Oleh: Tammasse Balla

Mesir adalah negeri yang hidup dari kenangan. Di bawah langit gurun yang jarang tersiram hujan, bangsa ini bertahan bukan karena hasil bumi, tapi karena hasil sejarah. Sepanjang mata memandang, tidak ada sawah, tidak ada ladang, tidak ada kebun yang hijau. Tanahnya kering, langitnya pelit, dan hujan hanyalah kisah yang diceritakan oleh para penyair. Namun, Mesir punya sesuatu yang lebih abadi dari butiran gandum, yaitu masa lalu.

Setiap tahun, jutaan orang datang bukan untuk membeli hasil panen, tapi untuk membeli pengalaman menatap keabadian. Mereka berbaris di depan Piramid Giza, menatap Sphinx yang bisu, tapi menatap balik dengan mata batu yang abadi. Mereka membeli tiket bukan untuk hiburan, melainkan untuk ziarah kepada sejarah manusia, tentang betapa tingginya peradaban yang pernah menantang langit, lalu ditelan waktu tanpa sisa.

Mesir “menjual” masa lalunya dengan harga yang pantas. Pada setiap museum, di setiap reruntuhan, di setiap potongan batu berhieroglif, ada devisa yang mengalir. Orang-orang datang membawa kamera, pulang membawa kekaguman. Bangsa ini, dengan tenang, menjual ingatan yang telah dikubur ribuan tahun lalu. Mereka menjual kebesaran nenek moyang yang sudah menjadi debu, namun masih mampu memberi makan anak cucunya.

Penulis hari ini berkesempatan menjejakkan kaki di tempat ini, berjalan di antara kios-kios yang menjual miniatur piramid, magnet kulkas berbentuk Sphinx, dan gulungan papirus buatan pabrik. Segalanya adalah imitasi dari kejayaan lama yang sudah padam. Di wajah para pedagang itu, ada cahaya sabar yang aneh. Mereka tahu, sekalipun tanah mereka tandus, sejarah mereka subur. Mereka menanam kenangan dan memanen kekaguman dunia.

Di negeri lain, masa lalu sering disembunyikan. Di Mesir, masa lalu justru dijajakan dengan bangga. Mummi Fir’aun yang dulu ditakuti, kini tidur di balik kaca museum, dijaga pendingin udara dan cahaya lembut lampu sorot. Orang-orang menatapnya dengan rasa ingin tahu, sebagian dengan kekaguman, sebagian dengan cemas. Betapa kuatnya ironi, raja yang dulu disembah kini menjadi tontonan, dan rakyat yang dulu diperintah kini hidup dari jasadnya.

Mesir tidak punya hasil bumi, tapi ia punya hasil renungan. Ia mengajarkan bahwa kemegahan tidak selalu hidup pada masa kini. Kadangkala kemegahan hanyalah batu tua yang tak lagi berbicara, tapi masih bisa menghidupi negeri. Dari reruntuhan itulah Mesir bertahan, sebuah bangsa yang berdiri di atas abu kejayaan dan menjadikannya sumber penghidupan.

Namun, di balik segala pesona sejarah, ada kesunyian yang panjang. Ketika malam turun di atas Kairo, dan lampu kota memantulkan cahaya ke Sungai Nil, terasa bahwa Mesir sebenarnya sedang berbisik: “Lihatlah, aku dulu pernah besar, tapi kini hanya penjaga museum peradabanku sendiri.” Mungkin inilah takdir negeri tua—untuk hidup dengan kebesaran masa lalu, sambil mencari arti masa depan yang belum juga kunjung datang.

Penulis merenung di tepi sungai Nil yang legendaris. Airnya tidak lagi jernih, tapi masih mengalir membawa kisah. Dari kejauhan, Sphinx tetap diam, seolah-olah mengawasi dunia yang terus berubah Penulis teringat kata seorang kawan asal Mesir, “Kami tak punya emas, tak punya ladang, tapi kami punya sejarah yang tidak bisa dicuri.” Kalimat itu menancap seperti pahatan di batu piramid, abadi dan getir.

Mesir “menjual” masa lalu bukan karena serakah, tapi karena itulah satu-satunya yang tersisa. Negeri ini tidak menjual debu, melainkan kebijaksanaan. Ia mengajarkan kepada dunia bahwa setiap kejayaan akan mati, tapi maknanya bisa tetap hidup jika dikenang. Di antara bayang-bayang piramid dan tatapan dingin Sphinx, Penulis belajar satu hal, bahwa manusia yang tak menghargai masa lalunya, suatu hari akan menjual masa depannya dengan harga yang lebih murah dari tiket museum.


Kairo, 6 November 2025
Pk. 19.05 Waktu Kairo [+6 WITA]

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.