Oleh : Tammasse Balla

Hidup seringkali menyimpan rahasia yang tak disangka-sangka. Ejekan yang kita dengar hari ini bisa saja menjadi kenyataan indah di kemudian hari.

Sekitar medio 1980, saya pernah curhat kepada Ayahku. “Pak, bakat saya amat besar kurasakan dalam dunia bulutangkis. Saya ingin sekali menjadi pemain nasional bahkan ingin menjadi pemain tingkat dunia seperti Tjun Tjun dan Christian Hadinata. Saya punya bakat main ganda.”

Ayahku menimpali, “Amat bagus cita-citamu, Nak. Namun, Ayah ingin sekali melihatmu jadi sarjana. Bahkan Ayah memimpikan kamu suatu waktu jadi dosen di Universitas Hasanuddin dan akan menjadi profesor.”

Mendengar jawaban Ayahku, saya tambah bingung. Ada beberapa kata yang membuatku asing: dosen, Universitas Hasanuddin, dan profesor. Apa maksud Bapak dengan menjadi “dosen di Universitas Hasanuddin” dan “profesor”? Kata-kata itu terdengar asing di telinga anak kampung seusiaku.

Ayahku panjang lebar menjelaskan pertanyaanku itu. Saya maklum dengan cita-cita Ayahku, sebab ia seorang guru. Lalu saya balik berkata, “Pak, kalau anaknya Ayah diizinkan masuk SMA Ragunan Jakarta, akan saya pilih jurusan bulutangkis. Bukankah Ayah akan bangga menyaksikan nanti anaknya main di Turnamen All England yang disiarkan live TVRI?” Begitu argumentasiku meyakinkan Ayahku.

Namun, Ayahku tetap pada pendapatnya. Akhirnya saya mengalah dan masuk SMA umum di kampung.

Saat SMA, saya berangkat ke sekolah setiap hari dengan motor tua pemberian Ayah, sebuah Suzuki A100 merah berplat DD 8500 BY. Di atas motor itu selalu menempel sebuah tas besar penuh buku, yang saya ikat di sadelnya.

Tas besar itulah yang menjadi bahan candaan teman-teman. Setiap kali saya masuk kelas, mereka serentak berkata, “Ssssstttt… ada Pak Dosen tiba!” Saya hanya tersenyum. Dalam hati, saya membatin, “Semoga ini doa, semoga suatu saat aku benar-benar jadi dosen.”

Teman-teman saya mungkin menganggapnya sekadar gurauan. Tapi saya percaya, ucapan adalah doa. Kata-kata, meski lahir dari canda, bisa berubah menjadi kenyataan bila kita bersungguh-sungguh. Sejak saat itu, saya simpan ledekan itu sebagai motivasi. Saya ingin membuktikan bahwa doa—bahkan doa yang tak disengaja—bisa menjadi kenyataan bila kita bekerja keras.

Tahun demi tahun berlalu. Saya memilih melanjutkan pendidikan. Dari kampung, saya masuk Universitas Hasanuddin. Saya belajar, berjuang, jatuh bangun, hingga akhirnya menjadi seorang dosen. Ejekan itu, yang dulu hanya sebuah candaan, kini menjelma kenyataan. Saya benar-benar menjadi Pak Dosen.

Waktu terus bergulir. Pada tanggal 30 Desember 1989, saat wisuda, saya dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Unhas. Ayahku diundang memberikan sambutan mewakili orang tua para wisudawan. Betapa bangganya Ayahku waktu itu.

Dua puluh lima tahun kemudian, saya bertemu dengan salah satu teman SMA di sebuah terminal bus. Ia memandang saya lama, lalu berkata, “Hai, Tammasse, ya?” Saya tersenyum, “Ya, betul.” Lalu ia bertanya lagi, “Kamu dosen di Unhas, ya?” Saya jawab, “Benar. Karena kalian sudah mendoakan sejak SMA dulu.”

Wajahnya terdiam, lalu tertawa kecil. Ia baru menyadari bahwa apa yang dulu hanya gurauan ternyata sungguh-sungguh terwujud. Dari ejekan lahir kenyataan. Dari canda tumbuh harapan. Begitulah cara Tuhan bekerja: melalui hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele.

Kini, setelah puluhan tahun menjadi dosen, pangkat saya sedang diproses untuk diangkat ke jenjang Pembina Utama Madya Golongan IV/d, yang setara dengan Profesor. Cita-cita Ayahku segera akan terkabul. Namun takdir berkata lain: Ayahku, termasuk Ibuku, tak sempat menyaksikan anaknya dilantik menjadi Profesor.

Saudara-saudaraku, terutama generasi muda, pelajaran yang bisa kita ambil adalah: jangan remehkan kata-kata. Apa pun yang keluar dari mulut kita adalah doa. Bisa jadi doa baik, bisa pula doa buruk. Karena itu, jagalah lisan. Biasakan mendoakan kebaikan untuk sesama. Siapa tahu, doa itu kembali kepada diri kita sendiri.

Pesan moral bagi kalian yang sering diejek atau dipandang sebelah mata: jangan berkecil hati. Jadikan ejekan itu sebagai motivasi. Jangan berhenti di perasaan sakit, tetapi ubah menjadi semangat untuk membuktikan diri. Ingatlah, apa yang kini dianggap gurauan, bisa saja esok menjadi kenyataan indah yang membanggakan.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.