang dokter, pintar sekaligus kreatif. Dari titik itulah kehidupanku berputar. Bom waktu yang kusimpan lama mulai berdenyut dengan ritme kemenangan, bukan untuk menghancurkan siapa pun, melainkan untuk menguatkan jalan hidupku.

Aku melangkah lebih jauh. Dari satu negeri ke negeri lain, dari satu benua ke benua lain. Lima benua telah kusambangi, hanya Afrika yang masih menunggu ketetapan Allah. Setiap perjalanan itu adalah jawaban atas hinaan masa lalu. Ledakannya bukan bunyi menggelegar, melainkan cahaya yang membuat mata orang lain terbelalak.

Dari rahim istriku lahirlah dua putri yang mengikuti jejak ibunya: menjadi dokter. Mereka adalah warisan cahaya, bukti bahwa apa yang dulu dianggap kecil, ternyata mampu melahirkan sesuatu yang besar. Mereka adalah saksi bahwa bom waktu bukanlah alat penghancur, melainkan mesin kehidupan.

Kini aku paham, bom waktu itu bukanlah dendam yang meledak. Ia adalah sabar yang matang. Ia adalah keyakinan bahwa Allah menyimpan keadilan dalam waktu yang tak pernah kita duga. Ketika dentumannya tiba, aku tak perlu berkata apa-apa lagi. Cukup berjalan, cukup berkarya, cukup bersyukur. Sisanya biarlah dunia yang mendengar dentumannya sendiri. [HTB]


Central Park, Jakarta, 21 September 2025
Pk. 17.32 WIB

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.