Buah Kelapa Jatuh, Maut Terasa Begitu Dekat
Ya Allah, aku ngeri membayangkannya. Maut terasa begitu sangat dekat. Apa yang akan menimpaku beberapa menit kemudian siapa yang tahu.
Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi.
Ya Allah, aku ngeri membayangkannya. Maut terasa begitu sangat dekat. Apa yang akan menimpaku beberapa menit kemudian siapa yang tahu.
"Ih Emak, kan ndak kenal sama mereka. Ngapain Emak bikin kopi? Mereka kan sudah membawa bekal juga!"kata salah satu anak Emak.
Aku yang sudah hafal sudah bisa menebak siapa yang lewat. Dia selalu membawa radio kecil atau ponsel.
Aku tulis pengalamanku selama bekerja di Hong Kong. "Selamat Tinggal, Beny!" adalah tulisan perdanaku di Bengkel Narasi.Ternyata tidak ada kritikan sama sekali setelah tulisan perdanaku diposting.
Duhai perempuan tangguh. Duhai perempuan perkasa. Duhai perempuan pahlawan keluarga. Kalahkanlah karang terjal di sana.
Aku melihat si perempuan baruh baya tadi tersenyum dengan gembiranya, tersenyum karena menentang sebungkus bakso. Pasti dia lapar. Aku pun berlalu.
Hari berganti hari. Bulan pun berganti dengan cepatnya. Kakakku yang bekerja di luar negeri sepertinya membawa magnet yang kuat terhadap kakakku yang lain.
Alhamdulillah, tiap minggu aku dikasih libur. Hari libur nasional pun aku dapat libur full. Daripada aku luntang-lantung tidak jelas mau ngapain, akhirnya aku bergabung dengan saudara dan teman-temanku, bergabung di…
Inilah yang membuat aku kuat dan bertahan meskipun kerjaanku di sini banyak menguras emosi. Pembantu sebelumku tidak kuat dengan omongan nenek yang suka cari muka. Apa pun itu, selalu lapor…
"Sesuai laporanmu, aku akan membuat surat panggilan untuk majikanmu, untuk melakukan mediasi. Kalau mediasi ini tidak berhasil, kamu bisa membawa kasus ini ke pengadilan!"