Oleh : Tammasse Balla

Hidup ini sering kali lucu, sekaligus getir. Ada orang yang dulunya sama-sama kita merasakan panasnya bangku kuliah, sama-sama antre nasi di kantin, sama-sama mengeluh soal dosen killer, tapi hari ini wajahnya berubah. Bukan wajah yang sebenarnya, melainkan topeng baru yang ia pilih untuk menutupi wajah lamanya. Ketika dunia memberi panggung, ia mulai lupa pada suara-suara kecil yang dulu menemaninya menapaki jalan.

Beberapa hari lalu, saya berjumpa dengan seorang adik kelas. Dulu, ia biasa menyapa saya dengan wajah sumringah, bahkan sering meminta catatan kuliah atau sekadar menumpang diskusi di emperan fakultas. Kalli ini, perjumpaan itu lain. Kami berada di pesawat yang sama. Ia masuk lebih dulu lewat pintu bisnis, saya lewat pintu ekonomi. Dari jauh saya melihat jas yang membungkus tubuhnya, langkah kakinya tegap, tapi seperti dibuat-buat, seakan-akan jalan kaki pun harus diatur ritmenya.

Saya tersenyum dalam hati. Tidak ada yang salah dengan kemewahan. Tidak ada yang berdosa dengan keberhasilan. Yang salah adalah ketika keberhasilan menjadi tirai yang menutup mata dari masa lalu. Saya ingin menyapanya, sekadar menyebut nama, sekadar melempar senyum nostalgia. Namun, ia buru-buru memalingkan wajah, seperti takut ketahuan pernah punya masa biasa-biasa saja.

Saya membatin, betapa tipisnya garis antara percaya diri dan sombong, antara maju ke depan dan melupakan ke belakang. Seperti kacang yang lupa akan kulitnya, ia merasa manisnya hari ini lahir begitu saja, tanpa kulit yang dulu melindunginya dari pahitnya tanah. Ia lupa bahwa kemewahan bukanlah pakaian sejati, melainkan pinjaman yang kapan saja bisa diambil kembali oleh Tuhan. Allah sudah berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Orang yang lupa diri biasanya bukan benar-benar lupa, tetapi memilih untuk tidak mengingat. Ia tahu betul siapa kawan-kawan lamanya, siapa guru yang dulu menuntunnya, siapa saudara yang dulu menolongnya. Ia sengaja menghapusnya dari naskah hidupnya, agar panggung hari ini tampak lebih gagah, lebih bersih dari jejak-jejak sederhana masa lalu.

Padahal, harga seseorang bukan diukur dari tebalnya jas atau mahalnya tiket pesawat, melainkan dari seberapa rendah ia bisa menunduk walau sudah berada di atas. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim). Sungguh, dunia ini terlalu singkat untuk dipakai bergaya. Hari ini kita duduk di kursi bisnis, esok bisa saja kita kembali duduk di kursi biasa. Ketika hidup memutar roda, hanya kenangan persaudaraanlah yang bisa menyelamatkan kita dari sepi.

Saya tersenyum sendiri dalam pesawat. Biarlah ia dengan kebanggaannya, saya dengan doa saya. Karena hidup ini tidak menunggu siapa lupa atau siapa ingat. Hidup terus berjalan, dan Tuhan tidak pernah keliru menghitung. Yang sombong akan ditundukkan, yang rendah hati akan ditinggikan. Jangan sekali-kali lupa diri, sebab melupakan orang lain sesungguhnya adalah cara tercepat melupakan dirinya sendiri.


Hotel Shangri La Jakarta, 18 September 2025
Pk. 18.12 WIB

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.