Oleh: Tammasse Balla
Ada luka kecil yang diam-diam tumbuh bersemayam dalam diriku setiap kali berjumpa dengan orang asing yang berbicara bahasa Inggris seperti sedang berkumur-kumur air garam. Bunyi kata-katanya pecah di udara, meluncur tanpa bentuk, tanpa sudut, tanpa ruang untuk ditangkap telinga. Aku hanya bisa tersenyum samar, sementara di dalam dada ada rasa getir. Amat terasa betapa jauhnya jarakku dari bahasa yang konon menjadi jembatan dunia.
Bagi sebagian orang, bahasa Inggris hanyalah pelajaran sekolah, sekadar hafalan kata kerja beraturan dan tak beraturan. Bagiku, ia adalah musuh lama; musuh yang tidak pernah kuajak berkelahi, namun selalu menang. Setiap kali aku mencoba mendekat, ia seperti bergerak selangkah lebih jauh, meninggalkan jejak yang baru saja kupahami.
Aku sering merasa berada di ruang tengah, tidak tahu sepenuhnya, tetapi juga tidak bisa dikatakan tidak tahu, “nanggung”. Satu kata yang rasanya pas menggambarkan ketidakberdayaan yang tertawa pelan di belakangku. Bahasa itu berdiri di depan pintu, memanggil-manggil, tetapi ketika aku menghampiri, ia kembali menjadi kabut.
Di hadapan anak-anakku, aku pernah mengucapkan janji yang mungkin terdengar “gila” di telinga orang lain: “Jika seandainya di bumi ini sudah tidak ada lagi tempat untuk kursus bahasa Inggris, maka di bulan sekalipun akan kukirim kalian belajar.” Itu bukan ancaman, bukan pula gurauan. Itu adalah tekad seorang ayah yang ingin memutus mata rantai keminderan yang diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi.
Aku ingin anak-anakku menaklukkan bahasa yang dulu membuatku kecil di hadapan orang asing. Aku ingin mereka berjalan ke berbagai negara tanpa gugup, tanpa mengulang-ulang dalam kepala, tanpa harus menebak-nebak arti kata dari gerak bibir lawan bicara. Aku ingin mereka berbicara dengan dunia, bukan lagi menjadi tamu yang salah pintu.
Kursus bahasa Inggris di bulan mungkin terdengar seperti dongeng, tetapi dalam hatiku ia lebih nyata daripada banyak mimpi lain. Di sana, di tengah kawah sunyi dan langit gelap yang tidak pernah berlagu, aku membayangkan anak-anakku duduk serius, membuka buku, menyimpan cita-cita yang lebih terang dari sinar matahari yang memantul di permukaan bulan.
Belajar bahasa adalah belajar merendah. Kita mengakui diri belum cukup, belum mampu, belum selesai. Di balik kerendahan itu ada kekuatan, keberanian menantang keterbatasan sendiri. Bahasa Inggris mungkin pernah membuatku menunduk, tetapi anak-anakku harus berdiri tegak. Mereka harus berbicara, menulis, dan berpikir tanpa ketakutan yang dulu menghantuiku.
Setiap kali mereka malas membuka buku, aku ceritakan kembali pengalaman pahitku ketika bertemu orang asing yang “berkumur-kumur” dengan bahasa Inggris. Betapa aku berusaha menangkap maknanya, tetapi yang tertangkap justru rasa malu yang menempel seperti bayangan. Dari cerita itu aku ingin mereka belajar, bahwa rasa tidak nyaman hari ini bisa menjadi cahaya untuk berjalan lebih jauh besok.
Di bulan, atau di bumi, atau di mana pun kita berdiri: bahasa Inggris adalah pintu dunia. Aku tidak ingin anak-anakku mengetuknya dengan ragu seperti aku dulu. Aku ingin mereka membuka pintu itu dengan percaya diri, melangkah ke dalam, dan berkata pada dunia: “Kami datang untuk belajar, kami datang untuk berbicara, kami datang untuk menang.” Belajar bukan sekadar menambah ilmu; ia adalah cara paling elegan untuk membalas dendam pada masa lalu yang pernah membuat kita merasa kecil.
Manila, 23 November 2025
Pk. 07.46 WM [=WITA]
