Oleh: Andi Satia

Engkau adalah sebuah pena yang berirama, menari meliuk-liuk mengikuti rangkaian kata demi kata, sebagai pelengkap pada sebuah narasi untuk dijadikan cerita yang bermakna, terkandung motivasi di dalamnya. Pena adalah cinta dan bunga rinduku yang telah bersemayam di sukmaku, membuat hari -hariku jadi berwarna.

Tinta pena asmara telah melesat meluncur bagai anak panah, menembus dinding kalbuku untuk merenda hidupku jadi berarti. Sebuah pena kecil membuat hidupku jadi berselingkuh, membawa aku melambung hingga mencapai klimaks berkali -kali. Sungguh benda kecil yang benar-benar sangat dahsyat dan luar biasa. Sekali jatuh cinta padanya, seumur hidup akan selalu digenggam untuk bergandengan tangan mengukir sebuah cerita.

Ada torehan untaian kalimat dari tinta pena Bang RIM yang sangat dahsyat,bahwa silakan terbang setinggi -tingginya meraih bintang di atas sana, tapi jangan pernah lupa menitip hatinya di bumi, agar selalu dirindukan oleh makhluk bumi, itu tak dapat dipungkiri hasil dari perselingkuhan pena oleh Bang RIM.

Sungguh aku benar-benar melupakan waktu dalam perselingkuhan penaku ini. Dia selalu setia menemani hari-hariku, menghiburku di kala aku sedih, dan mampu menghilangkan segala duka laraku. Saat ini dia adalah dambaanku. Dia mampu mengerti segala keresahan hatiku, dan selalu setia mengiringi langkah-langkah narasiku.

Pena asmaraku mampu mengajakku mengembara di alam hayal . Dia tak pernah membiarkan diriku larut dalam kesendirian. Dia dapat mengerti apa yang aku pikirkan. Dengan setianya menuntun jari jemariku merangkai kata demi kata lewat simphoni kedamaian hati,terukir indah pada selembar kertas berbingkai kesucian, mengajak hati untuk berdamai pada jiwa-jiwa yang ada di sekelilingnya .

Jujur aku tak bisa jauh darinya. Hidupku jadi lumpuh tanpanya. Di setiap langkahku dia selalu ada bersamaku. Kini duniaku dipenuhi oleh bayang -bayangnya. Sehari tak menyentuhnya, rasa rindu itu mengekang jiwaku. Aku benar -benar terperangkap dalam perselingkuhan pena ini,tapi aku menikmati semuanya. Aku dapat menuangkan imajinasiku lewat ujung tinta pena asmaranya.

Aku telah menyandarkan lamunanku dalam buaian tinta sejatinya. Sejak perselingkuhan ini terjadi, puluhan torehan narasi dari ujung penanya lahir dalam bentuk cerita pendek dan puisi, menggelora di hati pembacanya. Jiwaku benar- benar puas dengan perselingkuhan ini. Dia tidak akan pernah kulepas. Segala angan dan hayalku menjadi nyata dalam bingkai cerita yang pasti .
Terima kasih penaku. Kau telah memberi napas baru dalam hidupku. Engkau akan selalu bergandengan mesra denganku.

Kolaka utara, 22 juni 2022

BY: ASTIA HILMI
(Visited 3.976 times, 42 visits today)
5 thoughts on “Terperangkap Dalam Perselingkuhan di Ujung Pena”
  1. Setiap membaca karya2 pung satia, serasa emosi terbawa kedalam keindahan rangkaian kata-katanya. Keren pung

  2. Setiap kali aku membaca karya-karya indah ini selalu ada hasrat yang menggelora didalam hati 🤭ingin membaca lagi dan lagi🤭semangat berkarya puang😍😍🤣

  3. Waaoh sangat mengharukan kata katanya
    Meresap disanubari dg bingkaian kata2 manja i ❤ pg bunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: