Kisah Cinta Graz & Art -1
Hari itu tak ku duga menjadi hari yang mampu mengubah cara pandangku (Art). Tepatnya bulan Mey 2021 aku yang lagi dilema terus saja mencari arti kehidupan. Tak sadarkan diri fokus…
Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi.
Hari itu tak ku duga menjadi hari yang mampu mengubah cara pandangku (Art). Tepatnya bulan Mey 2021 aku yang lagi dilema terus saja mencari arti kehidupan. Tak sadarkan diri fokus…
" Baik anak ku, berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah"
"Cinta, adalah ikatan bathin sepasang nyawa. Dia akan selalu ada walau tak bersua, hari ini aku pergi menggapai cita, bersabar sajalah"
Di subuh yang jauh sebelum siang, seonggok kulit keriput sedang menengadah diatas sajadahnya, telakung usang seperti bercahaya akan doa-doanya.
Malam sudah larut dari carut-marut jalangnya siang, namun matanya semakin menganga. Jingga menghela tubuhnya ke bangku bacaannya, diraihnya buku bercover merah kelam, "MARDILOG"nya Tan Malaka
Sepatah katapun tak menetes dari bibir perempuan kuning langsat, hanya lesung pipitnya terangkat sebelah dan berlalu membenamkan permohonan maaf Jingga.
Baik, Dia adalah JINGGA, tapi bukan Jingga Si Penyulam Raya. Dia adalah sebatang tubuh muda perangkul cinta. Mudanya tak pernah gontai, pesonanya meletup-letup keubun para peri negeri belingkar.