Oleh : Tammasse Balla
Takdir adalah misteri yang turun ke bumi bersama tangis pertama bayi yang lahir. Ia ibarat tinta tak terlihat yang telah ditorehkan pada lembaran jiwa manusia. Namun, sebagaimana malam tidak menghalangi terbitnya fajar, demikian pula takdir tidak selalu memenjarakan langkah. Ada garis yang tak bisa kita ubah—siapa ibu yang melahirkan kita, kapan ajal menjemput, dan tanah mana yang menyambut tubuh kita kelak. Selain itu, bentangan hidup masih luas, menunggu goresan tangan kita sendiri.
Hidup adalah nyanyian antara ketentuan dan kebebasan. Tuhan memberi kita “sayap”, tetapi kita sendiri yang menentukan arah terbangnya. Lahir miskin bukanlah rantai yang membelenggu, melainkan undangan untuk menyalakan api perjuangan. Lahir dengan kekurangan bukanlah kehinaan, melainkan tanda bahwa kita diberi kesempatan membangun kekuatan dari kelemahan. Kaum bijak bestari pernah berpesan bahwa kita boleh lahir dalam keadaan miskin, tapi jangan pernah kita mati dalam keadaan miskin.
Manusia tidak boleh menyerah pada nasib. Takdir bukan alasan untuk malas. Sama halnya petani yang menanam padi, ia tahu bahwa hujan dan panas adalah kuasa Allah, namun cangkul tetap harus digenggam, tanah tetap harus dibuka. Takdir memberi batas, tetapi usaha memberi isi. Inilah jalan tengah antara penyerahan diri dan perjuangan hidup.
Mengubah takdir berarti menolak duduk pasrah dalam bayang-bayang nasib. Seorang anak yang lahir dalam keluarga miskin bisa bangkit menempuh pendidikan, bekerja keras, hingga berdiri sebagai Profesor, pemimpin, bahkan ulama. Itulah takdir mu‘allaq—takdir yang terikat pada usaha manusia. Dengan doa yang tulus dan kerja yang sungguh-sungguh jalan hidup bisa ditulis ulang dengan tinta emas perjuangan.
Manusia ibarat pelukis yang diberi kanvas kosong oleh Tuhan. Garis awal memang telah ditetapkan, tetapi warna-warna yang menghiasi kanvas itu adalah pilihan kita. Ada yang memilih warna muram, ada pula yang berani melukis pelangi di tengah badai. Jadi, “mengubah takdir” bukanlah melawan kehendak Ilahi, melainkan menjemput peluang yang telah Tuhan sisipkan dalam setiap kesulitan.
Doa bukanlah jalan untuk mengganti kehendak Tuhan, melainkan cara untuk membuka pintu rahmat yang belum kita ketahui. Dengan doa, manusia membasuh hatinya dari putus asa. Dengan ikhtiar, manusia menunjukkan kesungguhan. Takdir yang keras bisa luluh oleh kesabaran, dan takdir yang pahit bisa berubah menjadi manis bila jiwa tetap teguh berharap.
Mengubah takdir berarti melangkah dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menutup jalan bagi hamba-Nya. Setiap kesulitan membawa peluang, setiap keterbatasan memunculkan daya cipta. Orang yang lahir dengan kekurangan bisa menciptakan kelebihan yang justru melampaui mereka yang terlahir sempurna. Seperti malam yang gelap melahirkan cahaya bintang, demikian pula kesempitan hidup bisa melahirkan keluasan jiwa.
Pada akhirnya, takdir bukanlah dinding batu yang tak tertembus, melainkan pintu yang menunggu diketuk. Ada takdir yang harus diterima dengan lapang dada, dan ada takdir yang menanti keberanian untuk diubah. Mengubah takdir bukan berarti menantang Tuhan, tetapi menjalani hidup sesuai pesan-Nya: bahwa manusia diciptakan bukan untuk menyerah, melainkan untuk berjuang. Di sanalah manusia menemukan makna hidupnya—antara menerima dan mengubah, antara pasrah dan berusaha. [HTB]
Taman Angggrek Jakarta, 18 September 2025
Pk. 11.48 WIB
