Oleh: Devinarti Seixas

Model bangku tua yang dahulu kala dipakai disemua sekolah di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Saat ini makin modern terkadang kita memakai bangku model serba Eropa yakni segalanya harus pakai Spons.

Bangku tua ketika SD merupakan satu bangku yang terpasang langsung dengan satu meja yang tidak bisa kita pisahkan meskipun kadang kita dengan teman sejajar lagi marahan.

Terkadang kita saling dorong mendorong dengan teman-teman lain, tapi bangku tua dan meja itu nanti manyatukan lagi kita kembali, karena seemosi apa pun kita tak bisa pisahkan meja itu sebab kita dituntut tetap bersama.

Terkadang teman ada yang nakal akhirnya menyembunyikan penghapus atau kapur di laci meja yang tentu akan membuat dua murid yang duduk bersama saling menuduh satu sama lain, padahal sebenarnya bukan dua murid itu yang lakukan tapi karena kondisi bangku tua dengan meja itu tak bisa di pisahkan jadi mau saling marah hingga baku pukul pun pasti akan kembali lagi menempati bangku tua tersebut sambil memandang bukan tersenyum tapi sinis.

Terkadang kita jengkel ketika marah dengan teman yang duduk di sebelah kita dan rasanya ingin mengangkat bangku tersebut tapi rasanya berat jadi harus terpaksa merendahkan amarah karena kita pasti akan terus bersama hingga akhir tahun.

Cerita paling unik adalah ketika jam istrhat berakhir pasti kita saling marah gara-gara sembunyikan buku atau pulpen atau tas di balik laci meja yang akan membuat suasana kelas makin hiruk pikuk sebelum wali kelas tiba di sekolah.

Kita saling mengajar di sekeliling bangku tersebut, saling bersembunyi di balik bangku dan meja tapi akhirnya harus ketahuan karena kita tahu deretan & barisan bangku & meja.

Rahasia dari bangku dan meja tersebut adalah ketika semarah apa pun atau sebenci apa pun bangku & meja sekolah itu akan membuat kita pasti berdamai kembali di dalam kelas itu karena kita tidak bakalan merubah tempat itu. Namun, tempat itu yang akan merubah rasa marah kita menjadi reda dan rasa benci kita menjadi cinta.

(Visited 35 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.