Catatan Perjalanan Menjadi TKW Hong Kong (6)
Tiba-tiba aku punya ide konyol. "Apa aku kabur saja ya, mumpung orang dari agen belum datang menjemputku"! ucapku lirih.
Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi.
Cerita Bersambung
Tiba-tiba aku punya ide konyol. "Apa aku kabur saja ya, mumpung orang dari agen belum datang menjemputku"! ucapku lirih.
Aku berpamitan kepada teman-temanku yang belum dijemput majikan. Tanpa banyak bicara, aku berjalan mengikuti langkah majikan. Kami naik kereta bawah tanah.
Aku jadi salah tingkah. Aku merasa ini tidak adil. Semua seperti menyalahkanku, tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.
ringan, senang rasanya hati ini karena sebentar lagi aku akan berangkat ke Hong Kong.
Saling curhat dan saling bercerita, entah itu tentang masalah keluarga, anak, pacar, ataupun rasa bosannya yang terlalu lama di asrama.
Pemandangan nelangsa ini tiap hari kulihat dengan sangat jelas dan terpampang nyata. Bangun pagi antri mandi sambil bawa buku ngehafal kosakata. Ada juga yang antri makan sambil tangannya nunjuk-nunjuk nasi…
Di kamar ustaz Bai, Jayadi rebahan di kasur tipis yang masih tergelar. Jayadi membolak-balikkan badannya seperti ulat kepanasan. Lantunan murottal Syekh Misyari Rasyid yang mengalun dari tape mungil di sudut…
Sejak wisuda empat bulan lalu, urusan jodoh terasa kian ribet. Ayah atau ibuku bergantian menanyakan kapan aku dilamar orang. Mungkin mereka pikir jodoh itu hanya urusan bertemu seseorang yang dirasa…
Suasana temaram, musik klasik mengalun pelan, lampu berwarna jingga menjadi penerang ruang tak berdinding di lantai dua kafe Urban Link, bilangan jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Di sudut timur bagian depan…
Soal menikah, saya mungkin termasuk kolot. Saya tak tertarik untuk menjemputnya melalui pacaran. Bagiku, jodoh itu akan datang begitu Allah tahu bahwa saya telah siap, dan saya yakin bahwa Allah…