Oleh : Rahmawati

Tahun 1998 menjadi titik balik paling berani dalam perjalanan hidupku. Dari tanah kelahiran, Tanete-Bulukumba yang penuh kenangan, aku melangkah menuju seberang lautan ke Kota Kendari dengan satu tujuan besar, “menuntut ilmu”. Kelulusan di Universitas Halu Oleo bukan sekadar kabar gembira, melainkan panggilan untuk meninggalkan zona nyaman dan menata masa depan dengan tangan sendiri.

Awal perantauan kubangun landasan keyakinan, “Langkah kecil, mimpi besar”. Perjalanan menuju Kota Kendari bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga peralihan batin. Ada rindu yang ditinggalkan, ada takut yang dipeluk erat, dan ada harapan yang disematkan di setiap doa.

Kota Kendari Sulawesi Tenggara menyambut dengan wajah baru. Terasa asing namun menjanjikan. Di sanalah aku belajar berdiri sendiri, mengatur waktu, mengelola keuangan, dan meneguhkan tekad sebagai perantau yang ingin tumbuh.

Kampus sebagai rumah kedua. Universitas Halu Oleo menjadi ruang pembentukan karakter. Di lorong-lorong kampus, aku mengenal disiplin, persahabatan, dan daya juang. Tahun 1998 mengajarkanku bahwa ilmu bukan hanya soal nilai, tetapi tentang ketekunan dan ketahanan. Setiap tantangan akademik adalah latihan mental untuk menatap hari esok dengan lebih siap.

Pertemuan yang Mengubah Arah

Pada tahun yang sama, takdir mempertemukanku dengan seseorang yang menjadikan aku sebagai pilihan hatinya untuk merajut kasih dan menjadikanku istri dan ibu dari anak-anaknya.

Pertemuan itu datang tanpa rencana, seperti semesta yang diam-diam menyusun skenario hidupku. Di tengah kesibukan kuliah dan adaptasi sebagai perantau, hadir sosok yang kelak menjadi bagian penting dalam kisah hidupku. Awalnya sederhana, perbincangan ringan, perhatian kecil, hingga ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Namun waktu membuktikan, pertemuan itu bukan sekadar persinggahan, melainkan persimpangan yang mengubah arah perjalanan.

Dari perkenalan yang bersahaja, kasih itu berkembang menjadi ikatan. Aku belajar berbagi mimpi, menyatukan harap, dan menata masa depan bersama. Menjadi istri lalu ibu adalah peran baru yang menuntut kedewasaan lebih dari sekadar usia. Pada titik itu, aku memahami bahwa cinta bukan hanya tentang bahagia, tetapi tentang bertahan, berjuang, dan saling menguatkan di tengah keterbatasan.

Menjadi Dewasa di Tanah Rantau

Kendari mengajariku banyak hal tentang hidup yang tak selalu ramah, tentang rencana yang kadang tak berjalan sesuai doa, dan tentang kekuatan seorang perempuan yang terus bangkit meski lelah. Aku belajar menyeimbangkan mimpi pribadi dengan tanggung jawab keluarga, menguatkan hati saat jarak dan keadaan menguji, serta menanamkan nilai keteguhan kepada anak-anakku. Aku mulai memahami masa depan tidak hanya disongsong dengan keberanian melangkah, tetapi juga dengan keikhlasan menerima perubahan. Setiap pengalaman manis maupun pahit, menjadi bekal untuk melangkah lebih arif.

Kini, ketika menoleh ke belakang, seberang lautan itu bukan lagi sekadar jarak antara kampung halaman dan kota perantauan. Ia adalah simbol transformasi: dari gadis yang membawa koper harapan, menjadi perempuan yang ditempa oleh waktu, cinta, dan tanggung jawab. Kendari menjadi saksi bahwa mimpi bisa tumbuh jauh dari rumah, dan keberanian untuk pergi sering kali adalah awal dari pulang yang lebih bermakna.

Begitulah aku menyongsong masa depan. Aku melangkah dengan keyakinan yang lahir dari perjalanan panjang, bahwa setiap keberanian memiliki harga, dan setiap langkah jujur akan menemukan jalannya sendiri.

Kolaka Utara, 6 Januari 2026

(Visited 24 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.