(Teruntuk : Ibuk, Kakak, Uun, Uni kami, Ibu. Desy Herawati, SE, Ak,, M.Si orang baik yang telah andil menuntun laku kami dalam bekerja).

*
Seuntai mawar meliuk-meliuk dihembus angin, menggebubung namun tak sampai-sampai di pucuk randu. Mengitari rimbun dedaunan pohon randu sembari menari dan bernyanyi rentak irama. Alunan kidungnya merdu, membuai kelana dipunggung gembalanya. Gema seruling saja seperti terkalahkan nyaringnya desiran mawar.

Memutar, terus dan terus mengitari batang randu. Sekejap berhenti menatap rerumput liar di stepa berimba. Mawar tertegun seperti ingin membebaskan stepa dari rumput berimba, helaian sarinya pasti mampu menyelimuti stepa dari bekunya bayu. Benang bergaris-garis dipunggung mawar laksana pagar yang akan mencagar stepa.

Mawar terus berputar, angin sepoi berbisik lembut ke pangkal telinganya “Aku akan membentengi mu dari buasnya topan dan ganasnya badai”. Mawar menatap mata angin, tapi tatapannya tidak memelas. Karena mawar percaya kebaikan akan menuntun citanya. Mawar merangkul batang tubuh angin atas niatnya baiknya sembari berucap lembut “Terima kasih atas zat-zat baik yang berani menuntunku” desirnya.

Mawar mulai menyemai, benih-benih kebaikan ditabur saban hari. Ranting-ranting yang bersilang sengketa dihardik agar menjauh. Tumpukan tanah karang yang diangkut semut hingga menggunung, dibungkam agar berhenti mematikan zuriah bunga.

Diujung akar beringin ada anggrek yang tak diasuh. Durinya tajam dan buas, merahnya menghitam, batangnya bercak-bercak memutih pudar. Mawar berlari keharibaan anggrek, dengan embun syurga mawar meneteskan harapan ke kelopak anggrek. Anggrek bergidik siuman, lengan-lengannya bergerak laksana menjangkau kehidupan, bulu remangnya bangkit dari lelap panjang.

Mawar bersorai menyemangati anggrek “Mari kita warnai stepa ini!” Anggrek lantang mengangguk membangkit tulang. Betis bunting padinya tergopoh bangkit menantang aral. Anggrek mengibas rambutnya, pertanda cahaya kehidupan dimulai kembali.

Mawar terus mengitari pangkal hingga ujung stepa. Rerumputan ditata rapi, berjejer berbaris tegap menghadang gundah yang selama ini membentang. Ranting berangkulan, berpegangan tangan menepis debu yang merusak pandang. Pohon-pohon muda membentang semangat sembari beretorika dengan kumbang jalang penghisap sari.

Senyum mawar melambai-melambai menyaksikan geliat penghuni belantara stepa. Wewangian mawar mengubik anggrek “Apa kabar hari ini?” merasuk mesra ke pati anggrek. “Ini adalah hari terbaik, bahkan teramat baik dari seribu tahun lampau” sedu anggrek menekan puas. Mawar memeluk kelopak anggrek dengan hangatnya, memeluk mimpi-mimpi yang kembali direkatnya.

Dikubangan lumpur terlihat gerombolan banteng sedang bertamasya. Dua depa dari gerombolan banteng, ada ranting ketapang berkejar guling-gulingan menikmati stepa. Beringan tua terlihat menghardik canda kawanan rusa belang kaki. Riuh kakinya menghentak bumi, mengusik telinga beringan yang sedang melamun “hei!! Jangan usik lelap ku!”. Mawar bereuforia dengan hatinya menyaksikan riang terbentang di sabana berimba.


Note :

Mawar adalah simbol yang selalu menjadi foto profil beliau;
-Tulisan ini penulis ramu bagi seorang Mentor terbaik yang telah mengajar rimbunnya ilmu;

Penulis juga menyelip gumpalan sajak sebagai pita terima kasih :

KELASA ILMU

.

.

.
Seikat almanak lalu,
Kami ditinggal orang-orang terbaik,
Orang-orang yang memaksa memacu gerik,
Orang-orang yang membentang semangat agar terpantik.

Perlahan,
Langkah itu tidak lagi merentak bersama,
Ayunan tangan serta merta tak lagi melenggang seirama.

Dari kebersamaan kami belajar,
Jika, mengaktualisasikan pekerjaan itu tidak sesederhana merumuskan perencanaan,
Ada seni dalam implementasinya,
Mencakup pengalaman menuju kematangannya,
Butuh zona apresiatif agar tuju terbuka.

Kami juga belajar,
Jika zona apresiatif tak selalu menjadi tandem terbaik dalam mengaktualisasikan potensi,
Terkadang, potensi nyaman bermain pada area depresiasi.

Hei Ibuk, Kakak, Uun, Uni Kami,
Yang telah sudi membentang kelasa ilmu,
Yang sudah menegaskan khalikah agar bergairah membopong tuju,


Kami ingin mengucap terima kasih,
Terima kasih atas dekapan pengetahuannya,
Terima kasih atas rangkulan kebersamaannya,
Terima kasih atas telunjuk arahannya,
Terima kasih atas kasihnya.
Tetaplah membahana dihunian pemikiran barunya. (je)

(Visited 86 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.