Judul: Migrasi & Orang Bugis
Penulis: Andi Ima Kesuma
Editor: Nursam
Penerbit: Ombak
Tahun Terbit: 2004
Jumlah Halaman: xviii + 170
ISBN: 9793472227
Pembahasan utama buku ini adalah bagaimana migrasi yang dilakukan oleh orang orang dari Sulawesi Selatan pada umumnya, dan khususnya orang Bugis. Selain suku Bugis, suku Makassar, Mandar dan Toraja juga melakukan migrasi sejak zaman dahulu kala. Bagi orang Bugis jiwa pelaut dan penjelajah mereka telah mengakar kuat, dan mengantarkan mereka menjelajah samudra, baik di dalam kawasan Nusantara maupun di luar Nusantara.
Diungkapkan dalam buku ini bahwa ada beberapa penyebab perpindahan (migrasi) orang orang Bugis ke daerah lain, selain jiwa penjelajahan mereka, juga karena faktor ekonomi (perdagangan), faktor geopolitik dan juga bencana alam. Diuraikan dalam buku ini pula, bahwa orang Bugis, jika merasa hidupnya tidak tentram karena adanya perang, maka beramai ramai mereka akan meninggalkan kampung halaman dan mencari penghidupan di negeri lain yang lebih aman, damai dan sejahtera.
Ada juga penjelasan tentang salah seorang tokoh Bugis yang bermigrasi ke Johor, Malaysia yaitu Opu Daeng Rilakka yang merupakan keturunan Datu Luwu, We Tenrileleang. Disebutkan bahwa tahun 1861 orang orang Bugis telah membuka Negeri Kuala Selangor dan Kuala Kelang. Opu Daeng Rilakka adalah yang menjadi perintis pembukaan negeri yang kemudian dilanjutkan oleh kelima putranya.
Buku ini terdiri dari 5 bab, diawali dengan pendahuluan yang membahas : pengantar, permasalahan dan pendekatan, serta pokok bahasan. Selanjutnya diuraikan pula makna sejarah, perihal perang, masalah migrasi dan sekilas informasi tentang Wajo. Keadaan Nusantara pada abad ke-16 sampai abad ke-18 juga dibahas diantaranya tentang bagaimana persaingan antar imperium, perang VOC – Makassar, Revans pada Wajo dan pelayaran Nusantara. Pembahasan terakhir adalah bagaimana migrasi orang orang Bugis ke Johor, Malaysia. Pada bagian ini diulas tentang gelombang migrasi, Johor pada abad ke-15 sampai abad ke-18, bagaimana pembauran oleh orang Bugis di tempat kehidupan baru dan tentan meretas wawasan Nusantara.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang istilah istilah bahasa Bugis yang terkait dengan migrasi, misalnya istilah ‘mallakke dapureng’ (memindahkan dapur) yang dimaksudkan sebagai perpindahan habitasi yang disebabkan sesuatu prinsip dasar yang menjadi acuan dalam mempertahankan nilai nilai yang telah menjadi suatu pandangan hidup orang Bugis yaitu ‘siri’’ (harga diri, malu, harkat). Istilah lainnya misalnya ‘sompe’ (berlayar) yang dimaksudkan sebagai merantau karena ingin memperbaiki nasib di negeri lain dan akan kembali ke kampung pada suatu saat nanti.
Buku ini cukup lengkap membahas tentang migrasi orang Bugis khususnya Bugis dari daerah Wajo, salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan sekarang ini. Selain memberikan contoh keberadaan Opu Daeng Rilakka yaitu orang Bugis yang bermigrasi ke Johor Malaysia beberapa abad lalu, juga menjelaskan bahwa migrasi orang Bugis bukan semata mata karena faktor ekonomi. Buku ini juga banyak mengulas tentang istilah istilah bahasa Bugis yang terkait migrasi. Keunggulan lain buku ini adalah adanya indeks, yang dapat memudahkan pembaca untuk mencari dan menemukan topik topik tertentu yang dibutuhkannya.
Pembahasan dalam buku ini hanya pada satu daerah tempat migrasi orang Bugis yaitu di Johor, Malaysia, padahal migrasi orang Bugis hampir ke seluruh daerah di Indonesia bahkan di kawasan Nusantara. Buku ini juga dicetak secara terbatas sehingga kemungkinan masyarakat umum akan kesulitan untuk membeli dan memilikinya. Tidak semua perpustakaan memiliki buku ini dalam koleksinya.
Buku koleksi Referensi, UPT Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

