Ada pemandangan yang terlihat sepele dan akan luput dari perhatian namun sudah menjadi rutinitas di hampir semua bandar udara. Yaitu di saat operator Aircraft Towing Tractor (ATT) melambaikan tangan kepada pilot sebelum berbalik arah, sesaat setelah mendorong mundur pesawat dari area parkir atau apron ke jalur taxiway, dan pesawat berputar pelan menuju posisi take off. Seolah itu menjadi kewajiban sang operator, yang entah dibalas oleh pilot atau tidak, penulis tak pernah tahu.
Sekilas ini bukan hal yang spesial. Bahkan saat secara iseng ditanyakan ke teman duduk di pesawat, mengapa mereka harus melambaikan tangan? Dijawab, biasa saja itu, ada-ada saja yang diperhatikan.
Akan tetapi coba dibandingkan, hal demikian tidak pernah, atau sangat jarang dilihat kepada sopir saat bus perlahan bergerak meninggalkan terminal. Atau kepada masinis saat lokomotif menarik gerbong meninggalkan stasiun kereta api. Saat kapal laut perlahan meninggalkan tepi dermaga di pelabuhan juga tidak ada yang melambaikan tangan kepada nahkoda.
Lalu apa yang membuat pilot begitu istimewa sehingga mendapat lambaian tangan. Padahal mereka belum tentu berpisah untuk waktu yang lama. Di banyak penerbangan, justru pesawat yang sama dengan pilot yang sama pula kembali ke kota semula dan pilot dengan petugas akan berada lagi di bandara yang sama beberapa jam kemudian.
Sebenarnya apa makna lambaian tangan saat berpisah? Beberapa hasil studi mnyimpulkan ini sebagai simbol komunikasi non-verbal oleh pihak-pihak yang berpisah,. dengan harapan bisa bertemu kembali. Jug asebagai tanda penghormatan dan kasih sayang yang mewakili kata-kata.
Salah satu artikel di halodoc.com menyebut secara mendalam gestur ini bermakna pengharapan, afirmasi hubungan dan warisan budaya. Pengharapan sebagai doa agar perjalanan yang pergi menyenangkan dan selamat sampai tujuan. Afirmasi hubungan menunjukkan kehangatan, ikatan emosional, dan peneghasan bahwa perpisahan itu berjalan dengan baik.
Lalu sebagai warisan budaya, ternyata ini adalah evolusi komunikasi manusia purba yang telah membudaya secara global. Di Indonesia, kebiasaan ini dipengaruhi oleh serapan dari 142 tahun pemerintahan Hindia Belanda. Artinya, sebelum itu kebiasaan ini belum membudaya di tanah air. Seperti Kerajaan Kutai di abad ke-4, Tarumanegara abad ke-5 dampai ke-7, Sriwijaya di abad ke-7 hingga ke-13, atau kerajaan Majapahit yang berkuasa 234 tahun di nusantara.
Begitu juga di beberapa Kesultanan Islam yang muncul kemudian. Yaitu Samudera Pasai, Demak, Aceh Darussalam, Mataram Islam, Ternate dan Tidore, juga Gowa-Tallo. Kesultanan ini rata-rata bersamaan dengan periode Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1602-1799 atau 197 tahun dan pemerintahan Hindia Belanda yang berkuasa pada 1800-1942.
Jadi bisa disimpulkan kalau bahasa tubuh ini berkembang baru 2 abad lebih, dan sampai sekarang bisa dijumpai dalam berbagai suasana.
Selain berpamitan, lambaian tangan juga kerap terlihat untuk menarik perhatian, pertemuan virtual dan isyarat visual. Di beberapa negara, pada umumnya lambaian tangan bermakna sama dan dianggap sopan, yaitu perpisahan. Dengan catatan, gerakannya sama dengan yang dilakukan operator ATT kepada pilot. Lain halnya jika gerakan itu berubah, maka maknanya pun juga berubah. Seperti memanggil, mengusir, atau bahkan menghina.
Jadi, perlakuan istimewa kepada pilot yang tidak terjadi pada sopir, masinis dan nahkoda, sampai tulisan ini dipublikasi masih menyisakan research gap. Tidak ada yang tahu mengapa. Tapi kembali lagi, untuk apa ditanyakan? Dan untuk apa diteliti?
Tulisan ini receh dan sangat biasa. Alias ridiculous. Silly. Dibuat hanya untuk menutupi pikiran yang lagi gabut. Sekadar mengisi waktu luang karena tidak bi(a)sa tidur dalam perjalanan.
Ada-ada aja. Gaje (gak jelas).
Surabaya, 8 Juni 2026
