Ramdhani Abdurrahim menerbitkan bukunya yang ke-11. Kali ini, buku yang berjudul “99 kisah inspiratif perspektif hikmah Qur’ani” mendapat sentuhan gaya selingkung Elfatih Media Insani dan nuansa Bengkel Narasi. Buku ini dicetak apik dengan dimensi 13 x 20 cm dalam balutan soft cover berisi 364 halaman bookpaper, dijamin handy dan sangat nyaman dibaca.
Ramdhani Abdurrahim mengutip perkataan Imam Abu Hanifah. “Kisah-kisah tentang para ulama dan keutamaan mereka lebih aku sukai dari kebanyakan permasalahan fikih. Sebab, kisah-kisah tersebut adalah buah dari perilaku manusia.”
Buku ini menyajikan 99 kisah inspiratif, mulai dari Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya, imam mazhab, serta para ulama dan orang-orang saleh lainnya. Buku ini tidak sekadar menyajikan cerita kisah, namun dilengkapi dengan hikmah dan petunjuk Al-Qur’an yang terkait dengan kisah dimaksud.
Lalu, mengapa harus memiliki buku ini? Bukankah kisah-kisah inspiratif tersebut dapat dengan mudah kita Googling? Lebih praktis membaca ebook, kan?
Tunggu dulu. Saya juga peselancar andal di Google. Betul sekali, kisah-kisah inspiratif dapat dengan mudah kita temukan di internet. Namun, hasil Googling biasanya random dan parsial. Cukup terinspirasi ketika membacanya di layar gawai, tentu saja. Namun, apakah inspirasi tersebut akan mengkristal dalam jiwa kita? Dengan pola random dan parsial, saya yakin tidak.
Jujur, ini bukan buku bergenre Islam pertama yang saya garap. Namun, inspirasi yang dihadirkan dalam buku ini begitu membekas di jiwa. Membaca kisah pertama membuat saya terusik. Membuka halaman berikutnya, saya pun tertegun. Bahkan, ada kisah yang membuat saya sampai menitikkan air mata. Apalagi kalau bukan kisah tentang ibu? Ibarat dibombardir, inspirasinya tidak hanya sekadar lewat di pikiran, melainkan membekas di jiwa hingga meruntuhkan keangkuhan dan ego manusiawi. Sensasi ini tidak akan Anda dapatkan jika membaca dari artikel secara daring.

Lalu, mengapa tidak ebook saja? Baiklah, kita buka lagi artikel saya sebelumnya yang berjudul “Buku Vs Ebook: Romantisme yang Tak Tergantikan“.
Saya sendiri merasa agak miris dengan kecenderungan ebook saat ini. Jauh dari filosofi buku sebagai “kartu nama” atau “kado”, ebook cenderung menjadi mesin pengumpul cuan dengan dalih transformasi digital perbukuan. Bahkan, di sebuah kesempatan mengikuti proyek pengadaan ebook, saya merasa miris melihat kualitas ebook yang diajukan. Isi dan tata letaknya asal-asalan. Bahkan, ada kecenderungan memecah naskah buku menjadi beberapa judul ebook. Yang dikejar adalah target jumlah judul ebook, tidak lebih dari itu.
Bagi saya, buku tercetak tetap menjadi pilihan. saya sudah terbiasa membaca buku sebagai referensi sejak masa sekolah dan kuliah. Bagi saya, membaca buku lebih fleksibel. Saya bisa menemukan bahasan-bahasan yang penting dan mudah untuk diingat. Selain itu, saya pun bisa menandai bagian mana yang sudah dibaca.
Tidak seperti membaca ebook, membaca buku tidak menyebabkan mata lelah dan pusing karena terkena radiasi layar gawai. Bahkan, dengan sedikit kreativitas, deretan buku-buku pada rak dapat berfungsi sebagai hiasan rumah. Semakin betah di rumah, kan?
Hingga saat ini, saya termasuk orang yang lebih menyukai membaca buku secara konvensional. Bagi saya, membaca sudah identik dengan buku. Buku memiliki romantisme tersendiri: mengelilingi rak-rak di toko buku saat membelinya, memegangnya, membuka lembar-lembar kertasnya, dan mencium aroma bookpaper itu sangat menggairahkan.
Terakhir, membaca buku konvensional bisa mengalihkan mata dan perhatian kita dari gawai. Cobalah menyeduh secangkir kopi untuk menemani kita membaca. Bandingkan antara membuka lembaran buku konvensional dengan mengusap ebook melalui layar smartphone. Apa yang terjadi? Saya bisa bertahan berjam-jam membaca buku konvensional di kedai kopi. Namun, ketika membaca ebook, saya selalu tergoda oleh notifikasi Facebook, Instagram, dan WhatsApp. []
