Dalam sebuah perhelatan Pemilihan Walikota, Haji Sulaeman yang menjadi salah seorang kandidat, melakukan kampanye terbuka di perkampungan nelayan yang merupakan basis pemilihnya. Kebetulan kandidat yang karib disapa Aji Lemang oleh pendukungnya ini, adalah seorang juragan kapal nelayan. Dengan bermodalkan tabungan selama beberapa tahun mengelola bisnis perikanan, Aji Lemang percaya diri mencalonkan diri.

aaa

Sore itu, sebelum Aji Lemang tampil menyampaikan orasinya, massa yang berkumpul, dihibur oleh seorang artis dangdut nasional yang lumayan terkenal dengan suaranya yang merdu dan goyangannya yang aduhai. Perpaduan musik yang menghentak dan mendayu, memicu adrenalin warga untuk ikut bergoyang. Di balik panggung, Aji Lemang sementara konsultasi dengan asisten pribadinya.

“Jadi apa inti dari orasiku sebentar?” Tanya Aji Lemang.

“Tentang apa yang kita mau bangun di daerah ini, Bos.” Jawab si asisten.

“Apa itu?”

“Memodernisasi industri perikanan, dengan….”

“Cukup, saya sudah mengerti. Tapi kau harus di belakangku nanti, bisik saja kalau ada kulupa.”

aaa

Maka begitu dipersilakan, dengan mengenakan peci hitam yang menjadi ciri khasnya selama ini, Aji Lemang tampil merayu calon pemilihnya dari atas panggung. Begitu berapi-api, Aji Lemang  menyemburkan berbagai janji pembangunan dan iming-iming kesejahteraan apabila dirinya terpilih.

“Sodara-sodara, bila sodara memilih saya menjadi walikota, maka di kawasang ini akang saya bangung menjadi lebih modereng!” Ujarnya lantang, yang disambut riuh massa kampanye yang sebagian besar merupakan buruh nelayan di kapal-kapal penangkap ikannya.

“Mau bangun apa, Bos?” Tanya seorang warga.

“Indutri perikanang!” Tegas Aji Lemang.

“Kurang ‘s’, Bos.” Bisik si asisten yang setia di belakangnya.

“Kita biking pabrik es, juga!” Suara Aji Lemang menggema. Massa kian riuh, tapi asistennya malah kikuk.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

2 thoughts on “Membangun Pabrik Es”
  1. Lucu sekali.
    .Kl sodara memilih saya menjadi walikota ,dikawasang ini akang saya bangung menjadi lbh modereng. Indutri perikanang. Kurang S nya pak. Oh.. Pabrik es juga… 😂😂😆😆

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.