Aku ketakutan. Aku bingung harus bagaimana. Kedua anjing itu berlarian ke sana kemari, sesekali kedua anjing Itu bertengkar dengan kucing, kucing dengan bulu warna hitam. Suasananya sumpek dan sangat berisik. Rumahnya yang tidak terlalu besar membuat pemandangan kian riweuh saja.

Melihatku, kedua anjing Itu kian berisik menggonggong. Mereka tahu kalau aku adalah orang asing yang belum pernah dilihatnya. Melihat aku ketakutan, majikan kemudian memanggil kedua anjing itu. Mereka pun menghampiri sang majikan, minta dimanja. Mereka menjulurkan lidahnya dan terlihat air liurnya menetes di mana-mana.

Oleh majikan, aku diperkenalkan kepada kedua anaknya. Anaknya dua, cowok semua. Umur sekitar 9 tahun dan 11 tahun. Tugasku yang tertera dalam kontrak kerja adalah merawat mereka, dua anak majikan. Menyiapkan makan dan baju-baju mereka. Beberes rumah dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Belajar dan mandi mereka sudah bisa melakukannya sendiri. Majikan perempuan berangkat kerja pagi-pagi sekali. Majikan laki-laki kerjanya di Cina dan jarang pulang. Kadang sebulan atau dua bulan sekali pulangnya.

Aku tidak usah repot-repot membuat sarapan untuk majikan. Biasanya dia sarapan di luar. Setiap pagi, aku hanya menyediakan sarapan untuk anak-anaknya dan menyiapkan segala keperluan sekolahnya.

Untuk keperluanku seperti sabun, shampoo dan lainnya aku beli sendiri dengan memakai uang sendiri.

Bulan pertama kerja, semua berjalan normal. Sesekali aku diajari memasak masakan orang Hong Kong. Dari menumis, menggoreng, ataupun bikin sup. Orang Hong Kong senang sekali makan sup.

Aku makan setelah majikan selesai makan. Aku menyisihkan bahan makanan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau makan bareng sama mereka karena mereka suka makan daging babi. Dari awal, sudah aku jelaskan kalau aku tidak makan daging babi dan sejenisnya yang mengandung unsur babi, dan majikan tidak mempermasalahkannya.

Karena majikan setiap hari kerja dan anak sekolah, aku bisa menunaikan ibadah salat meskipun sering bolongnya. Yang bikin repot itu adalah anjingnya.

Aku tidak punya kamar sendiri, tempat tidurku di tempat belajar anak. Malam hari kalau anak selesai belajar, aku baru bisa istirahat. Tetapi parahnya kalau siang hari, anak belajar dan duduk lama di depan komputer. Kedua anjing itu tiduran nyantai di tempat tidurku.

Pernah suatu ketika aku yang mau menunaikan ibadah salat, sudah wudu, sudah memakai mukena, tiba-tiba aku buang angin, batal dan wudu lagi.

Tempat belajar anak bersebelahan dengan ruang tamu. Di tengahnya disekat oleh pintu kaca buram, menutup dan membukanya dengan cara digeser, seperti kebanyakan pintu orang Jepang. Anjing-anjingnya kadang suka tidur di ruang tamu. Aku harus pelan-pelan membuka pintu agar tidak membuat si anjing bangun.

Aku yang batal wudunya, kemudian ke kamar mandi untuk wudu lagi. Aku kurang teliti, aku tidak rapat menutup pintu. Alhasil, aku yang sedang di kamar mandi, salah satu anjing Itu nyelonong masuk ke dalam kamar dan tidur dengan santainya di atas mukenaku. Ya Allah, ndongkol sangat hati ini. Terpaksa aku sholat hanya dengan menggunakan celana panjang, memakai kaos kaki, baju lengan panjang dan kerudung.

Setiap mau istirahat pun, aku selalu membersihkan tempat tidurku dan mengganti dengan seprei yang bersih.

*
Majikan menggajiku dengan gaji di bawah standar, tidak sesuai dengan yang tertera di kontrak kerja. Ini melanggar peraturan pemerintah Hong Kong. Aku pun dikasih libur hanya dua minggu sekali, seharusnya seminggu sekali. Hari libur nasional yang seharusnya aku libur pun ini tidak dikasih libur dan tidak pula menggantinya dengan uang.

Seharusnya kalau si pekerja tidak libur, majikan harus menggantinya dengan uang. Meskipun itu sebenarnya tidak boleh. Ini juga melanggar peraturan. Bagi yang melanggar bisa kena sanksi tegas.

Satu kontrak kerja lamanya dua tahun. Di bulan kelima belas, aku ada masalah dengan majikanku. Majikanku marah-marah karena aku telat memandikan anjing-anjingnya sehingga bulu-bulunya kotor dan sedikit bau dan salah satu dari anjingnya juga ada yang sakit, mencret.

Dalam kontrak kerja tidak tertulis kalau aku bekerja merawat anjing. Tetapi setelah sampai di sini, selain merawat anak-anak majikan, aku disuruh merawat anjing-anjing majikan.

Aku disuruh memandikan anjing-anjing majikan. Seminggu sekali dikeramasin kemudian dikeringkan bulunya dengan menggunakan hairdryer. Kuku-kukunya yang panjang juga harus dipotongin.

Betapa takut dan susahnya aku merayu si anjing untuk mandi. Kalau aku ngasih kode, menyuruh mereka mandi, mereka malah mengonggongku. Gigi-giginya yang panjang membuatku semakin ciut nyali.

Biasanya majikan laki-lakilah yang memandikan si anjing. Tetapi, kalau si majikan laki-laki telat pulang, majikan perempuan menyuruhku memandikannya, bagaimana pun itu caranya.

Hari itu hari minggu, aku di rumah, tidak libur. Setelah sarapan, majikan pun pergi. Aku di rumah dengan anak-anaknya.

Sekitar selang dua jam, tiba-tiba majikan pulang dan mendadak menyuruh aku untuk membereskan semua barang-barangku saat itu juga. Semua barang-barangku pun kumasukkan ke dalam tas warna biru.

Aku melihat majikanku marah. Aku bisa menebaknya, karena aku salah dan tidak benar merawat anjing-anjinya.

Aku diantar majikan ke agen, agen dimana dulu aku pernah di jemput majikan. Majikan memecatku secara tiba-tiba. Ini juga melanggar hukum. Seharusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Ini bukan semata-mata kesalahanku. Aku yang tidak pernah merawat dan berinteraksi dengan anjing. Di sini, aku mau tak mau harus merawat mereka dengan baik.

Majikan mengantarku begitu saja ke agen. Setelah berbincang-bincang dengan agen, dia pun pulang. Aku tidur di building milik agen, sambil mencari majikan baru. Di situ juga ada anak Indonesia yang sedang mencari majikan. Dari penampilannnya, dia seperti sudah ada pengalaman kerja di Hong Kong. Aku dan dia setiap hari di kantor agen membantu bersih-bersih sambil menunggu siapa tahu ada majikan yang cocok.

Bel pintu kantor agen berbunyi. Kubukakan pintu. Kupersilakan duduk. Ternyata dia seorang majikan yang sedang mencari pembantu.

Aku dan temanku dipanggil. Aku disuruh kerja di rumahnya. Aku dan temanku hanya nurut saja. Dan aku pun seperti biasanya, tidak boleh memegang paspor dan kontrak kerja milikku sendiri. Semua masih dibawa agen, hanya KTP Hong Kong yang aku bawa.

Aku dan temanku dibawa ke rumah majikan baru. Ini baru percobaan kerja. Aku belum menandatangani kontrak kerja apa pun.

Aku dan temanku naik mobil miliknya. Tidak sampai setengah jam, sampailah kami di rumahnya.
Di situ ternyata sudah ada tiga orang pembantu. Dua dari Filipina dan satunya lagi dari Cina. Ditambah aku dan temanku, jadi lima. Orang kaya, rumahnya aja mewah, tidak seperti rumah majikanku yang pertama.

Ternyata kerja di sini tidak jauh beda keadaannya dengan sewaktu aku kerja di majikan sebelumnya.
Katanya, di sini gajiku tetap sama, gaji di bawah standar. Tidak boleh salat, tidak boleh puasa, dan tidak boleh keluar untuk libur. Berarti kalau aku kerja di sini, selama dua tahun aku bakalan di rumah terus dan tidak dikasih libur.

Dua hari percobaan kerja membuku tidak nyaman. Rasanya seperti dipenjara saja, tidak bisa menghirup udara bersih di luar, setiap hari di dalam rumah.

Aku dari pagi tidak melihat temanku, padahal ini sudah siang. Aku bertanya kepada salah satu pembantu asal Filipina.Ternyata temanku sudah pergi, meninggalkan aku di rumah ini.

Dia pernah bilang, dia juga tidak nyaman bekerja di rumah ini. Dia bilang ke majikan, kemudian oleh majikan dia disuruh pergi diam-diam agar aku tidak mengetahuinya.

Aku semakin tidak nyaman saja. Aku pun ikut memberanikan diri untuk bilang ke majikan kalau aku tidak nyaman kerja di sini. Majikan pun marah. Kemudian dia mengantarkanku ke stasiun kereta bawah tanah menggunakan mobilnya.

Sesampainya di stasiun kereta bawah tanah dia bilang, “Kamu tunggu di sini, jangan pergi. Nanti ada orang yang menjemputmu!” kata majikan baru.

“Baik!” jawabku.

Dia pun berlalu meninggalkanku, aku sendirian. Aku terlihat bengong, lama menunggu si agen datang menjemputku. Lalu lalang orang berjalan di depanku tak ku hiraukan. Aku berdiri mematung di sudut tembok. Tiba-tiba aku punya ide konyol. “Apa aku kabur saja ya, mumpung orang dari agen belum datang menjemputku”! ucapku lirih.

Aku kemudian membuka tasku ambil buku catatan kecil. Kubuka, kucari kontak saudaraku.

“Ini kan hari libur, pasti saudaraku juga sedang libur!”ucapku.

Aku belum memiliki handphone. Aku berjalan mencari telepon umum. Aku menemukannya. [bersambung]

(Visited 48 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: