Guru hebat melahirkan anak didik hebat. Demikian kata bijak sering terdengar dalam hampir setiap seminar kependidikan. Karena itu proses peningkatan kualitas guru harus terus berjalan, walau di tengah gelombang pandemi sekali pun. Kapan guru berhenti berproses meningkatkan kualitas pembelajarannya, berarti alamat peradaban terhenti.

Menyadari guru memilki posisi sentral dalam pembangunan SDM daerah dan bangsa, Dinas Perpusatakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara terus menjabarkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di bidang pendidikan. Satu diantaranya adalah kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Dinas Perpustakaan menggelar acara seminar kependidikan bertajuk “Menata Pendidikan Sejak Usia Dini dalam Melahirkan Generasi Sukses.”

Acara ini berlangsung khikmat di aula kantor Perpustakaan Daerah Kolaka Utara Senin 29-3-2021 dengan menghadirkan narasumber tunggal bapak Hasbi Latef S.Pd,. M.Si Kabid PNF dan PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kolaka Utara. Di hadapan peserta guru-guru, sang narasumber dengan lihai memetakan isi buku 2I Hukum Kesuksesan Sejati. Menurutnya, materi 21 Hukun Kesuksesan Sejati ini penting di pahami oleh para guru sebagai bahan dasar dalam proses menjadi guru sekaligus inspirator bagi siswanya.

Sesuai dengan harapan, materi ini mendapat respon positif dari para peserta. Sebagaimana kata ibu Hajerawati, S.Pd,. M.Si guru salah satu SMA di Kolaka Utara, materi ini sangat berkesan dan menginspirasi. Dari 21 Hukum Kesuksesan Sejati yang diuraikan secara apik nara sumber, saya sangat terkesan dengan materi “Jadikan musuhmu sebagai konsultan pribadimu” yang menekankan bahwa tidak ada zona tanpa pembenci. Karena itu tinggal memilih mau menjadi emas atau menjadi debu. Kalau memilih menjadi debu silahkan ladeni musuhmu, tapi kalau mau menjadi emas jadikan musuhmu konsultan pribadimu. Is the best, siswa harus tahu bagaimana memperlakukan setiap pembenci kalau ingin sukses. Saya terkesan banget ini, jelas ibu Noniq panggilan akrabnya.

Hal yang sama disampaikan oleh ibu Rahma Rahmawati. Menurutnya kita terlalu sering mendengar nasehat jangan sia-siakan kesempatan, karena kesempatan hanya datang sekali. Ternyata kita salah, karena dalam buku 21 Hukum Kesuksesan Sejati, dijelaskan bahwa “kesempatan itu datang berkali-kali, yang sekali datang adalah ‘kesiapan’ kita ketika kesempatan itu datang.” Sudah berapa kali kesempatan itu datang akhirnya lewat karena ketidaksiapan kita menyambutnya. Salut dan super kepada materi yang disampaikan oleh narasumber, tutur ibu Rahma yang bersyukur karena sudah memiliki bukunya.

Peserta lain yang tidak kalah tersentuhnya dengan materi yang disanpaikan nara sumber adalah ibu Helina Adnan. Ada beberapa poin yang menyentuhnya. Pertama, hukum kesuksesan “memuliakan wakil Tuhan di bumi yaitu ibu”. Ridho Allah tergantung ridho orang tuamu. Data menunjukkan semua orang besar memuliakan kedua orang tuanya. Kedua, tubuhmu lebih duluan berbicara daripada bibirmu. Data menunjukkan, 60% kesan pertama orang dari gerak tubuh kita. Ketiga, milikilah kecerdasan mendengar, lalu bersiaplah menjadi orang sukses, jelasnya.

Dua peserta lain yang juga terkesan, yaitu ibu Andi Risna yang terinspirasi dengan narasi buku yang mengatakan “semakin sering ragu dan bingung, semakin kurang beruntung nasibnya dibandingkan dengan orang yang berani melangkah, walaupun di bawah tumitnya ada duri. Sementara ibu Mulyati terkesan dengan narasi racun paling mematikan masa depan adalah menunda waktu. Terorisma paling sadis bagi masa depan adalah kata nanti.  Pencuri paling licik bagi masa depan adalah hidup santai. Anak didik wajib tahu ini supaya tidak main-main dengan waktu, tuturnya penuh optimisme dengan buku 21 Hukum Kesuksesab Sejati di tangan. (Dika)

(Visited 13 times, 1 visits today)

By Admin

Admin Bengkel Narasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *