Oleh: Ghinda Aprilia
Mungkin berbeda dari teman-teman PMI lainnya, di hari libur saya pemandangannya hanya dinding KJRI yang kebetulan Bank Mandiri berhadapan dengan gedung konsulat.
Bukan hal yang mudah, teman seperjuangan yang cemburu sosial ada juga. Ya masih teringat saat diusir-usir dari bawah gedung BCA, akhirnya pergi ke Bank Mandiri. Alhamdulillah orang-orangnya baik hati dan care.
“Teh buat apa sih kamu dibelain ngencleng dari pagi sampai malam?”
Saya dikagetkan suara dari belakang saya, ya itu pertanyaan dari bapak Sipakko Nainggolan, manager remittance Bank Mandiri cabang Keswick Hong Kong.
“Jujur pak, saya punya hutang 30 juta sama ponakan saya, tanah yang dibangun itu punya dia, dan saya mau menggantinya dengan membeli tanah tetangga seharga 30 juta.” Dalam hati kaget juga nih, tumben nanya begini.
“Kamu kenal ustadz Ghofur teh? Coba kamu kirim proposal, siapa tahu kamu layak dibantu.” Pak Sipakko dengan mimik antusias.
“Kapok pak, minta-minta bantuan, dulu aje boro-boro dapat, malah duit habis banyak untuk bikin proposal.” Saya menjawab dengan nada ketus dan jutek.
Alhamdulillah, hari sabtunya saya bertemu dengan Ibu Lugy, beliau nanya-nanya tentang sekolah yang kami bangun. Masih teringat jari-jari dia ngetik menghubungi pak ustadz Ghofur, sementara lisan dia fokus dengan pertanyaan-pertanyaannya kepada saya.
Hari minggu pagi, brosur ditunggu pak haji Iwan Setiawan yang kebetulan masih tetangga desa saya.Tidak perlu menunggu lama, tanpa tapi, tanpa nanti, setelah beberapa kali cek kebenarannya Al Bayan layak dibantu. Di saat saya ngencleng, saya selalu berdoa, biasanya saat kehujanan atau kedinginan.
“Yaa Rabb, dengan kuasa-Mu kirim manusia berhati Malaikat atau Malaikat yang menyerupai manusia, yang bisa membantu perjuangan ini.” Doa itu sering refleks saya lakukan, mungkinkah ini Allah kabulkan doa-doa saya?
“Teteh akan dibantu sebanyak Rp 500 000 000 dalam bentuk bangunan sekolah.” Itu chat yang saya terima dari bapak ustadz Abdul Ghofur selaku Manager Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation.
Untuk 3 Wc dibantu bapak ustadz Sukeri Abdillah, itu bisa digunakan, sebelumnya murid-murid Al Bayan BAB atau buang air kecil itu di tempat terbuka, di selokan kecil di depan sekolah.
Pengalaman unik ketika masuk RTV dengan kru Kolam Ikan shooting di Hong Kong. Dalam rubrik Buku Harian Muslimah. Saya yang rada grogi dengan kamera, tetapi berjalan dengan lancar, karena seolah-olah tidak shooting, pertanyaan-pertanyaannya juga seperti ngobrol biasa.
Semua berjalan dengan lancar, tinggal awal Januari rencana peresmiannya.
“Teteh bisa pulang saat peresmian?” Pesan masuk dari pak ustadz Ghofur.
“Bismillah pak, saya usahakan, semoga diizinkan majikan.”
Dengan harap-harap cemas, saya minta izin sama majikan, karena saya di situ belum lama. Alhamdulillah, saya diizinkan dengan ongkos sendiri.
Yang paling unik, pulang malam Sabtu jam 24.00 terbang subuh sampai bandara Soetta, langsung dijemput adik saya. Sampai di Bogor jam 07.30, acara dimulai jam 08.00.
Seperti mimpi, melihat gedung Al Bayan bertambah, dengan warna cat biru yang masih nampak baru. Saya masih terkesima ketika disuruh naik ke panggung tanpa persiapan, mata ngantuk badan lelah karena tidak tidur sama sekali.
Saya salut dengan para volunteer MAI yang sigap meladeni kami, kebetulan waktu itu hujan besar, tetapi tidak menyurutkan antusias kami untuk menyukseskan acara ini.
Masih dalam keadaan canggung dan benar-benar seperti dalam mimpi, saya disuruh ikut gunting pita.
“Apa benar saya dibantu, ataukah mimpi?”
Siang hari beres acara, dilanjut dengan milad Reisma yang kebetulan sebagai pengisi acara Abah Rahmat Syukur. Acara beres jam 24.00 nyaris saya gak bisa tidur, tidak ada kesempatan untuk kumpul dengan keluarga.
Siang hari saya sudah menuju bandara karena malam harus terbang lagi ke Hong Kong. Ya benar-benar seperti dalam mimpi, dengan diantar putri dan adik saya menuju bandara, saya terbang pukul 00.30 tiba di Hong Kong pagi hari, langsung aktivitas kerja seperti biasanya.
Walau lelah, tetapi puas bisa ikut menyaksikan peresmian gedung baru, bisa bertemu dengan orang-orang hebat tentunya. Pengalaman indah yang tak terlupakan, MI Al Bayan Mandiri hingga saat ini masih disupport MAI bukan cuma dalam hal pendidikan, juga pemberdayaan guru-gurunya, pemberdayaan masyarakat.
Informasi selengkapnya diabadikan oleh Bang Haji Razak dari Apakabar:
MI Al-Bayan: Berawal dari Hong Kong, Mimpi itu Mewujud di Kaki Gunung Salak
BOGOR – Pada hari Sabtu (3/9), Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation menyelenggarakan acara Doa Bersama Pembangunan Ruang Kelas MI Al-Bayan Mandiri yang berlokasi di kaki Gunung Salak, di daerah Cipatat, Pamijahan, Bogor, Jawa Barat. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Bayan merupakan sekolah yang turut dirintis oleh pekerja migran Indonesia (PMI) Hong Kong asal daerah itu, Ghinda Aprilia alias Fatimah. Untuk mendanai operasional sekolah, ia menggalang dana dari teman-temannya sesama PMI di Negeri Beton.
“Mari bersama-sama mewujudkan mimpi kita bersama. Mimpi ini berawal dari Hong Kong sampai ke Cipatat, Pamijahan, di kaki gunung Salak, Bogor,” pesan Ustadz Abdul Ghofur, pimpinan MAI Foundation, yang turut hadir di acara tersebut dalam rangka menandatangani kesepakatan kerja sama (MoU) dengan Yayasan Ibnu Khatib, pengelola sekolah MI Al-Bayan Mandiri. MoU itu sendiri menandai resminya pembangunan ruang kelas MI Al-Bayan.
Selain menjadi kontribusi bagi pendidikan Indonesia, Ustadz Ghofur berharap, pembangunan ruang kelas MI Al-Bayan juga berkontribusi menambah deretan sukses PMI dalam melakukan kerelawanan sosial di kampung halamannya. “Insyaallah, dalam peresmiannya kami akan mengundang Kementerian Agama dan Kementerian Tenaga Kerja, agar kita bersama-sama bisa melihat kerja nyata PMI yang mampu mandiri di rantau juga bisa mandiri di negeri sendiri,” ujarnya.
Ditargetkan, dalam 3 bulan ke depan pembangunan ruang kelas MI Al-Bayan kelar. “Semoga impian para siswa yang selama ini belajar di teras luar ruang kelas untuk memiliki ruang kelas dalam waktu dekat bisa terwujud,” kata Abung Sewaka, mewakili pengurus MAI Foundation, dalam sambutannya.
Pada kesempatan itu MAI Foundation memberikan kejutan untuk siswa dan siswi MI Al-Bayan, dengan menggelar lomba menulis bertema “Terus Sekolah”. Selain trofi, MAI Foundation memberikan sepeda sebagai hadiah utamanya. Spontan, kegembiraan pun menyeruak di acara doa bersama tersebut.
“Tidak lupa saya sampaikan, hal ini bisa terwujud juga berkat andil besar PMI Hong Kong bernama Ghinda (Fatimah). Kerja keras, kerja nyata, kerja ikhlas, dan pengorbanannya memberikan dampak besar bagi pendidikan Indonesia,” kata Abung.
Untuk pembangunan ruang kelas MI Al-Bayan, terkumpul donasi hampir Rp500 juta. Donasi diperoleh dari banyak pihak, termasuk dari internal Bank Mandiri dan sumbangan PMI Hong Kong.
Di tengah acara, siswa dan siswi secara spontan memberikan ucapan terima kasih yang sangat mendalam kepada para donatur. “Terima kasih telah membantu kami untuk terus sekolah,” kata Ustadz Ghofur kepada Apakabar Plus, menirukan ucapan mereka. [razak]
MI Al-Bayan, Sekolah Rintisan PMI Hong Kong: Kantongi Donasi Rp 500 Juta
JAKARTA – Ghinda Aprilia pantas senang dan patut berbangga hati. Sebab, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Bayan, sekolah yang berlokasi di kampung halaman pekerja migran Indonesia (PMI) Hong Kong itu di daerah Cipatat, Pamijahan, Bogor, dan turut dirintisnya serta hingga saat ini masih dibiayainya, dalam 3 bulan ke depan akan berdiri megah, sesuai yang ia impikan selama ini.
Sejak Mei 2016 silam, Badan Pengelola Zakat Infaq Shodaqoh (BPZIS) Mandiri menjadikan sekolah itu bagian dari program Wakaf Pendidikan lembaga amil zakat Bank Mandiri tersebut. Pada 11 Mei, BPZIS Mandiri pun melakukan peletakan batu pertama pembangunan sekolah yang saat ini hanya memiliki 2 ruang kelas. Hasilnya, hampir Rp 500 juta dana wakaf terkumpul untuk MI Al-Bayan.
“Fundraising (pengumpulan dana) untuk MI Al-Bayan, termasuk yang terkumpul dari (kalangan PMI) Hong Kong, mencapai hampir Rp 500 juta. Wakaf dan donasi juga diperoleh dari internal Bank mandiri, termasuk jajaran direksi,” kata Ustadz Abdul Hadi, salah satu perencana program BPZIS Mandiri, saat ditemui Apakabar Plus di kantornya di Jakarta, Jumat (26/8).
Tim BPZIS Mandiri sudah membangun pondasi bangunan MI Al-Bayan. Sekarang tim sedang menyelesaikan pembangunan tempat mandi, cuci, dan kakus (MCK), sambil menunggu peresmian maket oleh direksi Bank Mandiri.
Maket rencana pembangunan MI Al-Bayan sendiri terlihat megah. Maket itu dapat dilihat di pintu masuk masjid An-Nur di lantai dasar gedung Plaza Mandiri di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.
“Awalnya, peresmian maket oleh direksi direncanakan pada 31 Agustus 2016. Namun diundur, diperkirakan di bulan September,” ujar Ustadz Hadi.
Nantinya, MI Al-Bayan akan dibangun sebagaimana tergambar dalam maket yang terpampang. “Targetnya, dalam 3 bulan selesai,” ujarnya.
Untuk mengetahui informasi lengkap mengenai sekolah MI Al-Bayan, silakan klik link berita berikut ini: http://apakabaronline.com/akhirnya-allah-mendengar-doa-kami/ [Razak]
Terima kasih untuk orang-orang baik, yang telah mewujudkan impian saya, ikut mencerdaskan anak bangsa di kampung kami.
