Oleh: Gugun Gunardi*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa illaha ilallahu Allahu Akbar…
Allahu Akbar Walillah hilham…

Bersahut-sahut suara itu menggema di seantero Indonesia, menggetarkan sukma, menutup suara gemuruh ombak di pantai, mengisi dada muslimin-muslimat, mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, serta teringat akan Sang Pembawa Risalah.

Malam ini, tak ada lagi sholat tarawih berjamaah. Selepas Sholat Isa, semua berkumpul mengumandangkan takbir bersama hingga menjelang hari besar, hari raya Idul Fitri.

Tak sedikit dari para peserta, bertakbir seraya berlinang air mata. Karena gembira bercampur haru, telah terlaksana menunaikan kewajiban puasa lahir dan batin selama sebulan.

Malam ini, mungkin dirasakan bagai malam terindah selama setahun perjalanan hidup. Dilengkapi dengan melaksanakan sebulan berpuasa, dan menunggu kehadiran indahnya seribu bulan untuk menghampiri dengan ber’itikap, berzikir, membaca qur’an, melepas segala kegiatan di malam hari, berharap Sang Lailatul Qadar datang. Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Meski hanya sepercik menetes ke tubuhku, itu sangat membahagiakan dan membakar rohaniku untuk semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Derai air mata terus menerus mengiringi takbir itu, terucap lewat bibir yang bergetar bersama getaran yang terasa di dada. Karena rasa syukur masih diberi waktu di Ramadan tahun ini dan beri kesehatan yang nyaris lepas dari hidupku. Masih diberi umur yang melewati usia Junjunganku, Rasulullah, pikiran dan hati yang normal untuk mengingat-Mu, diiberi normal alat ucapku untuk mengumandangkan kebesaran-kebesaran-Mu, serta masih berucap salam untuk Junjunganku.

Tak pelak, apa yang aku rasakan pasti dirasakan juga oleh saudara-saudara Muslimku lewat perjalanan religi di bulan Ramadan ini. Pasti tertanam di dalam nurani kaum muslim dan muslimat akan kasih sayang-Mu Yang Maha Agung. Jadi benar adanya risalah yang dibawa Junjunganku.

Yaa Sang Penguasa Alam Semesta, aku sangat malu menyampaikan permohonan lewat doa-doaku. Namun, lewat Rasulmu yang risalahnya sampai padaku, aku diajarkan untuk selalu berharap yang terbaik dari-Mu lewat doa-doaku.

Jika diizinkan untuk menyampaikan permohonanku, dari makhluk-Mu yang bergelimang dosa ini, berilah waktu aku bisa bertemu dengan Bulan Ramadan tahun yang dkan Datang, agar aku bisa menambal sulam kekuranganku di bulan Ramadan tahun ini. Agar aku dapat lagi menunggu Malam Seribu Bulan, agar aku bisa mendapatkan percikan cahayanya meski hanya setitik.

Yaa Yang Maha Pencipta, mohon maafkanlah ketidaksopananku, telah berani memohon kepada-Mu. Padahal aku sadar, aku bergelimang dosa. Tapi harapan akan Kasih Sayang-Mu selalu ada di dalam hati nuraniku. Oleh sebab itulah, kusampaikan permohonanku ini, meskipun aku sangat malu kepada-Mu. Namun rasa cintaku pada-Mu melebihi dari segalanya, karena aku sangat yakin akan Kasih Sayang-Mu.

Tetapi, jika kehendak-Mu tidak sesuai dengan permohonanku, aku ikhlas menerima yang terbaik yang akan diberikan oleh Sang Penentu Segalanya, Ya Alloh.

Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar…
Laillaha ilallaohu Allahu Akbar..
Allahu Akbar Walilla hilham…

*Dr. Gugun Gunardi, M.Hum. Dosen tetap Fak. Sastra Univ. Al Ghifari Bandung.

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.