Namanya Rajab, namun di lidah orang kampung, dai yang kondang dengan ceramah-ceramah keras dan tak kenal takut ini disapa ustaz Rajjaq. Tak ada yang tak mengenalnya sekabupaten, minimal pernah mendengar nama serta rekaman-rekaman ceramahnya. Pada 14 ramadan tahun ini, Ustaz Rajjaq terjadwal ceramah tarawih di masjid Nurus Salihin. Pengurus masjid menyiapkan penyambutan yang meriah untuknya. Jamuan makan pasca tarawih nanti malam telah direncanakan secara matang. Remaja masjid menjadi pasukan keamanan yang akan menjaga kelancaran acara.

aaaaaaa

Rapat pemantapan digelar jelang buka puasa, untuk memastikan persiapan.

“Bagaimana soal makan malamnya, Bu Hajjah?” Pak Bandu, ketua pengurus bertanya ke seksi konsumsi, Hajjah Bondeng namanya.

“Insya Allah, sudah aman Pak, ada ayam nasu likku, tumpi-tumpi, sayur nangka gagapĂ©q, ada juga ikan pari tapa nasu santang.” Jelas perempuan paruh baya berbadan bongsor tersebut. Sesekali, gingsulnya yang bersepuh emas terlihat.

“Kalau perlengkapan dan keamanan, ada masalah, Nak Bahar?” Tanya Pak Bandu.

“Lancar, Pak Ketua. Listrik aman, genset cadangan sudah disiapkan, pengeras suara sudah disetel, tinggal dipakai.” Jawab Bahar sambil melirik sekondannya, Yusuf.

“Pokoknya, jamaah tinggal duduk manis dan mendengarkan ceramah.” Imbuh Yusuf.

aaaaa

Malamnya, jamaah membludak memenuhi masjid hingga ke pelataran, lupakan soal jaga jarak, yang penting bermasker, dan dapat berkah melihat langsung Ustaz Rajjaq.

“Jamaah, kita tak boleh takut pada siapapun dan apapun, selain Allah. Semua pasti akan mati.” Suara ustaz Rajjaq menggelegar.

“Pak Bupati, mati. Pak Camat, mati. Pak Desa…” Ustaz Rajjaq berhenti sejenak, melirik Kepala Desa yang matanya mendelik, “masih hidup.” Lanjut ustaz Rajjaq yang disambut ketawa riuh para jamaah.

“Tapi nanti akan mati….” Kembali ketawa jamaah meledak.

Tiba-tiba seluruh lampu dalam masjid, padam. Jamaah hening.

“Jamaah….. Oooo jamaaaaaah…..” Suara ustaz Rajjaq disambut hening.

“Jamaaaaaah…..”Ustaz Rajjaq memelas.

“Ada apa, Pak Ustaz?” Pak Bandu berinisiatif menyahut.

“Aku takut….” Suara ustaz Rajjaq bergetar.

“Pak ustaz takuuuuut….. Hahahahaha……” Kali ini, kegaduhan terdengar dari pelataran masjid, rupanya, remaja masjid sengaja mematikan aliran listrik.

(Visited 67 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

5 thoughts on “Keberanian Ustaz Rajjaq”
  1. Ketipu… Lucu.. Barusan Pak Kasman ini ngelawak. Kl dl selalu serius dgn cerita2nya… 🤗🤗

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.