Oleh : Tammasse Balla
Di sebuah dusun yang jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang ayah menanamkan benih mimpi di dada putranya. Ia menatap wajah anaknya seperti seorang petani menatap pucuk muda padi yang baru merekah—penuh harap, penuh doa. “Nak,” katanya, “kelak engkau akan menjadi cahaya di mimbar ilmu, bukan sekadar bintang yang berpendar sesaat di langit biru.”
“Seorang ayah adalah benih mimpi yang ditanamkan pada ladang hati anaknya.”
Anak itu, dengan darah mudanya yang bergolak, mendengar kata-kata ayahnya seperti mendengar bahasa asing dari negeri jauh. “Dosen… Universitas Hasanuddin… Profesor…” Kata-kata itu bagai burung-burung asing yang hinggap di dahan ingatannya, belum ia kenali suaranya, belum ia pahami maknanya.
“Kata-kata orang tua sering tampak asing, namun kelak menjadi rumah tempat anak bernaung.”
Namun di hati anak itu juga ada bara lain: mimpi lapangan bulutangkis, sorak penonton, dan panggung dunia. Ia ingin terbang seperti Tjun Tjun, melayang seperti Christian Hadinata. Ia membayangkan All England sebagai surga yang bisa disentuh dengan raket di tangan kirinya.
“Masa muda selalu berlari mengejar sorak, sedangkan kebijaksanaan berjalan menuju sunyi.”
Ayah mendengarkan, tersenyum dengan mata yang dalam. “Indah mimpimu, Nak. Namun alangkah indahnya bila aku bisa melihatmu duduk di mimbar ilmu, mengajar manusia, mengalirkan pengetahuan seperti sungai yang tak pernah kering.” Kata-katanya lembut, tetapi bagai angin gunung yang mampu membelokkan arah layar kapal.
“Kasih seorang ayah bukan menolak mimpi anaknya, melainkan mengarahkannya pada jalan yang abadi.”
Anak itu akhirnya tunduk pada cinta yang tak terbantahkan. Ia memilih jalan ayahnya, jalan yang panjang, jalan yang tidak disoraki penonton, tetapi dihiasi buku-buku, ruang kuliah, dan mimpi yang lebih sunyi.
“Terkadang menyerah kepada cinta orang tua adalah kemenangan yang tertunda.”
Hari berganti, tahun berjalan. Dari sebuah kampung sederhana, ia menapaki tangga ilmu di Universitas Hasanuddin. Ia lulus, diwisuda sebagai yang terbaik. Hari itu, ayahnya berdiri di mimbar, mewakili semua orang tua, suaranya bergetar, matanya berbinar. “Itu anakku,” bisiknya dalam hati, “buah dari doa dan air mataku.”
“Air mata seorang ayah adalah tinta emas yang menulis kebanggaan di langit keluarganya.”
Sejak saat itu, anak yang dulu ingin mengejar All England, mulai mengukir sejarah lain: All England miliknya adalah ruang kuliah, di mana setiap mahasiswa adalah penonton, dan setiap kata yang ia ajarkan adalah pukulan smash menuju masa depan mereka.
“Lapangan ilmu lebih luas daripada lapangan permainan, dan setiap kata adalah pukulan menuju keabadian.”
Waktu bergulir seperti arus sungai yang tak mungkin ditahan. Puluhan tahun mengajar, meneliti, menulis, ia naik setapak demi setapak tangga ilmu. Kini, pintu yang dulu disebut asing—Profesor—sudah menunggu di hadapannya.
“Ilmu adalah tangga yang tak berujung, namun setiap langkah mendekatkan kita pada mimpi orang tua.”
Namun takdir, seperti malam yang datang tanpa janji, memutus benang harapan seorang ayah. Sang ayah, bersama ibu, telah dipanggil sebelum menyaksikan puncak gunung itu. Ia tak sempat melihat putranya berdiri di hadapan bangsa dengan gelar yang dulu ia impikan.
“Takdir adalah hujan yang turun di luar jadwal doa manusia.”
Seandainya roh ayah bisa duduk di sudut ruangan nanti, ia pasti akan tersenyum. “Nak,” katanya dalam bisikan gaib, “lihatlah, mimpi yang kutanam di dadamu kini berbuah. Meski mataku telah terpejam, jiwaku menari di antara bintang-bintang yang bersinar di pundakmu.”
“Kematian hanya menutup mata, bukan menutup mimpi yang diwariskan.”
Anak culun itu, kini menjelma seorang lelaki matang, menundukkan kepalanya dalam doa. Ia sadar, semua ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang mimpi seorang ayah yang hidup melampaui jasad. Mimpi yang menembus batas kubur, menjelma cahaya yang selalu mengiringi langkahnya.
“Anak adalah kitab tak selesai yang ditulis ayah hingga nafas terakhir.”
Ketika hari pelantikan itu tiba nanti, meski kursi ayah dan ibu sudah dipastikan kosong, ia tahu ruang itu tak pernah hampa. Ada roh yang bersemayam, ada doa yang bergetar, ada cinta yang abadi. Profesor hanyalah gelar; tetapi di baliknya, ada kisah seorang ayah yang berani bermimpi, dan seorang anak yang akhirnya menjadikannya nyata.
“Seorang anak yang berhasil bukanlah miliknya sendiri, ia adalah perpanjangan mimpi orang tua yang mendoakannnya tiap hari.” [HTB]
