Catatan : Tammasse Balla

Hari ini, Universitas Hasanuddin (Unhas) menapaki usia ke-69, sebuah fase yang ibarat manusia telah mencapai puncak kematangan. Jika ia diibaratkan seorang Profesor, satu tahun lagi memasuki masa purnabakti. Namun, Unhas tidak mengenal pensiun; ia justru ditantang untuk semakin kokoh, semakin bijak, dan semakin luas menjangkau peradaban.

Unhas bukan sekadar kampus, melainkan rumah besar tempat pikiran ditempa dan harapan dititipkan. Dari ruang kuliah sederhana hingga laboratorium berteknologi tinggi, dari mimbar akademik hingga sunyinya perpustakaan, setiap sudutnya menyimpan cerita tentang generasi yang berganti dan peradaban yang tumbuh perlahan-lahan.

Selama hampir tujuh dekade, puluhan ribu alumni telah lahir dari rahim Unhas. Mereka menyebar ke berbagai penjuru negeri bahkan dunia. Ada yang menjadi dokter penyelamat nyawa, insinyur pembangun jembatan, guru penyulut cahaya ilmu, politisi penggerak kebijakan, hingga penulis yang menorehkan kata. Semua membawa jejak merah Unhas dalam darahnya.

Enam puluh sembilan tahun bukan sekadar hitungan angka, melainkan catatan perjalanan penuh jatuh bangun. Ada masa ketika Unhas berdiri dalam keterbatasan, ada masa ketika ia berlari mengejar standar dunia. Luka dan tawa, keterpurukan dan kebangkitan, semuanya menjadi fondasi yang menguatkan langkahnya hari ini.

Kini, Unhas berdiri di ambang mimpi besar: menjadi Pemimpin Universitas Kelas Dunia. Cita-cita itu bukan sekadar kebanggaan simbolik, melainkan tanggung jawab luhur. Untuk menjadi Pemimpin Universitas Kelas Dunia, tidak hanya diukur dari peringkat, tetapi dari keberanian mengubah ilmu menjadi amal, pengetahuan menjadi solusi, dan riset menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang.

Dalam batang usia matang ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya melahirkan sarjana, tetapi manusia seutuhnya. Bukan sekadar mencetak ijazah, melainkan jiwa. Bukan hanya menumpuk teori, tetapi juga menumbuhkan nurani. Kita paham bahwa peradaban sejati tidak tumbuh dari kecerdasan otak semata, melainkan juga dari kebeningan hati.

Dies Natalis ke-69 menjadi cermin yang memantulkan pertanyaan mendasar berikut. Apakah kita tetap setia pada cita-cita awal mendidik anak bangsa untuk berdaulat dalam ilmu? Apakah kita terjebak dalam hiruk-pikuk gelar dan peringkat, lalu perlahan-lahan melupakan akar kemanusiaan? Jawaban atas pertanyaan itu harus lahir dalam kerja nyata, bukan sekadar wacana dan retorika kosong.

Unhas adalah perahu besar yang berlayar di samudra luas. Seringkali ia diterpa badai globalisasi, tak jarang terseret arus modernitas, bahkan tak kurang dihempas gelombang politik. Namun, nakhodanya adalah ilmu, layarnya adalah iman, dan awaknya adalah generasi yang silih berganti. Karena itu, perahu ini harus terus berlayar, tidak boleh karam di tengah jalan.

Pada usia ke-69 ini, rasa syukur menjadi penutup sekaligus pembuka. Syukur atas perjalanan panjang, atas karya yang terukir, dan atas masa depan yang masih terbentang luas. Semoga Unhas tidak hanya sekadar menjadi universitas, tetapi juga cahaya yang menerangi jalan bangsa. Universitas sejatinya bukan hanya milik dosen dan mahasiswa, melainkan milik peradaban manusia.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Menyuburkan ilmu dan menumbuhkan hikmah, jadikanlah Universitas Hasanuddin cahaya yang tak pernah padam; bagai api nan tak kunjung padam. Jadikanlah ia pohon raksasa yang akarnya menghunjam dalam keimanan, batangnya kokoh dalam kebenaran, dahannya menjulang dalam cita-cita, dan buahnya manis dalam manfaat.

Anugerahkanlah kekuatan kepada para pemimpinnya, dosennya, dan mahasiswanya agar tetap ikhlas menyalakan obor ilmu, meski tubuhnya renta. Limpahkanlah kesungguhan bagi para mahasiswanya, agar tidak hanya cerdas dalam angka-angka, tetapi juga jernih dalam hati dan teguh dalam akhlak.

Ya Allah, bimbinglah para alumninya yang telah bertebaran di berbagai penjuru bumi, agar langkah mereka selalu kembali pada niat yang murni: mengabdi, melayani, dan menyalakan harapan. Jangan biarkan mereka lupa bahwa ilmu adalah amanah, dan pengetahuan adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Yaa Rabb, pada ulang tahun ke-69 ini, jadikanlah Unhas bukan sekadar universitas, tetapi rumah kebijaksanaan, ladang kebenaran, dan mercusuar peradaban. Biarlah dari kampus ini mengalir mata air kebaikan, yang menyejukkan bumi Sulawesi, menyuburkan Indonesia, dan menerangi dunia. “Ilmu tanpa cinta hanyalah angka-angka yang dingin. Cinta tanpa ilmu hanyalah perasaan yang rapuh. Namun, ilmu yang berpadu dengan cinta—itulah cahaya yang akan memimpin bangsa menuju peradaban sejati.” [HTB]

Unhas Fun Walk, 13 September 2025
Pk. 07.27 WITA

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.