Di sebuah pemukiman di pinggiran Yerusalem, kakek tua bernama Syaikh Mansur duduk melingkar bersama cucu-cucunya.

Malam itu, angin berhembus membawa aroma zaitun yang kental. Sang cucu terkecil, Yusuf, bertanya tentang mengapa sejarah seolah terus berulang di tanah para Nabi ini.
Syaikh Mansur menghela napas panjang.

“Bukan karena tanahnya yang terkutuk, Yusuf, tapi karena penyakit hati yang dipelihara sejak zaman dahulu.

Al-Qur’an telah memotret sifat-sifat mereka agar kita waspada.”

Syaikh Mansur memulai kisah tentang peristiwa sapi betina (Al-Baqarah).

Dahulu, ketika terjadi pembunuhan misterius, Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi melalui Nabi Musa as.

“Bukannya taat, mereka justru berbelit-belit,” ujar Syaikh Mansur.

“Mereka bertanya warnanya apa? Umurnya berapa? Pekerjaannya apa? Itu bukan karena ingin tahu, tapi kelicikan untuk menghindar dari perintah.

Mereka mencari celah agar perintah itu menjadi mustahil dilakukan.

Itulah akar dari sifat menyulitkan kebenaran yang jelas.”

Ia melanjutkan tentang bagaimana Gunung Sinai pernah diangkat di atas kepala mereka sebagai pengingat janji.

“Allah mengambil janji mereka dengan sangat berat, namun setelah gunung itu diturunkan, mereka berpaling.

Mereka berkata, ‘Kami dengar, tapi kami durhaka’ (Sami’na wa ‘asaina). Kelicikan mereka bukan hanya pada manusia, tapi mencoba ‘bermain-main’ dengan perintah Sang Pencipta. Mereka merasa sebagai bangsa pilihan yang tak tersentuh azab, kecuali hanya beberapa hari saja.”

Salah satu kisah yang paling menonjolkan kecerdikan yang salah jalan adalah kisah Ashabus-Sabt (Penduduk Desa di Tepi Laut). Mereka dilarang menangkap ikan di hari Sabtu.

“Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka memasang jaring di hari Jumat dan mengambil ikannya di hari Minggu.

Secara lahiriah, mereka tampak tidak melanggar aturan Sabat, tapi secara hakiki, mereka menipu Tuhan. Mereka mengira bisa mengakali syariat dengan logika yang bengkok.”

Hati yang Menjadi Batu
Syaikh Mansur menutup ceritanya dengan mengutip sebuah metafora dari Surah Al-Baqarah ayat 74.

“Setelah semua mukjizat itu—laut yang terbelah, awan yang menaungi, hingga makanan dari langit—hati mereka justru membatu.

Bahkan, lebih keras dari batu. Karena batu terkadang masih bisa terbelah dan mengalirkan air, tapi hati yang sudah tertutup kesombongan dan kelicikan tidak akan pernah tersentuh oleh rahmat kecuali mereka bertaubat.”

“Kelicikan yang kita lihat hari ini, Yusuf, hanyalah gema dari sejarah yang tertulis di kitab suci.

Mereka adalah kaum yang pandai mengubah kalimat dari tempatnya (yuharrifunal-kalima ‘an mawadi’ih), memutarbalikkan fakta demi kepentingan duniawi yang sementara.”

“Maka (Kami hukum mereka) karena mereka melanggar janji itu, dan karena kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah…” (QS. An-Nisa: 155)

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.