Oleh: Fitriany Amir, S.Pd*
Biasanya hening di antara deretan rak buku yang kaku di gedung Perpustakaan Daerah Kolaka Utara. Namun Rabu, 24 April 2026, kesunyian terusir oleh riuh rendah tawa dan derap langkah yang membawa energi baru. Aula perpustakaan mendadak berganti wajah, ruangan yang biasanya tenang kini tampak lebih berseri menyambut kedatangan puluhan siswi SMA Negeri 1 Lasusua yang membawa semangat muda mereka ke dalam rumah ilmu ini.
Acara yang digelar pagi itu adalah implementasi program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Kabupaten Kolaka Utara, dengan mengusung tema “Literasi yang Menginspirasi: Meneladani Kartini sebagai Penggerak Literasi”. Pertemuan penuh kehangatan ini menegaskan posisi perpustakaan bukan lagi sekadar gudang buku yang dingin, melainkan sebuah ruang publik inklusif. Inilah tempat di mana literasi tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca di dalam hati, tetapi dipraktikkan secara nyata untuk meningkatkan kreativitas dan kecerdasan generasi muda.
Acara yang berlangsung khidmat ini dikelola secara apik melalui kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara bersama komunitas Pena Anak Indonesia. Acara ini lebih istimewa dengan kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara, Bapak Murni Baso, S.Pd. SD., dan Kepala SMA Negeri 1 Lasusua, Bapak Paulus Frangky Faut, S.Pd. dengan narasumber ibu Rosmawati Koordinator Pena Anak Indonesia Kolaka Utara, sekaligus pegiat literasi di kantor dinas perpustakaan. Hal ini menjadi bukti kuat adanya sinergi lintas sektor dalam menjaga nyala literasi di Bumi Patampanua.

Dalam sambutannya yang menggugah, Bapak Murni Baso, S.Pd SD. menekankan, “Perpustakaan harus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang aktif. Kolaborasi ini memposisikan perpustakaan sebagai ruang inklusi bagi pelajar untuk bertumbuh.” Senada dengan hal tersebut, Bapak Paulus Frangky Faut, S.Pd. menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian penting dari penguatan literasi sekolah. Pihak sekolah berharap atmosfer perpustakaan yang dinamis ini dapat memacu semangat membaca dan menulis para siswi agar lebih kompetitif di masa depan.
Sementara itu ibu Rosmawati memperkenalkan konsep dalam meningkatkan budaya baca dikalangan siswa. Menurutnya untuk menumbuhkan minat baca siswa, tidak lagi memakai paradigma lama dengan menyuruh anak-anak membaca, tetapi dengan meminta anak-anak menulis. Ini menjadi penting, karena dengan membaca belum tentu menulis, tetapi dengan menulis sudah pasti membaca.
Menurut penulis buku “Ensiklopedia Sang Penggerak” ini, pada momen hari Kartini harus digelorakan perempuan harus melek literasi untuk tampil ke permukaan. Jika pada zamannya Ibu Kartini menjadikan pena dan buku sebagai senjata untuk melawan kebodohan, maka Kartini-Kartini hari ini, khususnya siswi SMA Negeri 1 Lasusua, harus menjadikan tulisan dan suara mereka sebagai jalan untuk membuka cakrawala. Menyuarakan gagasan, dan menebar manfaat bagi sesama. Inilah semangat yang ditanamkan Pena Anak Indonesia.
Komunitas ini merupakan perpanjangan tangan dari cita-cita luhur Founder Bengkel Narasi Indonesia, Ruslan Ismail Mage. Beliau selalu menularkan kalimat inspiratif: “Mari jadikan perpustakaan sebagai rumah jiwa bagi kita semua. Sebab, jika ada kepingan surga yang jatuh dari langit, maka salah satunya itu adalah perpustakaan.” Karena itu, jika anak-anak ingin menulis, Pena Anak Indonesia adalah wadah terbaik untuk melakukan aktivitas menulis. Siswa akan diajarkan bagaimana menulis sambil memeluk kemanusiaan, menulis sambil berbagi, menulis sambil menginspirasi.
Nuansa baru dari acara ini adalah siswa diminta menulis kesannya selama mengikuti acara. Semua tulisan yang terkumpul akan dinilai untuk dibina menjadi penulis di Pena Anak Indonesia. Targetnya seluruh siswa bisa menjadi PR (Publik Relation) untuk menyuarakan keindahan dan potensi alam daerahnya melalui tulisan.
Pada akhir acara, perwakilan peserta menyampaikan betapa kegiatan ini memberi warna baru dalam cara mereka memandang fungsi perpustakaan. Mereka mengaku kini merasa lebih percaya diri untuk mulai menulis dan berharap aula perpustakaan ini terus menjadi tempat mereka berkumpul untuk menciptakan narasi-narasi baru. Pesan kuat yang tertinggal adalah bahwa perpustakaan telah berhasil menjalankan fungsinya sebagai pusat kegiatan yang menghidupkan mimpi dan harapan lahirnya penulis-penulis muda Kolaka Utara, sebagaimana visi Bengkel Narasi Indonesia. Terimakasih Perpustakaan Daerah Kolaka Utara, yang telah menggagas wisata buku untuk siswa.
*BNsiana dan penggiat literasi Kolaka Utara
